Diberdayakan oleh Blogger.

Tukang Sayur


posted by rahmat rahmatullah on

1 comment

Pagi ini temaram, hujan tak henti sedari subuh, kadang deras, kadang rintik-rintik, dingin rasanya menyentuh kulit.  Ditemani hujan dan segelas kopi hitam saya terpekur menarikan jari pada tuts keyboard, menutaskan sisa pekerjaan yang mungkin takkan pernah selesai. Walaupun hari ini minggu, sewajarnya badan dan pikiran ini jeda.

Ah, kali ini saya tidak cerita pekerjaan, tapi kembali bercerita tentang tukang sayur. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 06.30 dan hujan tetap mengguyur, satu persatu tukang sayur menghentikan laju gerobak atau bakulnya di depan rumah, semuanya memekik memanggil nama Ibu “ Bu Haji, Sayur”, “Bu haji, Ayam Kampung”, “Bu Haji, tempe”, dan aneka pekik panggilan yang lain.

Memang cuaca hujan, yang tentunya dingin, apalagi pagi hari ditambah hari libur, hal yang paling damai dilakukan adalah melanjutkan ritual tidur. Banyak orang yang benci ketika saat tidur pagi terganggu kebisingan apapun. Jika anaknya ribut tak jarang sang ibu memaki, jika ada tukang sayur lewat, tak jarang juga bersumpah serapah dan menutup telinga karena merasa terganggu.

Tapi tidak bagi ibu, saat hujan ataupun tidak, setelah subuh ibu beranjak dari peraduan, membereskan apapun yang ada di rumah. Dan pagi ini dikala hujan ibu bolak balik kedepan rumah, menghampiri tukang sayur yang memanggil nama ibu. Tahu, tempe, sayur bayam, sudah bertumpuk di atas meja makan. Ibu coba melongok isi kulkas, yang sebetulnya apa yang bertumpuk diatas meja masih tersisa dari belanja kemarin.

Terkadang  ibu menghampiri saya “Mat ada uang ribuan. ibu pinjam, kasian tukang sayur belum ada kembalian”. Saat ibu coba beranjak ke kamarnya, menghampiri kasur, barang sejenak meluruskan badan. Kembali datang teriakan “Bu haji, kerupuk”, belum pernah ibu memerntahkan saya misalnya “Mat, bilang masih ada”, atau “Biarkan aja nanti juga pergi”. Ibu pasti menghampiri pedagang yang datang dan ‘berupaya membeli’ walaupun hanya segenggam bayam atau sebungkus kerupuk. Sembari bawa tempe berbungkus daun pisang kedalam rumah, ibu bilang ”Ya Allah, kasian ya mat tukang sayur, dagangan masih bertumpuk, tambah hujan yang gak reda-reda, siapa yang mau beli. Kita memang Cuma bisa bantu beli sedikit, minimal mengurangi beban bawaan mereka”. 

Apa yang ibu sampaikan adalah tentang fragmen sederhana ‘kepekaan’, mungkin karena ibu pernah menjadi mereka dan merasakan bagaimana menyambung hidup. Andai kepekaan ‘kita hidupkan’, bayangkan betapa beratnya beban tukang sayur memulai kehidupan sejak fajar . Mereka sadar saat mereka ke pasar induk sudah diguyur hujan, hati kecil mereka juga pesimis bercampur ragu “Siapa yang mau membeli dagangan jika pagi sudah hujan”.  Mereka sadar jika rumah yang mereka datangi pasti pintunya tertutup, sebagian orang tidur pagi, bahkan sebagian balik memaki sahutan karena merasa terganggu. Tapi Tukang sayur harus menyambung hidup… meskipun sayur yang dijajakan tidak habis, harus dibuang, bahkan jangankan berharap untung, impas-pun mereka sudah biasa, rugi karena dagangan tidak habis adalah warna hidup mereka. Tapi roda hidup mesti mereka putarkan…dan satu hal, kita tidak pernah mendengar mereka memaki TuhanNya, karena hujan.

