Diberdayakan oleh Blogger.

KITA, MUSLIM YANG SEDANG DIBELAH


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Apalah kita saat ini, begitu sibuk menikmati arus besar dalam perbincangan pepesan kosong, saling membicarakan, bergibah, hingga fitnah dengan begitu brutal. Waktu produktif serta energi kita habiskan dengan status, komentar dan share berita yang belum tentu kebenarannya. Saya pribadi kian hari kian muak membuka media sosial, khususnya facebook, jika punya kuasa saya minta Mark Zuckerberg untuk menutupnya hingga Pilkada DKI tuntas, karena menjadi salah satu pemicu ketegangan di Indonesia.

Entahlah apa maunya kita, Apakah Ahok ditetapkan tersangka menista agama?, Ahok diberhentikan dalam kontestasi Pilkada DKI?, Jokowi lengser dari kursi kepresidenan? atau ada opsi lain?. Jika ada diantara pilihan itu terkabul, lalu kita merasa puas?. Cukupkah ‘nafsu kita terlampiaskan’. Lalu setelah itu persatuan bangsa  ini runtuh seruntuhnya, demi mengakomodir satu keinginan.

Apakah saya pro ahok?, tegas saya katakan tidak. Saya tidak suka dengan sikap ahok yang jauh dari etika, tidak sensitif dan provokatif. Sesungguhnya kalau kita sadar Ahok sukses memprovokasi kita, dan kita sedang terbakar, lantas apakah kita harus tersulut dengan balik membakar lebih besar?. Sungguh naïf jika lantas sikap itu kita lakukan, karena mau tidak mau suka dan tidak suka, kita bukan hidup dalam hukum rimba raya melainkan Negara hukum yang tatanannya diatur sedemikian rupa. Jika memang kita benci dengan tatanan hukum Negara Indoensia? Lalu apa maunya kita, sesuka hati mendorong-dorong menetapkan tersangka. Apa jadinya negara ini jika hukum ditegakkan atas dasar desakan massa. Akan menjadi preseden buruk, ketika kasus apapun bisa ditekan-tekan dengan demonstrasi massa. Bubar saja kepolisian, KPK, kejaksaaan dan semua aparat hukum.

Persoalan ahok amatlah sederhana dan tidak perlu kita habiskan energi sebegitu besarnya. Kalau dalam istilah sunda “Laukna Beunang, Caina Herang” (ikannya dapat, airnnya tetap bening), apa yang terjadi sekarang ini, situasi sedang begitu keruh, semua ingin manggung dan masing-masing bawa panggung kepentingan. Persoalan Ahok sudah diranah hukum, tinggal kita tunggu hasil penyelidikan kepolisian. Namanya hukum bisa dinyatakan bersalah juga bisa dinyatakan tidak. Dan semua pihak harus siap dengan keputusan itu, tidak lantas mendesak-desak agar kehendak kita yang terwujud.

Persoalan Pilkada DKI biarkanlah berlangsung, kalau memang tidak suka Ahok, maka jangan dipilih biar Ahok tidak menang. Sesederhana itu bukan. Bukan malah menolak Ahok berkampanye disana sini dengan mengenakan simbol agama Islam.

Persoalannya sesungguhnya ada pada kita, di umat Islam itu sendiri. Kita berjibaku, dalam perkara ahok dengan energi yang begitu besar, dan kita terlupakan hal yang teramat substansi.  Yakni kaderisasi pemimpin muslim. DKI menjadi ironi, kalau gak mau Ahok ya munculkan satu penantang Ahok sebegai representasi suara muslim, nyatanya tidak, Muslim Jakarta dibelah menjadi Anis dan Agus, yang hingga kasus nista melanda, Ahok masih diatas Anis dan Agus. Bayangkan jika yang maju Anis saja atau Agus saja, besar kemungkinan untuk menang.

Kalau kita benci Jokowi dan Ahok, teramat salah, seharusnya kita benci diri kita sendiri sebagai Muslim yang tidak bersatu. Jokowi dan Ahok hanyalah ekses dari gagalnya persatuan umat, dan hingga saat ini kita belum bisa memunculkan kader pemimpin Muslim. Siapa yang sesungguhnya kader Muslim yang sedang kita siapkan untuk bertanding melawan Jokowi pada Pemilu Presiden Mendatang, juga pada Aneka Pilkada di Daerah untum mengalahkan orang yang model-model Ahok. Disinilah energi yang harus kita habiskan, bukan malah bertarung dalam opini hasil provokasi Ahok. Toh pada saat Pilkada atau Pilpres kembali kita pecah, karena memang masing-masing Muslim punya kepentingan Peragmatis, entah atas nama partai Islam, atas nama ormas islam dan aneka gerakan Islam yang tidak beritikad untuk bersatu memunculkan dan mendukung Kader muslim menjadi pemimpin bangsa.

Ayolah kawan kita tahan diri, jaga diri dan kendalikan nafsu eksis di media sosial. Pikirkan secara jernih, jika kita buat status apakah kesejukan yang kita harapkan atau menginginkan kisruh. Pentingkah kita memberikan komentar? komentar itu terkadang diiringi hasrat, yang malah membuat kerekatan kita sebagai muslim ternodai. Pentingkah kita menshare berita darimanapun sumbernya? Apakah jika kita tidak men-share lalu kita rugi. Toh antara kita menshare dan tidak menshare efeknya biasa saja, harapan dibenak kita saja yang berlebihan. 

Berhentilah, ada yang sedang bertepuk tangan diujung sana melihat Muslim yang berhasil dibelah. Ada yang riang memantau media sosial kita yang sebegitu panasnya. Mereka katakan “Kita berhasil membelah orang Islam, dan Cukup satu Ahok saja”. Kalau melihat teori reaksi air, sesungguhnya mereka sedang melakukan itu, dan dinyatakan berhasil menguji membelah Muslim. Sayangnya kita terus larut bahkan tanpa sadar menikmati permainan mereka. Capek Bro…***

Sketsa