Diberdayakan oleh Blogger.

Wajah Indonesia Adalah Wajah Saya dan Anda


posted by rahmat rahmatullah on ,

No comments

”Sukses suatu bangsa adalah akumulasi kesuksesan individu, dan kegagalan suatu bangsa adalah akumulasi kegagalan individu ”.
-J.S Mill-
Ketika anda berbicara Indonesia, berarti anda sedang membicarakan sebuah anomali. Ketika anda membahas Indonesia kedalam berbagai wacana atau teori, maka andapun jangan heran, jika nanti tidak menemukan konsep atau teori yang bersinggungan dengan realitas Indonesia saat ini. Jika anda berniat berdebat dengan tema Indonesia, maka saya menganjurkan anda agar mengurungkan perdebatan itu, karena hanya akan membuat anda pusing, kesal, dan yang pasti anda akan berpeluh lelah dan keringat.
Hal menarik adalah jika masyarakat Indonesia bingung dengan apa yang terjadi di negerinya, merupakan suatu kewajaran, karena mereka sudah menganggap tidak asing keterjadian anomali tersebut. Tapi semakin tidak menarik ketika para Indonesianis seperti William Liddle, Jefrey Winters, atau Sydney Jones berkali-kali dibuat bingung dengan objek kajiannya, karena teori-teori yang mereka prediksikan tentang masa depan Indonesia kian tidak mumpuni saja, dan mungkin mereka semakin pusing di buatnya, karena terlalu banyak deviasi di luar prediksi. Mungkin lebih baik sebelum membuat analisa, para Indonesianis membaca buku Mochtar Lubis terlebih dahulu tentang Manusia Indonesia, biar prediksinya menjadi mantap.
Perlu bukti? cobalah sekali-kali anda buka satu buku saja tentang teori pembangunan sosial, perubahan sosial atau model negara berkembang, mengenai teori yang kajiannya berhubungan dengan negara berkembang khususnya Indonesia. Coba anda perdalam apa yang dikaji Cardoso, membahas mengenai teori dependensi baru, yang menganalisa situasi konkret negara-negara dunia ketiga. Berbicara tentang negara dunia ketiga berarti membahas (sebagian) negara-negara di Asia, Timur Tengah, Amerika latin dan negara-negara di Afrika. Teori yang disampaikan Cardoso terbuktikan dalam sejarah perkembangan negara, diantaranya di Taiwan dan Korea Selatan (Korsel). Indonesia sebetulnya masuk dalam kajian Cardoso, karena parameter yang dipakai adalah negara yang pernah dijajah, mengalami dinamika internal, social movement, perubahan pola mata pencaharian dari pertanian ke industri, dan adanya tiga aliansi kekuatan politik: negara birokratis-teknokratis militer, perusahaan multi nasional, dan borjuis lokal.
Dalam konteks Korsel dan Taiwan, mereka berhasil melewati fase-fase keterbelakangan menuju kemajuan atau tinggal landas. Kini pemerintahan mereka berjalan stabil, karena prosesi demokrasi berjalan dengan baik, sipil yang memimpin negara berhasil mereduksi peran-peran militer dalam pemerintahan, perubahan corak mata pencaharian dari pertanian ke industri besar, kemudian pemerataan penguasaan modal, serta diberikannya kebebasan bekerja dan berusaha kepada rakyat. Walaupun dalam kenyataannya, sejarah kontemporer membuktikan bahwa apa yang terjadi di Korsel dan Taiwan, adalah konsisitensi perjuangan serta kekukuhan memegang prinsip agar negara bisa maju, mandiri dan menjadi besar. Namun, resiko untuk berubah tentulah besar, termasuk mereka yang berfaham bersebrangan, seperti idiologi komunis baik pribadi maupun organisasi banyak disingkirkan dengan berbagai cara dan intrik, karena kritik yang kerap mereka kemukakan. Akan tetapi banyak permasalahan yang berhasil di lewati oleh kedua negara tersebut, seperti resesi ekonomi berulang-ulang, yang juga pernah dirasakan Indonesia, namun akhirnya Korsel dan Taiwan bisa berdiri tegak dan mengucapkan selamat tinggal pada Indonesia.
Lalu apa yang terjadi dengan Indonesia, seharusnya dengan teori yang diuraikan Cardoso minimal Indonesia mampu sejajar dengan Korsel dan Malaysia. Namun yang sekarang terjadi, dalam konsep administrasi kenegaraan saja Indonesia tertinggal 40 tahun dari kedua negara tersebut. Belum lagi bidang teknologi, SDM, perekonomian, pemilikan aset dan sebagainya. Wajar jika ada adagium, Indonesia itu mati segan hidup tak mau. Memperbanyak utang bertambah bunga lalu tak sanggup membayarnya, baru kemudian menebusnya dengan menggadaikan hasil alam mentah. Menjual rakyatnya untuk menjadi budak di negeri orang (TKI), menghamba-hamba pada bangsa lain untuk dapat pinjaman. Cukup sudah jika Syafi’I Ma’arif menyebut bangsa kita adalah bangsa yang tergadai, manjadi budak di kampung halamannya sendiri.
Tak salah J.S. Mill pernah berkata, “ Sukses suatu bangsa adalah akumulasi sukses individu”, juga sebaliknya. Sedangkan kita kian tidak peduli dengan nasib bangsa saat ini. Hidupku adalah hidupku, peduli apa dengan bangsaku mau dan akan dibawa kemana. Jika pun peduli, kepedulian kita hanya pada tataran diskusi, seminar, dan loka karya, mengadu-adukan teori dan debat kusir. Setelah itu yang menang diskusilah yang mempecundangi lawannya, lalu semuanya kabur dengan idealismenya yang terkubur. Bangsa kita tak pernah jelas, pemudanya kian tidak konkrit karena kian pudar nilai-nilai patriotismenya. Mahasiswa teknik akan merasa bangga jika ia bekerja pada perusahaan asing tanpa berkeinginan kuat membuat riset untuk bangsanya sendiri, dan mahasiswa Sospol kian gencar memecah belah bangsanya sendiri dengan debat mengadu-adukan ideologi, lalu menganggap hanya golongannya yang paling benar.

