Diberdayakan oleh Blogger.

Pertemuan Kebetulan


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments

Entah kapan pastinya, mungkin sekitar tiga bulan lalu, tepatnya di hari minggu. Saat itu saya sedang duduk di peron stasiun Universitas Indonesia (UI)menunggu kedatangan kereta ekonomi yang melewati stasiun Duren Kalibata. Saat mengetahui kereta masih lama dan daripada menganggur, saya buka buku John Field berjudul Modal Sosial, berharap ada yang nyangkut dikepala daripada sekedar melamun menunggu kereta. Ketika pikiran hanyut terbawa isi buku, tiba-tiba duduk di samping kiri saya seorang laki-laki muda, saya tidak merespon apa-apa sekedar menggeser posisi duduk agak ketengah. Mungkin selama saya membaca buku, pemuda tersebut memperhatikan saya dan cover buku yang saya baca.

Tak lama berselang pemuda tersebut bertanya “Baca buku apa Pak, kayaknya bagus?”, saya menjawab “Lumayan bagus mas, buku tentang modal sosial”. Pemuda tersebut kembali bertanya “Modal sosial itu apa Pak? Pancasila ya?”. Berkerut jidat saya, menyadari bahwa lawan bicara belum tentu paham apa yang kita baca, pikirkan dan kita sampaikan, akhirnya saya menemukan padanan yang mudah-mudahan dimengerti “Bukan pancasila, buku tentang masyarakat seperti gotong royong, saling membantu karena ada keterikatan dan keterpanggilan”. Kemudian pemuda tersebut refleks menyodorkan tangan “Boleh kenalan Pak, nama saya Dede”, jujur saya kaget dalam waktu singkat hanya dua dialog, ada orang yang bisa interest dan mengajak perkenalan. Pada akhirnya panjanglah perbincangan kami, rupanya Dede adalah seorang karyawan di sebuah Toko Waralaba di Jakarta Timur, yang sengaja merantau ke Jakarta untuk mencari rizki dengan menumpu-kan hidupnya pada ijazah SMA, asalnya dari Cilacap. Entah mengapa dari babak awal dialog membahas masalah masyarakat, lalu cerita Dede tentang orang-orang dikampunya yang susah diajak gotong-royong, suka mabuk, macam-macam maksiat, cerita tentang bencana, hingga kekhawatiran Dede akan kiamat. Terakhir Dede minta nasihat saya bagaimana caranya supaya bisa melanjutkan sekolah walaupun penghasilan alakdarnya. 

Sejujurnya saya agak heran, mengapa tiba-tiba orang bisa percaya, padahal tipikal saya dalam bersosialisasi dan bisa dekat dengan seseorang membutuhkan waktu yang cukup lama, setidaknya bisa dilihat dari jumlah teman saya yang terbatas dan itu-itu saja orangnya. Akhirnya saya hanya memberikan saran kepada Dede “Saya juga orang susah, kuliah S1 dan sekarang S2 juga karena beasiswa. Kalau Mas Dede punya keinginan kuliah ada Universitas Terbuka, yang dikhusukan untuk mereka yang sambil bekerja. Yang penting sesedikit ada rizki ditabung, jangan patah semangat”. Selesai sudah dialog kami, karena kereta tiba. Ketika saya akan naik kereta Dede narik tangan saya “Mas kalau boleh, saya minta nomor Hpnya”. Sambil berlari naik kereta saya sebutkan nomor Hp ke Dede.
***

Beberapa hari kemudian ada SMS masuk ”Pakabar Pak? Kalau ada waktu pengen ngobrol, kapan bisa ketemu? (Dede)”, rupanya SMS dari Dede yang dulu bertemu di peron stasiun UI, saya balas “Baik Mas, boleh, kontak-kontak aja ya,mudah-mudahan akhir pekan saya di depok”. Lama kami tidak bertemu walaupun setiap  tiga hari sekali Dede selalu SMS saya dengan kalimat yang sama. Memang setiap akhir pekan saya tidak di Depok, seringnya diluar kota. Herannya Dede tidak pernah surut atau berhenti meng-SMS dengan kalimat dan harapan yang sama, walaupun hampir 8 minggu batal bertemu.

