Diberdayakan oleh Blogger.

Banten dan Brain Power


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Membahas banten adalah berbicara transformasi. Transformasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan perubahan rupa (bentuk, sifat, dan fungsi). Terlepas dari dinamika politik dan hukum yang terjadi, perubahan utama Banten adalah status dan kedudukannya menjadi sebuah provinsi. Banten dulu dan kini tetaplah memesona sebagai wilayah yang bergelimang anugerah Tuhan, sehingga siapapun memandang Banten dalam segala aspeknya, akan menilai layaknya menjadi wilayah paling makmur di Indonesia karena tidak ada yang menandingi posisi strategisnya, potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya.
Jika membahas terkait keunggulan wilayah, maka tidak ada provinsi di Indonesia yang memiliki dua objek vital perhubungan, yakni terminal Pelabuhan Merak dan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Setidaknya hubungan lokal, nasional dan internasional dalam segala aspek, bertumpu pada pelabuhan dan bandara yang berada di Provinsi Banten, namun apakah dengan kedua sarana tersebut hanya sekedar akses atau ada nilai lebih (value added) yang bisa dimanfaatkan oleh Provinsi Banten.
Sama halnya pada aspek ekonomi, terdapat kawasan industri kimia, mineral, sandang, otomotif, perdagangan, kuliner, serta jasa yang tumbuh dan berkembang di Provinsi Banten. Namun demikian apakah keberadaan aneka industri hanya mensejahterakan penanam modal dan menempatkan masyarakat lokal sebagai buruh tanpa ada proses transfer knowledge, sehingga dampak pembangunan baru pada pertumbuhan belum pada peningkatan kesejahteraan.
Dalam hal pariwisata, Banten selayaknya mampu menyaingi Bali, dimana wilayahnya dikelilingi pantai mulai dari utara hingga selatan, dari Anyer hingga Sawarna. Bahkan Banten menjadi objek pembangunan kawasan parisiwata skala internasional melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. Segala potensi yang ada merupakan berkah tersendiri bagi Banten, ditambah warisan sejarah kesultanan dengan perniagaan, diplomasi, serta teknologi pertanian dan pengairannya, selain itu keberadaan Gunung Krakatau yang menjadi objek riset kegunungapian kelas dunia, idealnya bisa memberikan dampak pada pembangunan Banten.
Jika mengkaji kondisi pendidikan di Banten, idealnya dengan jumlah perguruan tinggi yang ada, baik negeri maupun swasta didukung oleh kemajuan pendidikan dasar dan menengah di Banten Utara, bisa memacu tumbuhnya manusia-manusia handal yang dapat memajukan Banten. Keberadaan Univeritas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanudin, seyogyanya tidak sekedar menjalankan proses pengajaran melainkan melalui pengabdian masyarakatnya mampu mengangkat kualitas dan derajat manusia Banten.
Berbicara kondisi kemiskinan di Banten, antara wilayah utara dengan selatan terdapat disparitas yang tinggi. Hal tersebut seiring dengan letak kawasan industri, perdagangan dan jasa yang tersebar di utara Banten dan kawasan pertanian di selatan. Disamping itu angka pengangguran di Banten terkategorikan tinggi di Indonesia, menjadi ironi ditengah banyaknya kawasan industri dan pusat-pusat pertumbuhan baru. Artinya banyaknya industri di Banten seakan mengakomodasi pencari kerja dari luar yang lebih siap dengan kompetisi bermodal kompetensi yang dimiliki, dan secara otomatis tenaga lokal hanya terserap menjadi buruh kasar.
A.     Tantangan
Meminjam pernyataan Stan Shih, CEO Acer Group dalam bukunya Mee Too Is Not My Style, bahwa kemampuan sebuah negara untuk bersaing tidak muncul begitu saja. Dimasa lalu sebuah negara bisa menjadi kaya hanya dengan mengandalkan sumber daya alam, dewasa ini negara yang ingin maju harus menciptakan kekayaan melaui akumulasi teknologi tinggi, manajemen, dan sistem integrasi sekaligus. Yang disebut ’jangka panjang’ dalam perspektif sejarah akan menjadi semakin pendek, dimasa lalu jatuh bangunnya suatu negara dihitung berdasarkan satu siklus ratusan tahun. Sekarang setiap satu atau dua dekade akan menghasilkan sebuah pergantian. Karena itu pengembangan brain power yang efektif di sebuah negara akan menentukan kemakmuran negara tersebut di masa yang akan datang. Pernyatan tersebut merupakan jawaban mengapa negara seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, hingga Malaysia, kini  bisa begitu jauh meninggalkan Indonesia. Hal ini dikarenakan paradigma yang dibangun negara-negara tersebut adalah peningkatan mutu human resources, dan semaksimal mungkin memutus ketergantungan terhadap sumber daya alam.