Masih Ada Harapan
Jangan bersedih bagi anda yang prihatin melihat nasib bangsa. Anda tidak sendiri, banyak sosok-sosok yang peduli dan rela berkorban untuk perubahan Indonesia. Masalahnya adalah belum ada pihak yang mampu mensinergikan, merekatkan, dan mengakumulasikan antara kekuatan anda dan pihak lain yang peduli, baik pribadi maupun organisasi yang berkeinginan mengangkat nasib bangsa dari titik nadir penghabisan ke salah satu puncak dunia. Anda pernah mendengar nama Marwah Daud Ibrahim, salah satu srikandi Indonesia saat ini (sepakat atau tidak, perjuangannya lebih real daripada perjuangan anda dan saya). Beliau membuat sebuah formula pelatihan agar Indonesia dalam 25 tahun kedepan bisa berada di barisan terdepan dalam jajaran bangsa berperadaban, maju, mandiri, dan memimpin di Asia bahkan dunia. Formula itu bernama kiat sukses basic live skills MHMMD (mengelola hidup dan merencanakan masa depan), berisikan sintesa dari berbagai penelitian disertai dengan pengalaman dan pengamatan Marwah tentang hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Memulai perencanaan maksimal dan terukur dari tataran pribadi menuju kematangan perencanaan dalam tatanan bangsa dan negara. Sederhana saja asumsi dasar Marwah, ia mentargetkan dasar pelatihan MHMMD dapat membangun jaringan kerja dan keterkaitan fungsional antar sektor dan tokoh; pemerintah (pusat dan daerah, eksekutif, yudikatif, legislatif, sipil maupun militer), pelaku ekonomi (perbankan, industri, petani, nelayan, jasa transportasi, komunikasi, parawisata, pengusaha, konsultan), tokoh masyarakat (guru, orang tua, tokoh agama, pemuda, perempuan, budayawan, media, sekolah, perguruan tinggi, dan organisasi kemasyarakatan).
Selain Marwah Daud Ibrahim, yang memiliki visi perubahan bangsa dengan MHMMDnya, ada Ary Ginanjar Agustian yang mensinergikan kekuatan emosional dan spiritual (ESQ), ada Aa Gym dengan manajemen Qalbunya; memulai dari yang terkecil, dari diri sendiri dan dari sekarang juga, ada Yohanes Surya yang berupaya mengangkat martabat bangsa dengan mengikutkan putra-putri bangsa dalam berbagai olimpiade fisika tingkat internasional, dan banyak lagi sosok putra-putri bangsa yang punya ikhtiar kuat untuk membenahi negerinya. Tinggal sekarang bagaimana caranya agar kita mampu mensinergikan ide ideal anda dengan ide-de ideal orang lain menuju sebuah nilai konkrit. Karena pada tataran konsep dan teoritis sudah terlalu banyak gagasan untuk merombak Indonesia ini, hanya saja pada tataran praktis anda dan saya kadang tidak konsisten dan sering mundur dari visi awal, berdeviasi sebelum penampakan sebuah hasil. Inilah negeri yang kebanyakan coba-coba, tidak pernah kukuh dalam satu prinsip dan senantiasa merubah prinsip ketika dihinggapi berbagai ujian. Anda pasti menilai, wajar saja jika kita mudah merubah prinsip, visi maupun misi, para pemimpin bangsa pun barbuat demikian, ganti rezim ganti kebijakan, ganti presiden ganti visi bangsa. Tidak sekukuh Malaysia dengan visi 2020-nya atau Anwar Ibrahim dengan renaissance Asia-nya, atau Amerika Serikat dengan American Dreamnya.
Sebetulnya terserah saya dan terserah anda, yang terpenting adalah kita hidup dalam sebuah bangsa yang sedang melarat, dan kita tidak bisa berdiam diri, masa bodoh, merutuki keadaan, menyalahkan nasib, men-judgemen pihak-pihak lain, menganggap tanggung jawab bangsa hanya sebagai tanggungjawab pemegang kekuasaan saja. Terpuruk dan melaratnya bangsa kita, karena saya dan anda juga, akumulasi kegagalan individu yang hanya pandai berdebat, berteori dan menyalahkan, yang tidak pernah konkrit berbuat dan berkarya.

Leave a Reply

Sketsa