Pagi di Pandeglang datang tanpa tergesa-gesa. Jalan masih lengang, toko-toko membuka pintu perlahan, dan udara seperti memberi jeda sebelum hari dimulai. Ketika malam turun, banyak sudut kota kembali sunyi lebih cepat. Pandeglang seolah menawarkan sesuatu yang kini dicari banyak orang di kota besar: hidup lambat, sederhana, dan jauh dari kebisingan.
Utrecht pun memiliki wajah serupa. Pagi menyentuh kanal-kanal tua dengan tenang. Sepeda bergerak teratur dan rumah tetap menjadi ruang penting bagi keluarga. Pada malam hari, warga pulang untuk menikmati waktu tanpa merasa harus terus bekerja. Utrecht tidak selalu tampak sibuk, tetapi di balik ketenangannya terdapat sistem yang bergerak rapi.
Di sinilah kemiripan keduanya berubah menjadi ironi. Utrecht berjalan pelan karena masyarakatnya telah memiliki banyak hal yang membuat hidup tidak perlu dijalani dengan terburu-buru. Pandeglang berjalan pelan karena terlalu banyak hal yang belum tersedia untuk membuat masyarakatnya bergerak lebih jauh.
Slow living di Utrecht adalah hasil kemajuan. Ia tumbuh dari pendidikan yang baik, pekerjaan produktif, transportasi tertata, dan pelayanan publik yang dapat diandalkan. Utrecht Monitor menggambarkan kota itu memiliki ekonomi kuat, partisipasi sosial tinggi, serta mayoritas penduduk yang merasa sehat dan puas. Utrecht bukan tanpa masalah, tetapi persoalannya diukur dan diperlakukan sebagai pekerjaan publik.
Warga Utrecht dapat pulang tepat waktu bukan karena tidak ada pekerjaan, melainkan karena pekerjaan memiliki batas. Mereka dapat berlibur karena penghasilan, cuti, dan layanan publik memberi ruang untuk berhenti sejenak. Waktu luang bukan sisa ketidakberdayaan, tetapi buah produktivitas. Ketenangan menjadi pilihan setelah kebutuhan dasar relatif terpenuhi.
Pandeglang menghadirkan cerita berbeda. Kesunyian pagi tidak selalu berarti masyarakat sedang menikmati kehidupan berkualitas. Jalan yang sepi dapat menandakan terbatasnya aktivitas ekonomi. Malam yang cepat padam dapat mencerminkan rendahnya daya beli, minimnya ruang publik, dan sedikitnya kegiatan produktif. Banyak warga hidup sederhana bukan sepenuhnya karena memilih kesederhanaan, melainkan karena pilihan yang tersedia memang terbatas.
Hidup lambat karena pilihan tidak sama dengan hidup lambat karena keterbatasan. Orang yang memiliki pekerjaan layak, pendidikan baik, layanan kesehatan, rumah nyaman, dan tabungan dapat memilih menenangkan ritme hidupnya. Namun, bagi warga yang kesulitan memperoleh pekerjaan, pendidikan, transportasi, atau pendapatan, kelambatan hidup bukan gaya hidup. Ia adalah akibat dari ruang gerak yang sempit.
Pandeglang sebenarnya bergerak. BPS mencatat Indeks Pembangunan Manusia Pandeglang meningkat menjadi 71,84 pada 2025, dari 70,88 setahun sebelumnya. Kemajuan itu patut dihargai, tetapi kenaikan angka tidak boleh membuat kita cepat merasa selesai. Pertanyaan terpenting ialah apakah geraknya cukup cepat untuk mempersempit jarak dengan daerah yang lebih maju.
Pandeglang bukan daerah tanpa potensi. Ia memiliki pertanian, perkebunan, laut, kawasan wisata, tradisi, dan masyarakat yang tangguh. Namun, potensi yang terus disebut tanpa diolah hanya menjadi bahasa seremonial. Keindahan alam tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Pantai yang indah tidak otomatis menjadikan masyarakat pesisir pelaku utama pariwisata. Potensi baru berarti ketika pendidikan, infrastruktur, pasar, teknologi, dan kepemimpinan mengubahnya menjadi kesempatan.
Pendidikan menjadi cermin paling jujur. Ketika mutu dan jangkauannya belum merata, masa depan anak-anak menyempit sejak awal. Mereka harus bersaing di dunia yang ditentukan oleh pengetahuan, teknologi, kemampuan membaca informasi, dan kecakapan beradaptasi. Pendidikan yang tertinggal bukan hanya persoalan ruang kelas, tetapi persoalan martabat dan masa depan daerah.