Tepat hari sabtu pekan lalu, Dede SMS kembali “Pak kapan bisa ngobrol lagi?”, saya jawab “Besok ya, InsAllah saya gak kemana-mana”. Sejujurnya saya juga agak malas bertemu, karena ada hal lain yang harus dikerjakan termasuk ada perubahan rencana, minggu pagi saya harus pergi ke Kalibata, maka saya SMS Dede, dalam hati ingin membatalkan pertemuan hari ini “Maaf Mas De, saya harus ke kalibata pagi ini”. Dede membalas “Oh gak papa pak, tapi bapak pulang kapan?”. Niat dalam hati membatakan walaupun tidak tersurat pada akhirnya membuat saya surut, karena Dede tidak patah arang ingin bertemu, dan jika posisi diganti Dede adalah saya, diombang ambingkan dalam janji yang sering batal, mau ketemu selalu dialihkan waktu dan dianggap tidak penting, mungkin saya akan kecewa dan tidak akan mengontak lagi. Tapi tidak bagi Dede. Akhirnya saya sms lagi “InsAllah sore ya kita ketemu di halte bis stasiun UI, jam 16”. Dede membalas “Wah Hamdulillah pak, saya tunggu”.

Saya usahkan bertemu dengan Dede, sejujurnya saya kagum dengan semangatnya, entah mengapa ada energi apa yang menginginkan Dede untuk bertemu. Jam 14 saya sudah sampe depok, karena letih begadang semalam, saya coba tidur sampai ashar. Saat bangun kemudian shalat, saya ingat jika saya punya janji, tapi memang badan lemas, ada keinginan untuk mengurungkan niat bertemu Dede, tapi hati kecil ini memberikan saran, seminggu sekali Dede ke Depok hanya untuk ketemu saya, jauh-jauh dari Jakarta Timur, apakah tega membuat orang lain kecewa dan pupus harapannya. Akhirnya saya beranjak, jam 15.45, Dede sudah SMS “Pak saya sudah di halte UI nih”, saya balas “Oia tunggu ya 10 menit, saya masih dijalan”. Kekaguman saya muncul lagi, saya bukan siapa-siapa kok diharapkan sekali walau sekedar ngobrol, dan entah apa yang akan diobrolkan.

Sengaja saya beli dua botol air buat saya dan Dede, pastinya dia haus juga perjalanan dari Jakarta Timur. Sampe halte depan stasiun UI, saya tidak melihat sosok Dede. Saya SMS “Saya sudah di halte depan stasiun”. Dede Balas “Saya kok gak liat Bapak, yang banyak taksinya ya pak?”. Saya SMS lagi “Bukan, yang di depan stasiun UI, saya tunggu di depan loket ya”. Rupanya Dede menunggu di halte depan Sekre Resimen Mahasiswa yang jaraknya ke stasiun UI sekitar 2km, dan tawaran biar saya yang kesana ditolaknya. 

Dengan berpeluh keringat 15 menit kemudian akhirnya Dede sampe ke halte stasiun UI, senyumnya mengambang, tidak nampak letih walau sudah jalan sekian jauhnya, tampak di belakang Dede, ada seorang pemuda tinggi semampai. “Maaf nih pak, ganggu waktunya” ujar Dede, “Gak papa Mas De, saya yang minta maaf, sering batalin ketemuan”. Lalu Dede mengenalkan temannya “Pak ini Maulana, teman saya, kebetulan kenalan waktu di Pasar Minggu”. Sepertinya Dede dan Maulana baru pertama kali menginjakan kaki di Halte UI dan baru pertamakali juga melihat kampus UI lebih dekat, sambil mencari tempat ngobrol yang nyaman, saya aja mereka keliling kampus UI, dan mereka takjub dengan UI. Saya hanya bilang ke mereka, teman-teman juga punya hak untuk menikmati kampus ini, jalan-jalan atau olah raga.

Akhirnya kami duduk di halte depan FISIP, Dede kemudian memulai obrolan “Pak Kok bencana dimana-mana ya”, setelah itu lanjut membahas hal ihwal keislaman, mengaitkan dengan Musibah Merapi, wasior, kondisi pemuda di kampunya. Saya kaget ketika Maulana menimpali obrolan lengkap dengan rujukan ayat Alquran dan Hadist tentang musibah, akhir zaman, dengan begitu rapi tertutur. Jantung saya dibuat bergetar oleh dialog mereka, ingin rasanya saya mendengarkan tanpa perlu mengomentari ‘obrolan hati’ antar mereka.

