Diberdayakan oleh Blogger.

Ruang Publik dan Kebahagiaan


posted by rahmat rahmatullah

No comments

Tiga hari ini saya diberikan kesempatan untuk mempelajari Kota Makassar, membandingkannya dengan Kota Serang Provinsi Banten didanai oleh negara. Dan tulisan ini saya sajikan sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai pengguna anggaran negara.

Hari ini barulah hari pertama, dan sesingkat pandangan mata bisa didapatkan aneka informasi. Tentunya bukan bandingan yang pas jika Kota Serang dibandingkan dengan Kota Makassar. Kota Makassar adalah Kota Dewasa yang layak dibandingkan dengan Medan Sumut, Bandung Jabar, dan Surabaya Jatim. Kesamaan dengan Kota Serang hanyalah sebagai sesama Ibu Kota Provinsi. 

Satu hal yang menarik adalah menganai ruang pubik, saya yakin siapapun yang ke Makassar akan ke Losari, Masjid Terapung Amirul Mukminin. Mungkin ini yang disebut Water Front City, bibir pantai sepanjang sekitar 2 Km ditata begitu apik dijadikan sebagai ruang publik, menjadi landmark Kota Makassar dan juga Landmark Provinsi Sulawesi Selatan. Sepintas saya lihat sangat sederhana, hanya sekedar taman memanjang tempat masyarakat tanpa kelas berkumpul, memandang laut, langit dan taman disertai aneka ornamen penanda khas sebuah wilayah seperti rumah adat, patung penari, kerbau sulawesi, patung perahu pinishi, tapi menjadi magnet berkunjungnya wisatawan dan masyarakat setempat.

Sepanjang pengamatan selepas subuh banyak yang memanfaatkan Losari sebagai sarana olah raga, siang dengan aktivitas kunjungan wisata dengan hidupnya juga ekonomi rakyat, sore hingga malam menjadi surga berkumpul anak muda yang tentunya menghidupkan perekonomian penjual penganan makanan Pisang Epe, batu akik dan aneka souvenir. Inilah yang disebut ruang publik ruang rakyat, dimana masyarakat tanpa kelas bisa berkumpul dalam satu tempat, bisa beraktivitas sesuai motif masing-masing, tanpa harus membayar.

Bagi Kota-kota lain yang akan berkembang, tentunya harus merubah orientasi PAD yang menjual ruang-ruang kepada investor untuk menjadikan ruko dan mal, yang memang berimplikasi pada pendapatan wilayah karena adanya transaksi. Melainkan juga berorientasi pada penyediaan ruang publik sebagai rung rakyat, ruang dimana rakyat bisa hidup ekonominya, bisa beraktifitas dengan gratis dan berimplikasi pada indeks kebahagiaan. Karena indeks kebahagiaan suatu masyarakat salah satunya ditentukan oleha adanya ruang publik.***

Sketsa