Tapi jarang kita berpikir tentang mereka… Kita hanya melihat tukang sayur, pedagang keliling, tukang jamu,dalam perspektif kita yang didasarkan fenomena…ringan bagi kita menolak kedatangan mereka, karena kita tidak mau panjang berpikir mengenai sebuah nomena. 

Terkadang saya berdebat ketika banyak orang mempermasalahkan “memberi pada pengemis”, bahkan di atasan di kantor berupaya meng-goal-kanPerda tentang ketertiban umum,yang satu pointnya sangsi Rp sekian juta bagi yang memberi pengemis di lampu merah. Saya bilang jika mengambil kebijakan jangan parsial, ketika pengemis dilarang di lampu merah, apakah dibukakan lapangan kerja alternatif buat mereka, jangan sampai kita menyumbat satu bendungan, malah mengakibatkan jebolnya bagian bendungan lain. Sering diambil kebijakan tapi tidak menyelesaikan masalah, malah memunculkan aneka masalah baru.

Cobalah kita bangun kepekaan, dengan melihat nomena dibalik apa yang tampak, terkadang kita tidak bersyukur dengan rizq yang kita dapatkan, pekerjaan yang saat ini kita raih dan berebagai anugerah Allah lainnya.  Jika penat urusan kantor dan budaya kerja birokrat yang amburadul, saya kadang me-refresh pikiranmenyambangi ruang Office Boy (OB), terdapat dua orang OB yang usianya seumuran 50 tahunan, ya mungkin lebih muda sedikit dari almarhum ayah saya. Terkadang hati ini terenyuh, Ya Rabb diusia mereka yang seharusnya sudah beristirahat, mengasuh cucu masih bekerja dengan ‘status OB’, tapi senyum tulus mereka tidak pernah pudar, tidak pernah mengeluh, tidak pernah absent membuatkan kopi, walaupun beban di pundak mereka jauh lebih besar, ketiadkpastian status kontrak dan gaji menghantui mereka setiap saat, tapi mereka tetap bersyukur.

Bagi saya sebuah petualangan ruhani ketika berada, merasakan dan berupaya membantu dari apa yang tidak tampak, apakah itu tukang sayur, OB, pengemis, dll. Terkadang jika ada sahabat yang berhutang walaupun kita sedang butuh, tidak pernah tega bagi saya untuk menagih, karena coba menyelami kesulitan mereka yang jauh lebih…

Terkadang otak saya tak berhenti berputar menyimak keheranan, mengapa orang membuat branding image, kebijakan, program, dll. Tentang upaya menanggulangi kemiskinan, berderma, dan ekspos tentang kepedulian, tapi sekedar ekspos untuk meraih popularitas dan meraih target semata. Tidak lembaga zakat, tidak perusahaan, tidak pemerintah, tapi secara hakikat tidak membuka kepekaan terhadap yang dekat dan yang nampak. Selalu mengurusi gajah di pelupuk mata, tapi disisi lain mereka mengeksploitasi OB, sales, tim marketing dengan target-target. Padahal hak yang mereka dapatkan jauh dari kewajiban yang mereka tunaikan. Memang kehidupan terlalu sulit untuk dikatakan adil, yang kecil semakin dieksploitasi, tidak dibayarkan haknya sampai keringat mereka mengering, dibatasi peraturan ini dan itu. Sedangkan yang sudah kaya dan sukses terus mengepakkan sayapnya dengan segala yang bisa dikompromikan.  

Ah…pagi ini sekedar menuturkan gumam atas inspirasi tukang sayur yang kehujanan, yang bakulnya masih penuh dagangan, yang pastinya ditambah terguyur hujan makin berat beban di pundak. Moga Allah memuliakan mereka, membukakan pintu rizqi dari jalan yang tidak terduga. ***

1 comment

Leave a Reply

Sketsa