Diberdayakan oleh Blogger.

Pengaruh


posted by rahmatullah on

No comments



Diusia yang menginjak 34 tahun ini, saya baru terpikirkan apa itu pengaruh. Pemikiran itu hadir tiba-tiba saat duduk bersila melingkar menghadiri ngariung/ tasyakuran aqiqah kelahiran cucu Pak RW. Bapak-bapak yang hadir dalam ngariung seumur dengan almarhum Bapak saya atau sedikit dibawah. Bagi bapak-bapak yang dulu kenal Pak haji (sebutan Almarhum Bapak) mendudukan saya dalam posisi segan, ngobrol hal-hal formal, menjaga betul sikap. Sedangkan bagi bapak-bapak warga pendatang yang duduk disamping saya terkesan acuh tak acuh, karena memang belum sempat bertemu kenal dengan Pak Haji.  Disaat itulah saya memaknai apa itu pengaruh, rupanya Bapak-bapak mendudukan saya dalam posisi segan karena masih merasakan pengaruh Pak Haji, dan Bapak-bapak yang acuh karena memang menilai saya bukan siapa-siapa bagi mereka. Seperti biasa diakhir ngariung dibagikan ‘nasi berkat’  untuk dibawa pulang. Sesampai dirumah orang suruhan Pak RW kembali mengantarkan 2 buah ‘nasi berkat’ bilangnya untuk Bu Haji.

Ngariung menggugah kesadaran saya tentang apa itu pengaruh. Jikalau mengingat Almarhum Bapak, saat ada dan tiada, ‘Pengaruh’ beliau dimata tetangga masih tetap ada. Disisi lain saya kian sadar keberadaan saya dalam bertetangga belum bisa memberikan pengaruh apapun, segannya tetangga sama sekali bukan karena saya melainkan karena Pak Haji. Entahlah jikalau Bapak-Bapak seangkatan Pak Haji sudah tak ada, mungkin saya hanya menjadi buih. Karena saya sadari bertetangganya saya saat ini hanya saat Shalat subuh di mushala, saat sempat hadir ngariung, sepenuhnya waktu sibuk mengejar dunia.

Ini hal lain, tapi terkait juga dengan ‘pengaruh’. Saya menyenangi mensholatkan jenazah, jika ada kesempatan takziah, saya upayakan hadir hingga selesai mensolatkan. Kenapa? Karena disitulah kita bisa merasakan hakikat ‘pengaruh’. Saat seseorang meninggal disitulah sejatinya terukur pengaruh seseorang, ada orang yang memiliki pengaruh hanya pada saat dia punya jabatan/ kedudukan, ada orang yang memiliki pengaruh karena orang lain takut, dan ada yang memang pengaruh hadir akibat amal sosialnya. Jika pengaruh akibat urusan formal, maka yang hadir hanyalah aneka karangan bunga dan ungkapan duka cita di medsos, namun jika pengaruh disebabkan amal sosial, maka tanpa diminta, dari penjuru manapun, tak putus siapapun hadir mendoakan, menyolatkan, hingga mengantarkan ke liang lahat. Aura pengaruh sulit kita ungkapkan tapi bisa kita rasakan saat momen sesorang meninggalkan haribaan.

Lantas apa ‘pengaruh’ kita? Mungkin detik ini, ada dan tiadanya kita tidak memberikan arti apapun, hanya sesosok pemandu sorak. Mari kita perbaiki, selagi hayat masih dikandung badan. Entah kelak kita meninggal apakah ada yang kelak mentakziahi kita, entah siapa dan berapa orang yang menyolatkan kita. Karena sesungguhnya mereka akan hadir akibat amal sosial kita.***
Gambar: http://rukun-islam.com/cara-mengerjakan-shalat-jenazah/

Leave a Reply

Sketsa