Diberdayakan oleh Blogger.

Duhai Aiman


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Bulan Juli nanti jika Allah berkehendak usianya akan menginjak 4 (empat) Tahun. Bagi saya kehadiran Aiman di muka bumi adalah bentuk kesyukuran akan ke-Maha besaran salah satu ciptaan Allah. Segala polah lakunya penuh dengan keindahan, dan jika seharipun terlewati masa perkembangannya terkadang saya yang larut bersedih, makanya nyambung dengan tulisan sebelumnya jika saya malas ditugaskan ke luar kota karena harus meninggalkan keluarga kecil.

Benar sekali jika ada yang bilang jika masa 5 (lima) tahun ke bawah sebagai Golden Age, fase perkembangan emas, pertumbuhan luar biasa yang tidak akan terulang. Dan penentu golden age itu tergantung pada siapa ia dekat atau dititipkan, jika pembantu maka ia akan meng-copy perilaku pembantu atau neneknya atau kita sebagai orang uanya. Oleh karena itu sejak istri mengandung Aiman, saya putuskan agar ia berhenti bekerja supaya sepenuh waktu dan hati  tertuju pada Aiman, supaya kelak diwaktu ia dewasa  kami tidak menyesal. Karena katanya kematangan anak dikala umur dewasa ditentukan oleh fase golden age, apakah dia akan dewasa seutuhnya atau umur dewasa/ tua namun bersifat kanak-kanak. Akibat terlewati atau tidak dimanfaatkannya masa keemasan.

Menarik untuk mengeksplorasi Aiman. Alhamdulillah segala hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan baginya harus dengan argumentasi yang bisa ia terima, baru ia akan melakukan atau tidak melakukan. Ia akan menanyakan sekritis dan sedetail mungkin mengapa ini begini dan begitu. Tanpa dipaksa Sholatnya kini tidak pernah putus dan mulai tumaninah walaupun bacaannya apal cangkem,  dari bayi memang ia selalu bangun subuh dan tidak ada kesulitan apapun memintanya langsung shalat subuh selepas bangun. Dan hal yang istimewa semangat belajar Iqra selepas magrib senantiasa menggebu. Hal yang menarik Ia selalu menjaga perjanjian yang kami buat sebelum ke suatu tempat, misalnya jika ikut ke Indoma*ret ia hanya akan mengambil barang yang sudah diniatkan dibeli, tidak memaksa untuk membeli yang lain walaupun ia sangat ingin. Alhamdulillah kemanapun kami ajak pergi tidak pernah ada tragedi menangis, meronta atau demonstrasi memaksa menginginkan sesuatu.

Hal yang kini sedang kami warnai adalah nilai-nilai perilaku karena kelak menjadi cerminan hidup seseorang. Jika ada lampu yang tidak dipakai menyala ia akan langsung mematikan tanpa disuruh, gelas bekas ia minum susu langsung ia bawa ke tempat cuci piring,handuk bekas mandi ia simpan pada tempat jemuran, sarung bekas shalat dia simpan pada tempatnya,sebelum tidur ia bereskan mainan, dan segala hal menyangkut keteraturan dan rasa tanggungjawab. Terkait kelembutan hati saya ajak Aiman untuk turut memelihara ikan dan ayam, dari situ ia belajar kasih sayang dan kepekaan pada makhluk yang lain.Alhamdulillah semua hal tadi Aiman lakukan penuh kesadaran karena awalnya tidak lepas dari contoh dilanjutkan dilakukan bersama-sama. Hal yang belum boleh dituntut melainkan dituntun adalah kerapihan, karena untuk umur 4 Tahun, tergerak untuk bertanggungjawab sudah prestasi dihati Abahnya. 

Kenapa pembiasaan-pembiasaan diatas saya anggap sangat penting, karena akan menjadi perilaku kelak ketika ia beranjak dewasa. Sungguh kita muak melihat perilaku anak muda bahkan orang tua yang umurnya tua namun kelakukannya kekanak-kanakan jauh dari tertib, buang sampah semaunya, ugal-ugalan di jalan raya, melanggar aturan dianggap lumrah, tidak mau antri dan jauh dari disiplin, kepandaiannya hanya mengomel.

Bagi saya sebagai orang tua, kewajiban terbasar adalah membekali iman, ilmu dan akhlak. Iman adalah terkait kemutlakan keyakinan, ilmu terkait bekal hidup, dan akhlak terkait warna sepanjang hidupnya. Tidak ada hal lain yang orang tua pertanggungjawaban selain ketiga hal tadi, dan bungkus akan semuanya adalah akhlak agar nampak keindahan. Jika iman saja maka ia cenderung fanatisme dan menghakimi, jika ilmu saja ia akan pongah dan menyalahgunakannya hingga korupsi. Dan akhlaklah yang menjadi pembentuk bagaimana ia bersikap.
Semoga saya bisa menjadi orang tua yang amanah.***

Sketsa