Mau tidak mau saya menanggapi obrolan mereka, entah mungkin karena mereka menganggap saya lebih berpendidikan. Saya tanggapi bagaimana siklus dalam bencana, yang saya bisa tambahkan sisi logika keilmuan saja. Obrolan semakin hangat dan dalam karena yang dibahas adalah “pembicaraan langit”, sampai mereka membahas keprihatinan akan kondisi umat, akhlak pemuda, akhlak teman-teman dilingkungan mereka bekerja, mereka bahas sejarah para nabi, kembali dikuatkan dengan ayat Alquran dan hadist.

Saya tidak pernah menduga jika obrolan yang pada awalnya saya anggap biasa bahkan sepele, malah menjadi ‘obrolan langit’, dan saya tidak pernah mengira jika Dede dan Maulana yang mungkin pendidikannya hanyalah SMA memiliki pemikiran dan kebeningan hati, jauh menembus tampilan mereka. Yang kian membuat saya kagum adalah setelah saya tau siapa Maulana, ternyata Maulana hanyalah seorang pedagang kerupuk sangrai (kerupuk yang digoreng dengan pasir), setiap hari keliling di seputaran pasar minggu, tidak pernah saya sangka Maulana penjual kerupuk hafal banyak ayat dan hadist, tahu istilah asketisme, hingga skeptisme. Semangat spiritualitasnya jauh menjulang diatas saya.

Obrolan pada akhirnya kami tutup ketika waktu menunjukkan pukul 17.30, mereka sudah harus siap bergelut dengan rutinitasnya esok hari, Dede dengan aktivitas melayani pembeli di waralaba dan Maulana dengan aktivitas jualan kerupuk pasir kelilingnya. Kami berpisah ‘sementara’ di stasiun UI,setelah saya dan maulana bertukar nomor HP. Seperti enggan kami berpisah dan menghentikan pertemuan itu, entah emotional bonding kami sangat erat, padahal dari perkenalan dan pertemuan yang kebetulan. 

Sambil berjalan pulang menuju kosan, antara percaya gak percaya saya masih memilirkan pertemuan singkat kami yang tidak lebih hanya  1,5 jam. Entah merekakah malaikat berwujud manusia. Secara fisik dan pakaian mereka terlihat lusuh, secara pendidikan mereka hanyalah lulusan SMA, secara pekerjaan mereka tergolong pekerja pasar. Namun ada nomena dibalik fenomena, dibalik apa yang terlihat secara fisik atau materiil kebeningan hati mereka terpancar, kerendahan hati mereka juga luar biasa, upaya menjaga silaturahim begitu kuat, kedekatan mereka dengan Tuhan  juga terlihat dari keteduhan wajah dan tutur kata santun mereka.

Sekali lagi, pertemuan yang kebetulan ini merupakan teguran bagi diri saya, agar senantiasa mengharagai siapapun orang, jangan pernah melihat secara fisik atau apapun yang tampak. Jangan pernah kita menyepelekan orang lain hanya karena penampilan, latar belakang pendidikan, bahkan pekerjaan. Saya meyakini bahwa bencana bahkan kiamat akan tertunda selama ada mereka-mereka yang tidak menampakan keimanannya, mereka yang dianggap sepele. Kewajiban kita yang berilmu lebih adalah berbagi dengan siapapun, karena saya mengintrospeksi diri saya sendiri, merasa ilmu hanya saya sampaikan kepada mereka yang selevel, atau dalam rangka pekerjaan, transaksional jika menghasilkan uang. Justru manfaat ilmu adalah ketika saya bisa transfer knowledge dengan Dede dan Maulana. Saya baru tersadar pagi sebelum berangkat ke Kalibata, saya tulisa dalam wall Facebook “Butuh banyak energy, butuh Input…moga terpenuhi dengan silaturahmi”. Ternyata apa yang dituliskan bagian dari doa yang terkabul.

Hari ini hampir yang seminggu yang lalu setelah kami pertemuan, hampir setiap hari baik Dede amupun Maulana SMS berharap ada pertemuan lagi, termasuk tadi pagi Dede masih SMS “Hari minggu ada kesibukan Pak?”. Saya membalas dengan agak menyesal dan minta maaf, jika minggu ini saya ada keperluan di luar kota. Iya, saya bersyukur dengen pertemuan kebetulan ini sudah menyentak batin saya, Allah yang mungkin mengirim mereka untuk membenahi kerontang jiwa ini.***

2 comments

Leave a Reply

Sketsa