Diberdayakan oleh Blogger.

JEJAK SILIWANGI DI DESA MANGKALAPI


posted by rahmat rahmatullah on

10 comments


Saya tidak pernah menyangka jika nama Mangkalapi akan menjadi mozaik yang turut mewarnai kehidupan saya. Karena memang sudah menjadi suratan takdir dengan wasilah pekerjaan, mengakibatkan saya bertempat tinggal di Desa Mangkalapi. Ya, saat ini saya menjadi pekerja sosial pada PMA perkebunan kelapa sawit yang site-nya berada di Desa Mangkalapi, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Pada awalnya saya menganggap tidak ada yang istimewa dengan Desa Mangkalapi, karena saya asumsikan bahwa semua Desa pada umumnya sama tidak ada keunikan, sebagaiman desa-desa lain yang pernah saya sambangi atau saya teliti.

Namun seiring waktu, entah mengapa pada pekan pertama bekerja seolah-olah hati kecil saya mengatakan bahwa ada sesuatu di Desa Mangkalapi, entah ada keterkaitan batin apa, yang pasti ketika melakukan assessment atau kajian dasar terkait kondisi sosial desa dan social mapping, keinginan saya menanyakan historical desa kepada kepala Desa dan tokoh-tokoh tetua desa sangat menggebu, dibandingkan mengeksplorasi data lain. Pada akhirnya feeling saya yang kuat mulai terbuka ketika saya mewawancarai Kai sawal (kai; sebutan untuk kakek atau yang dituakan dalam bahasa banjar) yang saat ini umurnya tidak diketahui, tapi sepertinya sudah lebih dari 70 tahun. Beliau menanyakan asal daerah saya “ikam asli manakah?” artinya “kamu aslinya darimana”, saya jawab “Ulun dari Banten”, beliau sambung lagi “urang sundakah ikam?”, dari “suku sundakah kamu?”. Setelah itu saya jawab “Iya Kai, suku saya sunda”. Nah ketika Kai tahu kalau saya bersal dari sunda berubahlah air muka kai tersebut, yang awalnya agak acuh menjadi sangat menghormati saya, yang terbilang masih sangat muda:p. Justru sikap kai tersebut membuat saya menjadi canggung. Lalu saya tanya lagi “ada apa gerang kai?” lalu mengalirlah cerita dari Kai mengenai sejarah zaman pemberontakan di Desa Mangkalapi, dan beliau adalah satu-satunya saksi sejarah yang masih hidup.

Hampir semua orang ketika belajar sejarah saat SMP atau SMA pernah mendengar pemberontakan Ibnu Hajar yang berlokasi di Kalimantan Selatan, tak dinyana ternyata tempat persembunyian gerombolan tersebut berlokasi di Desa Mangkalapi, para desertir pejuang 45 yang kecewa ketika dilakukan rasionalisasi keanggotan dan kepangkatan TNI kemudian menjadi “pemberontak” (versi cerita warga lokal) dan menjadikan Desa tersebut sebagai tempat persembunyian sekaligus basis logistik. Disisi lain kondisi Desa Mangkalapi yang tadinya ramai dan damai menjdi mencekam, mayoritas penduduk Desa dikarenakan dilanda ketakutan dan ancaman dari gerombolan Ibnu Hajar, karena harta kekayaannya dirampas, pada akhirnya mengungsi ke desa-desa lain dan sebagian lainnya membentuk Desa baru.

Melihat kondisi di Kalsel tidak kondusif, membuat pemerintah pusat tidak tinggal diam, mengirimkan pasukan penumpas pemberontak yang ternyata kodam yang diutus ke Kalsel dan masuk hinga ke pedalaman Mangkalapi adalah berasal dari Divisi Siliwangi Bandung. Mereka bergerilya masuk kehutan-hutan memberantas gerombolan Ibnu Hajar, dan Kai sawal ternyata salah satu orang kampung yang diperbantukan ABRI dalam logistic militer mengangut bayonet, peluru dan lain-lain.

Memang sangat harum nama Siliwangi dan orang-orang sunda di Desa Mangkalapi dan sekitarnya karena keheroikan mereka menumpas pemberontakan Ibnu Hajar sampai sayapun yang bukan pejuang apa-apa begitu dihormati karena berasal dari sunda. Ternyata inilah jawaban atas ‘kereteg hate’ saya ada apa sebetulnya di Desa Mangkalapi, ibaratnya ada daya magnet di diri saya untuk mengetahui sejarah desa lebih dalam.

Terjawab sudah pertanyaan saya mengapa kok di Desa Mangkalapi, pedalaman nun jauh di Kalsel terdapat orang-orang yang berbahasa sunda, setelah dikaji ternyata ada dua golongan orang sunda di sana. Pertama, adalah keturunan dari para pejuang siliwangi yang tidak pulang ke Bandung melainkan menikah dengan orang suku banjar, dan generasi yang ada sekarang adalah generasi ketiga dan keempat atau cucu dan cicit. Kedua, orang sunda yang merupakan transmigran dari ciamis, sukabumi, cianjur, dan sumedang yang juga saat ini sebagian sudah menjadi generasi kedua dan ketiga, yaitu anak dan cucu. Hal yang unik adalah bahasa sunda mereka masih khas sudan priangan yang halus dan terus mereka lestarikan dalam bahasa keseharian, namun mereka tidak tahu asal mereka dari mana percisnya seperti nama kecamatan atau desa, karena ketika ditanya “Ibu Sukabumina di palih mana?”, beliau ahanya menjawab “ah pokonamah sukabumi, eta di jawa barat tea”, dimata mereka sukabumi adalah nama tempat yang mereka anggap sempit seperti kampung yang ada di Jawa Barat, padahal begitu luas Kabupaten atau Kota Sukabumi. Namun sayang transmigran sunda sebagian besar tidak berhasil dikarenakan menurut mereka tidak diberikan sumber penghasilan tetap seperti dari kebun karet atau sawit. Namun demikian saat ini sebagian besar transmigran sunda menjadi pekerja harian lepas di perkebunan tempat saya bekerja.

Secara fisik memang sudah tidak tampak lagi bekas-bekas herosime siliwangi di Mangkalapi, tapi semua warga Desa Mangkalapi tahu, begitu besar jasa Kodam siliwangi dalam menumpas pasukan desertir Ibnu Hajar dan membuat wilayah mereka aman. Anak, cucu, dan cicit mereka yang kini tersisa di Desa tersebut dan satu yang saya kenal sukses adalah Pak Kaspul, seorang pengusaha angkutan Batubara yang beristrikan orang banjar dan sangat bangga dengan almarhum ayahnya “orang Sumedang” yang sudah meninggal dan dikebumikan di Desa Mangkalapi.

Luar biasa perjalanan jauh ke pedalaman Desa Mangkalapi, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, ternyata merupakan ‘petualangan batin’ bertemu dengan ‘ruh siliwangi’ dan bertemu dengan saderek sadulur orang sunda. Hehe walau demikian sampai sekarang belum dapat jodoh orang sunda made in Desa Mangkalapi.

*mohon maaf tidak ada pemihakan akan sejarah Ibnu Hajar karena ada versi “pahlawan” dan ada versi “pemberontak”, saya hanya menuturkan cerita masyarakat setempat.

10 comments

Leave a Reply

Sketsa