Wacana mengenai pengembangan brain power bukan hanya hari ini melainkan dirancang 15 bahkan 20 tahun yang lalu oleh negara-negara berperadaban baru di Asia. Mudah mengukurnya, pada tahun 1998 hampir semua negara asia bahkan sebagian di dunia terkena badai resesi ekonomi. Ibaratnya pada tahun 1998 baik Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan berada pada titik nol, melakukan re-start di waktu yang sama, namun apa yang terjadi 17 tahun kemudian atau hari ini? Mereka jauh meninggalkan Indonesia dalam segala aspek pembangunan dan kemakmuran.
Membaca banten sama dengan membaca Indonesia, andai saja 15 Tahun berdirinya Provinsi Banten fokus pada brain power, tentunya kita sedang menuai keberhasilan pembangunan yang digawangi para cerdik cendekia, baik dalam aspek pemerintahan, politik, ekonomi, hukum, sosial, dan teknologi yang dijalankan berdasarkan etos dan etik, sehingga Banten bentul-betul berperadaban mengimplementasikan nilai-nilai iman dan takwa. Namun rupanya 15 Tahun berdiri Provinsi Banten belum fokus pada pengembangan mutu manusia, baru sebatas euforia perubahan status dari bagian Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi mandiri, belum memantapkan pondasi pada pengembangan manusia yang handal hingga melahirkan aparatur-aparatur yang tulus membangun Banten.
Selain pemerintah, kampuslah yang turut bertanggungjawab dalam pengembangan brain power, tidak melalu melakukan pengajaran, memproduksi sarjana-sarjana pencari kerja, melainkan dalam konteks pengabdian secara informal meningkatkan mutu masyarakat.
Mengapa brain power, karena kualitas manusialah yang bisa melewati tantangan zaman, bukan malah tergilas. Terkait isu primordial atau putra daerah yang senantiasa ditiupkan, dalam perbincangan dengan Manager HRD perusahaan terkemuka di Kota Cilegon, menyampaikan bahwa perusahaan memprioritaskan putra Banten untuk diterima bekerja, namun selalu tersisih dalam tes Bahasa Inggris, TPA dan aplikasi teknologi, sedangkan perusahaan berbasis teknologi, tidak mungkin memasukan mereka yang tidak memiliki kompetensi, disisi lain isu yang muncul seolah perusahaan tidak memprioritaskan putra daerah. Gambaran diatas merupakan tamparan baik kepada individu yang tidak memiliki kompetensi maupun sistem dalam hal ini pemerintah maupun institusi pendidikan, yang lalai dalam membekali keahlian.
Sudah menjadi kemutlakan jika Banten dengan poros strategisnya baik dari arah laut, darat dan udara ditambah land bank menjadi kawasan strategis jangka panjang, akan menjadi menjadi santapan lezat siapapun yang berhasil memenangkan kompetisi sesuai kompetensi yang dimiliki. Apakah warga Banten tetap berpangku tangan menghadapi MEA disaat rakyat Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam, setiap hari berkumur mempelajari Bahasa Indonesia untuk melakukan ekspansi bekerja di Indonesia khususnya di Provinsi Banten. Mereka memiliki orientasi mengejar posisi midle dan top level expert karena sudah tidak bisa bersaing dinegaranya sekaligus ingin meningkatkan derajatnya dari pekerja kasar menjadi tenaga ahli di Indonesia, ditengah terbuka luasnya peluang kerja.
B.     Diaspora Orang Banten
Apakah Banten tidak memiliki sumber daya manusia handal? kurang pantas jika pertanyaan tersebut diajukan, karena dalam perjalanan sejarah hingga kini, dari era kesultanan hingga era digital, orang Banten senantiasa diperhitungkan. Namun pada umumnya kesuksesan masyarakat Banten baru pada taraf individu, mampu membangun dan mengharumkan daerah lain, akibat kurang mendapatkan tempat dikampung halamannya sendiri.
Saat ini sangat populer istilah diaspora, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diaspora adalah tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar diberbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara. Agak sulit mencari padanan kata diaspora dalam level tercerai berainya SDM Banten di daerah lain bahkan negara lain, dalam aneka bidang pekerjaan profesional mereka. Tidak jarang kita terkesima saat berkenalan dengan pakar atau tokoh yang rupanya berkampung halaman di Banten, namun mereka sudah pudar ‘rasa kebantenannya’. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, salah satu gejala umumnya adalah karena merasa sukses yang mereka raih merupakan jalan pribadi yang tidak didukung oleh kultur maupun struktur yang ada di Banten, sehingga enggan bagi mereka untuk pulang.