Kemiskinan bukan sekadar angka. Di baliknya terdapat keluarga yang menunda kebutuhan, anak yang berhenti sekolah, petani yang menerima harga rendah, dan pencari kerja yang pergi karena tidak menemukan masa depan di tanah kelahirannya. Ketertinggalan hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang terpaksa diambil setiap hari. Ia hadir dalam cita-cita yang diturunkan, kebutuhan yang ditunda, dan masa depan yang akhirnya dicari di tempat lain.
Utrecht menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus membuat kota menjadi bising. Jalan tidak harus macet agar ekonomi tumbuh. Gedung tidak harus menjulang agar pendidikan maju. Warga tidak harus bekerja hingga larut untuk membuktikan produktivitas. Kemajuan terlihat ketika masyarakat dapat bekerja secara layak, bergerak dengan mudah, memperoleh pelayanan tanpa dipersulit, dan tetap memiliki waktu untuk keluarga.
Pandeglang tidak perlu menjadi Utrecht. Ia tidak perlu meniru kanal, arsitektur, atau gaya hidup Eropa. Pandeglang hanya perlu belajar bahwa ketenangan yang bermartabat harus dibangun di atas kesempatan. Daerah ini dapat tetap hijau, tetapi sekolahnya harus bermutu. Desa dapat tetap tenang, tetapi harus terhubung dengan pasar dan teknologi. Warganya dapat pulang lebih awal, tetapi karena pekerjaan telah selesai dan penghasilannya cukup, bukan karena tidak ada lagi pekerjaan.
Kemajuan juga tidak harus menghilangkan sawah, menyingkirkan tradisi, atau mengubah seluruh wilayah menjadi kawasan industri. Kemajuan justru seharusnya membuat petani memperoleh harga yang lebih adil, nelayan memiliki akses pasar yang lebih luas, pelaku usaha kecil bertumbuh, dan anak-anak muda tidak terpaksa meninggalkan daerahnya hanya untuk menemukan pekerjaan. Modernitas tidak selalu hadir dalam bentuk gedung tinggi. Ia dapat hadir dalam sekolah yang baik, internet yang merata, jalan yang layak, pelayanan kesehatan yang dekat, dan pemerintahan yang benar-benar bekerja.
Kekuasaan seharusnya tidak hanya menjaga agar keadaan tetap berjalan, melainkan membuka jalan agar masyarakat mampu melampaui keadaan hari ini. Pemimpin yang dibutuhkan bukan sekadar penjaga ketenangan, tetapi penggerak yang berani mengubah keterpencilan menjadi keterhubungan, potensi menjadi kesejahteraan, dan keterbatasan menjadi peluang. Mengejar ketertinggalan bukan berarti kehilangan jati diri, melainkan memastikan setiap anak Pandeglang memiliki hak untuk bermimpi, belajar, bekerja, dan hidup layak.
Pada akhirnya, Pandeglang dan Utrecht sama-sama dapat terlihat sunyi pada pagi dan malam hari. Namun, Utrecht sunyi karena sistemnya bekerja, sedangkan Pandeglang masih terlalu sering sunyi karena kesempatan belum tumbuh. Utrecht melambat setelah maju. Pandeglang belum boleh merasa nyaman dengan kelambatan sebelum bergerak lebih jauh.
Slow living seharusnya menjadi puncak kemajuan, bukan nama lain bagi stagnasi. Ia semestinya lahir ketika masyarakat telah memiliki pilihan, bukan ketika pilihan itu belum tersedia. Ketenangan seharusnya menjadi kemewahan yang dinikmati setelah kesejahteraan tercapai, bukan selimut yang digunakan untuk menutupi ketertinggalan.
Mungkin suatu hari nanti, pagi yang sunyi di Pandeglang tidak lagi dibaca sebagai tanda ketiadaan kegiatan. Jalan yang lengang tidak lagi menandakan sempitnya kesempatan, dan malam yang cepat tenang tidak lagi mencerminkan rendahnya daya hidup sebuah daerah. Kesunyian itu akan menjadi tanda bahwa masyarakatnya telah bekerja dengan baik, hidup dengan cukup, merasa aman, dan masih memiliki waktu untuk keluarga.
Pada saat itulah Pandeglang tidak perlu menjadi Utrecht. Pandeglang telah menemukan caranya sendiri untuk maju tanpa kehilangan ketenangan, tumbuh tanpa meninggalkan akar, dan menjadi makmur tanpa harus berubah menjadi kota yang bising. Sebab tujuan kemajuan bukanlah membuat kehidupan bergerak semakin cepat, melainkan memastikan setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan ke mana hidupnya akan bergerak.