Diberdayakan oleh Blogger.

Asta Cita: Saat Arah Negara Menjadi Milik Rakyat


posted by rahmatullah on

No comments




Asta Cita adalah delapan misi strategis pembangunan nasional Indonesia periode 2025–2029. Istilah ini berakar dari bahasa Sanskerta: asta berarti delapan, dan cita bermakna pikiran, kesadaran, atau niat batin. Dari maknanya saja, Asta Cita sesungguhnya sudah memberi pesan penting: pembangunan bukan hanya soal proyek dan angka, tetapi tentang arah pikiran bersama sebagai sebuah bangsa. Ia adalah pernyataan kehendak kolektif—tentang Indonesia seperti apa yang ingin kita bangun.

Dalam praktiknya, banyak visi negara gagal bukan karena keliru dirumuskan, melainkan karena tidak pernah benar-benar dimiliki oleh rakyatnya. Visi berhenti sebagai milik pemerintah, bukan menjadi milik bangsa. Asta Cita menghadapi risiko yang sama jika ia hanya dipahami sebagai agenda birokrasi. Padahal, agar Indonesia benar-benar bergerak menuju Indonesia Emas 2045, Asta Cita harus berubah dari dokumen negara menjadi gerakan sosial kebangsaan.
 
Delapan misi Asta Cita sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Ketika negara berbicara tentang penguatan Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia, yang dimaksud bukan sekadar norma konstitusi, tetapi pengalaman keadilan yang dirasakan rakyat. Tentang apakah hukum melindungi yang lemah, apakah perbedaan dihormati, dan apakah negara hadir tanpa diskriminasi.
 
Ketika Asta Cita menekankan kemandirian pangan, energi, dan ekonomi, itu bukan jargon makroekonomi. Itu adalah cerita tentang petani yang tidak lagi terjebak kemiskinan, nelayan yang berdaulat di lautnya sendiri, pelaku UMKM yang mampu naik kelas, dan generasi muda yang memiliki pekerjaan bermartabat di negerinya sendiri. Kemandirian nasional selalu berawal dari kemandirian warga.
 
Pembangunan infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja sering dipersepsikan sebagai urusan teknis negara. Padahal, maknanya jauh lebih manusiawi. Infrastruktur adalah alat keadilan. Jalan yang baik membuka akses pendidikan dan kesehatan. Transportasi yang terjangkau memperluas kesempatan kerja. Lapangan kerja yang berkualitas memberi rasa aman dan harga diri. Tanpa dimensi ini, pembangunan hanya akan melahirkan pertumbuhan tanpa kesejahteraan.
 
Asta Cita juga memberi penekanan besar pada penguatan sumber daya manusia. Ini adalah pengakuan jujur bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekayaan alam semata, melainkan oleh kualitas manusianya. Pendidikan, kesehatan, sains, dan teknologi bukan sekadar sektor anggaran, tetapi investasi peradaban. Bangsa besar selalu lahir dari manusia yang sehat, terdidik, berkarakter, dan percaya diri.
 
Agenda hilirisasi dan industrialisasi dalam Asta Cita pun harus dibaca secara membumi. Ia berbicara tentang bagaimana nilai tambah diciptakan di dalam negeri, bagaimana industri nasional menyerap tenaga kerja lokal, dan bagaimana kekayaan alam tidak lagi meninggalkan kemiskinan di daerah asalnya. Negara-negara maju tidak menjadi besar dengan menjual bahan mentah; mereka besar karena mengolah, mencipta, dan menguasai teknologi.
 
Asta Cita kemudian menegaskan pentingnya membangun dari desa dan dari bawah. Ini adalah pengakuan bahwa ketimpangan tidak bisa diselesaikan dari pusat kekuasaan saja. Desa bukan beban, melainkan fondasi. Ketika desa kuat, kota tidak rapuh. Ketika ekonomi rakyat bergerak, ketahanan nasional menguat. Di sinilah pembangunan menemukan makna sosialnya.
 
Namun tidak ada visi besar yang bisa berjalan tanpa tata kelola yang bersih. Reformasi politik, hukum, dan birokrasi serta pemberantasan korupsi adalah jantung dari seluruh Asta Cita. Korupsi bukan hanya mencuri uang negara, tetapi mencuri masa depan. Reformasi birokrasi bukan sekadar menyederhanakan prosedur, melainkan mengubah relasi negara dan warga: dari kekuasaan menjadi pelayanan.
 
Pada titik inilah Asta Cita harus dipahami sebagai kontrak moral bersama. Negara menetapkan arah, tetapi rakyat memberi daya dorong. Tanpa partisipasi publik, pengawasan sosial, dan kesadaran bersama, Asta Cita akan kehilangan rohnya. Sebaliknya, ketika rakyat merasa memiliki tujuan yang sama, kebijakan akan mendapat legitimasi sosial yang kuat.

Asta Cita juga perlu ditempatkan dalam national narrative Indonesia. Bangsa-bangsa besar selalu memiliki cerita besar tentang dirinya. Amerika dengan American Dream, Jepang dengan Fukoku Kyohei, Korea Selatan dengan Han River Miracle, dan Tiongkok dengan Chinese Dream. Cerita-cerita ini bekerja sebagai energi kolektif yang membentuk etos kerja, disiplin, dan rasa percaya diri nasional.
 
Indonesia pun memiliki ceritanya sendiri: Indonesia Emas 2045. Sebuah visi tentang bangsa yang berdaulat, maju, adil, dan makmur pada usia 100 tahun kemerdekaan. Asta Cita adalah tahap awal yang konkret menuju cerita besar itu. Ia tidak menjanjikan hasil instan, tetapi menunjukkan arah yang harus dijaga bersama.
 
Menjadi bangsa besar bukan soal meniru negara maju, melainkan membangun kekuatan dari identitas sendiri. Asta Cita memberi ruang bagi itu: pembangunan ekonomi yang berpihak, demokrasi yang beradab, keberagaman yang dirawat, dan kemajuan yang tidak meninggalkan siapa pun.
 
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan apakah Asta Cita sudah dirumuskan dengan baik, melainkan apakah ia sungguh-sungguh dipahami dan diperjuangkan bersama. Jika Asta Cita hanya hidup di dokumen negara, ia akan cepat dilupakan. Tetapi jika ia hidup dalam kesadaran publik, dalam percakapan sehari-hari, dan dalam pilihan-pilihan kolektif bangsa, maka Indonesia tidak sekadar bercita-cita menjadi bangsa besar.
 
Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah. Asta Cita memberi peta jalan. Rakyat memberi langkah. Ketika keduanya berjalan seiring, Indonesia bukan hanya akan setara dengan bangsa maju di dunia—tetapi berdiri dengan martabatnya sendiri.

Leave a Reply

Sketsa