Hal yang patut ditekankan disini apakah kita membiarkan diaspora Banten terus menerus terjadi? Apakah kita tidak bangga ketika emblem Provinsi Banten dikenakan oleh Maria Felicia Gunawan yang membawa baki bendera merah putih saat pengibaran di istana negara?, apakah kita tidak bangga ketika setiap tahun MAN Insan Cendikia selalu meraih peringkat satu peraihan NEM tertinggi di Indonesia?, Apakah kemudian tunas-tunas tersebut akan kita rawat mewarisi kebantenan sehingga mau membangun tanah kelahirannya?. Memungkinkan terjadi bibit-bibit yang kemudian tumbuh besar dan berbuah kembali di luar Banten, bahkan diluar negeri karena berdiaspora. Persoalannya adalah siapa yang paling giat merawat dan berkontribusi menumbuhkan meraka tentu meraka akan kembali kepadanya.
Simpulan dari uraian diatas hanyalah satu yakni brain power, bagaimana merawat dan mengharagainya. Tidak ada istilah terlambat, sesungguhnya kata kunci dari kesuksesan pembangunan adalah pada pendidikan. Mudah saja jika ingin Banten berakselerasi mengejar ketertinggalan dari daerah lain, yakni membuka kesempatan seluas-luasnya kepada putra daerah berpotensi untuk melanjutkan pendidikan S2, S3 di perguruan tinggi terbaik di Indonesia, lalu dibuat MoU agar mereka terikat melaksanakan pembangunan Banten jangka panjang. Kelak ketika mereka menjadi pejabat dan pekerja profesional, akan bersungguh-sungguh membangun Banten dengan berpikir global dan bertindak lokal.
C.      Proyeksi
Secara formal Banten mendatang sudah terproyeksikan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Banten 2005-2025. Visinya adalah “Dengan iman dan takwa menjadi provinsi terkemuka di bidang agribisnis, kemaritiman, pariwisata, perdagangan dan industri berwawasan lingkungan dengan berbasis sumber daya manusia yang handal dan agamis menuju Banten maju dan sejahtera”.
Dalam sekenario tahapan pembangunan jangka panjang, tahun ini masuk dalam pembangunan Tahap III, yakni pembangunan bertumpu pada; (a) optimalisasi pemanfaatan sumber daya daerah (ekonomi, sosial, budaya, SDA) dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, (b) pengembangan 5 (lima) core business Banten, yaitu agribisnis, pariwisata, kemaritiman, perdagangan, dan industri berwawasan lingkungan, (c) Pengembangan pola kemitraan regional, (d) Melanjutkan pelaksanaan proyek-proyek skala besar dan pemberdayaan masyarakat, (e) terwujudnya sinergi antara pembangunan pelabuhan bojonegara dengan aktivitas ekonomi tersebar, (f) sumber daya manusia banten memiliki daya saing pasar global.
Sedangkan dalam tujuan penataan ruang wilayah Provinsi Banten tahun 2010-2030 adalah “Mewujudkan ruang wilayah Banten sebagai pintu gerbang simpul penyebaran primer nasional-internasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Tahun ini sudah masuk kedalam sekenario jangka menengah (Tahun 2010-2019), meliputi: (1) terbangunnya pusat penyebaran primer pelabuhan hubungan internasional Bojonegara yang didikung dengan berfungsinya kawasan-kawasan strategis provinsi dan jaringan jalan cincin Provinsi Banten, (2) terselenggaranya interaksi infrastruktur jaringan transportasi (jalan dan kereta api) di wilayah Banten yang nyaman sesuai ketentuan teknis, dan terhubung dengan sistem jaringan prasarana wilayah Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan simpul transportasi antar moda di kawasan perkotaan fungsi PKN (Serang, Cilegon, Tangerang) dengan simpul-simpul di kawasan pendukungnya, serta Bandara Panimbang melalui pembangunan jalan bebas hambatan (tol), (3) terbentuknya pola ruang wilayah melalui pengembangan kawasan pertanian, industri, perkebunan, pertambangan, pariwisata, permukiman, secara produktif melalui pemberdayaan masyarakat di perkotaan dan perdesaan, (4) terbentuknya sinergitas interaksi ekonomi ekonomi wilayah hulu dan hilir pada pusat-pusat pertumbuhan dengan pemasaran regional dan nasional melalui sistem jaringan transportasi wilayah dan nasional, (5) tertatanya kawasan lahan pangan berkelanjutan dan meningkatnya fungsi kawasan lindung.
