Diberdayakan oleh Blogger.

Ojek Aplikasi dan Ojek Simpatik


posted by rahmat rahmatullah

No comments



Tiada hari tanpa berita Gojek, mulai dari persaingan dan konflik dengan  ojek pangkalan (Opang), meningggalnya anggota gojek karena kecelakaan, hingga ribuan antrian pendaftar baik mereka yang ingin hijrah dari pekerjaan sebelumnya maupun yang masih menganggur.

Sejujurnya saya bosan dengan berita gojek yang terus mewarnai pemberitaan televisi, cetak hingga media online.  Seberapa substansi dan apa menariknya gojek terus diberitakan ditengah hiruk-pikuk aneka peroslan yang kita hadapi, bukankah makin menambah semrawut input pikiran kita. Coba bayangkan jika gojek menjadi berita nasional apa urusannya bagi kita didaerah yang tidak terkait sedikitpun dengan gojek. Curiganya saya, mungkin pimpinan gojek punya ilmu bisa mempengaruhi, sehingga setiap hari beritanya bisa mangkal di aneka media.

Saya coba menulis ini sebagai bentuk tanggungjawab sosial pribadi hehe. .. Jujur saya bersimpati dengan Opang. Saya yakini jika Gojek, Grabbike dan sejenisnya hanya sekedar fenomena kekinian saja, dan memang sudah dasar sifat manusia indonesia saja yang latah, baik tukang ojeknya maupun masyarakat pemanfaatnya. Kenapa latah karena saat ini zaman smartphone yang dijejali aplikasi, maka wajar jika da memanfaatkan ceruk pasar dengan membuat aplikasi perojekan, disamping itu ada rasa bangga jika kita memesan ojek dari smartphone kita, lantas banyak yang menyaksikan kalau kita naik gojek kesannya modern, dan memang nilai plus saat ini bagi saya mengenai gojek terkait tarif yang wajar. 

Kenapa saya sebut tulisan ini sebagai bentuk tanggungjawab sosial pribadi? Betapa sedihnya menyaksikan Opang sepuh di pangkalan termangu menunggu penumpang, apakah memungkinkan Opang sepuh bisa belajar aplikasi? Begitu pula Opang muda yang memang mungkin amat kesulitan untuk bisa mempelajari smarthpone yang dijejali aplikasi, karena sudah pasti ada yang begitu cepat, mudah dan mampu menggunakan aplikasi dan yang memang terus mental gak bisa-bisa. Bagi saya biar saja Gojek dan Opang berkompetisi dengan sehat, karena yakin bisnis dan nafkah keduanya akan berjalan beriringan.

Kenapa saya menulis Ojek Simpatik? Karena hanya satu hal yang bisa menyaingi  Gojek, yakni perilaku simpatik dari Opang. Dalam ilmu bisnis, saat ini yang paling menentukan adalah pelayanan, aplikasi-pun bagaimana orang yang menjalankannya. Sistem canggih, tapi perilaku tidak empatik sama saja. Sistem biasa saja tapi perilaku simpatik, bisa membuat bisnis tetap jalan walaupun kurang optimal. Sering kita mendengar keluhan pengguna taksi bonafid yang semua operasionalnya sudah didukung aplikasi canggih, tapi ketika di-stop ogah ngangkut dengan aneka alasan, atau membawa armada ugal-ugalan, atau membwa penumpang polos pada rute jauh dengan harapan argo banyak, dan sebagainya. Apakah ada jaminan jika Gojek tidak begitu kedepannya, terlebih jika sudah massal.

Apa sesungguhnya tanggungjawab sosial kita?  Kita menjawabnya dengan pertanyaan juga, bagaiman kesan kita dengan Opang?. Tentu jawaban yang kita dapatkan: pangkalan yang acak-acakan, berebut penumpang, tampang yang kurang bersahabat, bau rokok, urakan, dan yang paling menyebalkan adalah perilaku tidak jujur soal tarif. Terlebih dengan adanya fenome gojek yang alur media massa juga sudah terpola dua kutub, apapun Gojek kesannya positif dan apapun Opang kesannya negatif.

Hal yang saya yakini, bahwa segala sisi negatif yang dalam frame kita tentang Opang akan bisa dirubah dengan mentransformasikan perilaku simpatik. Saya yakin lebih mudah mengajarkan Opang terkait perilaku simpatik dibanding dengan belajar aplikasi perojekan. Bagaimana jika sesekali kita nongkrong di pangkalan ojek dan transfer ilmu simpatik kepada mereka, juga turut menyampaikan ruginya jika mereka tidak berubah perilaku ditengah gempuran aplikasi gojek. Kenapa saya sebut sebagai tanggungjawab sosial pribadi, tujuannya agar kita terketuk memperbaiki lingkungan kita dan bagaimana menaikan derajat kehidupan Opang khususny yang sudah renta agar dapurnya tetap ngebul, bukan malah menambah murung mereka dengan cuek dan juga turut apriori dengan Opang.

Kita sampaikan secara terbuka  kepada mereka tentang penilaian masyarakat umum mengenai Opang agar sadar kekurangannya. Bagaimana kita sampaikan jika kejujuran itu yang akan mengikat hati antara ojek dengan penumpangnya, bagaimana belajar menyapa dan tersenyum, bagaimana menjaga agar helm tetap wangi tidak bau apek, bagaiman safety riding, bagaimana kesadaran berlalulintas, bagaimana etika ketika akan menaikan dan menurunkan penumpang, bagaimana belajar sapaan-sapaan misalnya mengucapkan salam sehingga membuat penumpang merasa nyaman, bagaimana agar Opang difasilitasi buku bacaan, Al-Quran bahkan bisa nunggu penumpang sambil pengajian, bagaimana kita memfasilitasi mengadakan pelatihan handy craft, sehingga saat mereka nunggu penumpang bisa sambil nyulam ataupun membuat kerajinan, agar penumpang dapat, sumber penghasilan lain juga ada. Bagaimana agar para opang mencetak kartu nama yang cantik beserta tambahan informasi mengenai jenis-jenis layanan yang bisa dilakukan misanya mengantar dokumen, ASI bayi, memfotokopi , dan sebagainya disertai no hp yang nyala 24 jam. Dan tentunya banyak hal lain yang bisa kita sumbangsihkan kepada para Opang, agar mereka bisa berubah lebih baik.  

Jujur, detik ini baru sebatas menulis apa yang ada dalam benak. Insya Allah selepas menulis kita bergerak ke pangkalan. Niatnya satu, yakni membantu sesama. Semoga Bapak Opang renta tetap semangat menyambung rizkinya.***

Gambar:  https://hube13.wordpress.com

Sketsa