Diberdayakan oleh Blogger.

Aiman, Imoo, dan Casio


posted by rahmatullah on

No comments


Hampir semua orang tua ‘bermasalah’ dengan iklan imoo watch phone di TV, gara-gara iklan yang terus menerus diputar ulang dengan kemasan menghipnosis anak sepanjang liburan sekolah lalu, menyebabkan anak-anak ‘demo’ maksa dibeliin jam tangan imoo. Saya dan istri sampai berdebat gara-gara rajukan Aiman yang ‘menuntut’ dibelikan imoo agar sama seperti sahabatnya disekolah. 

Istri mengerucut agar dibelikan dengan alasan sebagai hadiah prestasi aiman dikelas terbaik, puasa ramadhan khatam, shalat 5 waktu tak putus, dan sebagainya. Mungkin saya sebagai ayah ‘kejam’, saya tetap tolak dan saya sampaikan ke istri, menyayangi bukan berarti dengan mudah mengabulkan apa yang anak minta. Sekali kita kabulkan, akan menjadi alat bagi anak untuk terus menuntut, tanpa pernah tau bagaimana kondisi bapak ibunya.

Saya bilang ke istri berikan waktu bagi saya untuk berdiskusi dengan Aiman. Ternyata butuh waktu hampir seminggu untuk meluluhkan Aiman, saban waktu ia bertanya bertubi-tubi kenapa Abi melarang, kenapa temen-temen Aiman dibelikan, kenapa Abi tidak sayang, apa Abi gak punya uang ya, dan aneka pertanyaan lainnya. Sungguh butuh seni, kesabaran dan jawaban-jawaban yang satu frekuensi sehingga pada akhirnya Aiman bisa luluh dan menerima penjelasan ayahnya.

Pada akhirnya senin pekan lalu Aiman menunjuk tempat jam dikamar, ia bilang “Abi boleh gak jam ini Aiman pake”. Ia menunjuk jam Casio jarum saya yang lawas, saya beli 4 tahun lalu dengan harga 200 ribu. Jam kesayangan saya, dibeli dengan harga terjangkau, ringan, awet batre, anti air dan hingga kini gak pernah ngadat, kebetulan juga Aiman sudah pandai membaca jam jarum. Saya bilang “Jam ini boleh buat Aiman, Abi wariskan jam kesayangan, dipakai wudu juga gak papa gak akan mati”. Ia bangga kesekolah pakai jam warisan ayahnya, setiap ada yang bertanya, ia selalu bilang ini jam warisan abi, disaat kawan-kawannya berdigital dengan imoo.

Akhirnya diskusi panjang selesai dengan win-win solution, saya bersyukur Aiman bisa menerima penjelasan ayahnya, dan betul-betul butuh kesabaran dan penjelasan yang satu frekuensi agar dia menerima. Saya yakin ini pembelajaran penting, jika kali ini saya kalah besok lusa dia menuntut ayah ibunya membeli sepatu merek tertentu, mainan Z, HP brand A, baju merek C, dan aneka tuntutan komsumtif tanpa pernah memikirkan bagaimana kondisi ayah ibunya. Terimakasih nak ***

Sketsa