Dari deskripsi diatas, jelas terlihat bahwa Banten sudah memiliki perencanaan jangka pendek, menengah maupun panjang termasuk peruntukan wilayah. Perencanaan merupakan gagasan ideal yang harus beririsan dengan kondisi riil sesuai dengan kemampuan keuangan dan kapasitas pelaksananya. Hal penting yang harus diberikan porsi lebih adalah terkait dinamika politik, hukum dan fokus pemerintah pusat selaku pemegang kebijakan tertinggi dalam menentukan prioritas nasional.
Letak Banten yang strategis selaku penyangga Ibu Kota negara menjadi peluang sekaligus ancaman. Hal tersebut terlihat ketika pemerintah pusat mencanangkan pembangunan pelabuhan internasional Bojonegara sebagai pelabuhan peti kemas terbesar di Indonesia, yang kemudian Pemrov Banten secara serius merespon dengan menuangkannya kedalam RPJPD, namun pada akhirnya dialihkan menjadi pelabuhan curah kering. Kondisi tersebut merupakan contoh dari dinamika politik yang terjadi pada pemerintah pusat yang berdampak pada perencanaan Provinsi Banten. Peristiwa selanjutnya adalah kemungkinan besar gagalnya pembangunan proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) akibat perubahan orientasi pemerintah baru Jokowi yang fokus bidang maritim dengan mengintegrasikan antar pulau melalui program tol laut. Belum lagi dinamika politik lokal, yakni pemilihan gubernur, bupati/ walikota, dimana masing-masing memiliki visi kampanye yang belum tentu sejalan dengan visi RPJPD.
Meskipun perubahan orientasi dan fokus pemerintah pusat terjadi, namun Banten akan tetap menjadi prioritas nasional dalam pengembangan kawasan baik untuk industri, kemaritiman, agribisnis, maupun perdagangan. Namun patut menjadi fokus perhatian akankah masyarakat Banten menjadi tamu di rumahnya sendiri? Ketika infrastruktur dibangun, kawasan dikembangkan, industri diperluas, pertanian diintensifkan, hal utama terkait penguatan SDM Banten agar fasilitas-fasilitas yang tersedia betul-betul dinikmati dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Banten. Kembali harus menjadi kesadaran kolektif bahwa letak strategis dan SDA melimpah tidak menjamin kemakmuran, tanpa disipakan manusianya.
D.     Harapan
Terkadang terlontar asa karena posisi strategis Banten adalah anugerah, jikapun masyarakat tetap berpangku tangan, Banten akan tetap bertransformasi karena memang letaknya yang strategis, dan sumber daya alamnya yang melimpah. Namun demikian apakah yakin masyarakat Banten tetap bertahan dalam zona nyaman? Tentunya situasi zona nyaman akan tergilas oleh perubahan dan tuntutan zaman, jika memang tidak beranjak, maka warga Banten hanya akan menjadi buruh tani penggarap dibekas lahan miliknya.
Hal yang Banten perlukan adalah tidak semata-mata pembangunan, melainkan pemerataan. Kesalahan kita dalam mendefinisakan pembangunan adalah mengidentikannya dengan infrastruktur, padahal menurut Prof. Tanzilu Ndraha bahwa pembangunan meliputi perubahan anatomik (bentuk), fisiologik (kehidupan), dan behavioral (perilaku). Hal yang disayangkan, orientasi pembangunan pemerintah baru pada aspek fisik semata, belum menyentuh pembangunan perilaku.
 Berapapun anggaran pembangunan infrastruktur digelontorkan oleh pemerintah Banten, tidak akan berkelanjutan jika tidak didukung oleh perubahan perilaku masyarakat dan aparatnya. Jika berkaca pada negara-negara peradaban baru seperti Singapura, Korea Selatan dan Jepang, saat ini mereka sedang menuai kemakmuran karena pondasi pembangunan behavior-nya telah berhasil, mentalitas aparat dan rakyatnya sudah baik, sehingga apapun yang dilakukan pemerintah secara tulus didukung dan dirawat oleh masyarakat. Maka jangan heran jika tidak ada infrastrukur yang awet di Banten dikarenakan tidak turut ‘rasa merawat’ baik pada rakyat maupun aparat.
Banten merupakan rumah kita bersama, segalanya belum terlambat dan konsolidasi perlu segera dilakukan khususnya dalam aspek brain power. Biarlah generasi pendiri Banten menikmati Banten kini dengan segala kelebihan dan kekurangannya, namun yang terpenting dilakukan adalah merwat tunas-tunas potensial yang kelak akan membangun, menjaga dan mencintai Banten dengan sepenuh hati. Cukup saat ini saja putra terbaik Banten tercerai berai mewarnai kemajuan di daerah lain. Karena kita yakin bahwa Banten berkemajuan adalah ketika kita menyiapkan sumber daya handal berintegritas untuk masa mendatang.***

Sketsa