Diberdayakan oleh Blogger.

KRITIK DAN SORBAN TERBANG


posted by rahmat rahmatullah on

4 comments

Mungkin diantara kita pernah mendengar sebuah idiom “Jangan sekedar mengkritik, tapi bertanggungjawablah atas kritik yang kita sampaikan”. Idiom yang sederhana, tapi kalau kita coba memaknainya lebih dalam, dan berupaya keras mengamalkannya, maka akan dahsyat dampaknya. Saat ini terjadi penyempitan makna dari kata kritik, jika orang dahulu baru berani memberikan kritik, ketika merasa sudah mengamalkan apa yang akan dikritikan, atau memberikan kritik sambil juga menjabarkan solusi dan menjembatani proses perbaikannya. Sedangkan saat ini, kritik lebih identik dengan istilah “munafik”. Mereka yang menyampaikan kritik ibarat peluru yang dihamburkan senapan, tidak tentu arah bahkan terkesan “membunuh” orang lain. Kritik biasanya identik dengan karma dan penyakit lupa. Sering kita terlibat dalam sebuah forum baik itu rapat di tingkat RT, kampus, kelurahan, DPRD/ DPR dan mungkin dalam rapat terkait proyek pekerjaan bahkan juga terkait hubungan dengan NGO. Tidak jarang kita dihujani kritik yang hebat, dianggap pekerjaan yang dilakukan tidak becus, dihujat dan dimaki-maki, malah tidak jarang direkomendasikan untuk diberhentikan dalam sebuah jabatan oleh forum. Tapi yang menjadi anomali adalah mereka yang pernah mengkritik, tidak jarang ketika suatu saat diberikan amanah yang sama, lupa akan kritik yang pernah diberikannya kepada orang lain, dan malah gagal dalam proses kepemimpinannya.
Mengkritik merupakan proses bercermin, ketika tidak sambil memandang wajah sendiri tidak jarang kritik malah menjadi karma, ibarat menjilat ludah sendiri dan lupa dengan apa yang pernah dikatakan. Ada hal menarik mengenai kritik terkait dengan sebuah pengalaman sederhana. Menjadi seorang asisten CSR (Corporate Social Responsibility) pada sebuah perusahaan membutuhkan kedekatan dengan masyarakat lokal guna terbangunnya respek masyarakat terhadap perusahaan. Walaupun terdapat kantor namun dalam keseharian saya lebih banyak bekerja keliling desa di sekitar operasional perusahaan, untuk menanyakan kondisi, mendengarkan keluhan dan menggali informasi mengenai tanggapan masyarakat terhadap perusahaan. Suatu kali saya terlibat obrolan dengan Sekretaris sebuah desa, tepatnya Desa Mangkalapi, membahas mengenai program-program keagamaan desa, dan pada akhirnya pembicaraan terfokus membahas mengenai kritikan saya kepada Sekdes mengenai pelaksanaan khotbah shalat jumat di mana khatib yang naik mimbar biasanya begitu terfokus membaca buku khotbah yang kadang tema yang dibacakan itu-itu saja, tidak nyambung dengan kondisi desa atau situasi kontemporer, terlebih istilah yang digunakan dalam buku khotbah tidak banyak dimengerti oleh masyarakat desa, seperti istilah: substansi, komitmen, sugesti, siginfikan, implementasi, milenium. Yang pada akhirnya jamaah jumat sebagian besar tertidur bukan mendengarkan khotbah.
Dibalik kritikan tersebut ternyata tidak main-main, dalam jadwal khotbah jumat pekan berikutnya nama saya dicantumkan sebagai khotib oleh Sekdes tanpa sepengatahuan saya, dan otomatis sorban putih sebagai tanda khotib harus tersampir di bahu saya. Saya pun kalang kabut karena seingat saya menjadi khotib terakhir adalah lima tahun lalu saat SMA, akhirnya saya mengingat-ingat kembali rukun dan syarat khotbah serta menggali materi terkini berkaitan dengan kondisi desa. Hamdulillah disaat saya khotbah, tidak harus membaca buku karena apa yang saya sampaikan sudah saya hafalkan diluar kepala, dan ternyata berhasil membuat jamaah jumat tidak satu orang pun tertidur.
Rupa-rupanya hari jumat menjadi hari yang menegangkan buat saya karena sampai dengan saat ini, jika saya shalat jumat di Desa Mangkalapi terjadwal atau tidak terjadwal sebagai khotib, sorban putih selalu terbang dan mendarat di bahu saya menandakan saya harus menjadi khatib, dan mustahil sorban tersebut saya pindahkan ke bahu orang lain karena sama saja tidak menghargai kepercayaan yang diberikan masyarakat desa, walaupun di desa tersebut terdapat tokoh-tokoh tua dan pemuda. Pernah dalam satu bulan, empat minggu berturut-turut saya menjadi khatib, yang menjadi masalah adalah kapasitas materi yang harus saya sampaikan semakin lama semakin habis, sampai saya kebingungan apalagi yang harus saya sampaikan dalam khotbah jumat, karena tinggal di hutan akses materi untuk khotbah juga sangat terbatas. Terkadang daripada terbentuk ketergantungan dari warga terhadap saya selain karena kondisi saya yang tidak siap untuk khotbah, dikarenakan “isi kepala” yang sudah kosong , pada akhirnya saya sering mengungsi shalat jumat di desa lainnya (kabur:p).
Itulah makna dari sebuah kritik, ternyata saya yang mengkritik maka saya pulalalah yang harus bertanggungjawab menjadi pelaku perbaikan dan kalau bisa sekalian menjadi teladan dalam pelaksanaan khotbah di kampung. Terbayang kalau saya mengkritik mengenai shalat jumat dan ketika saya diminta jadi khotib tidak bisa betapa malunya, lantas apa kekuatan sebuah kritik ketika kita dihadapkan pada situasi menjadi aktornya ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Makanya bercerminlah sebelum kita mengkritik apapun, jangan sampai ketika kita diberikan kesempatan menjadi aktor malah lari dari tanggungjawab.

4 comments

  1. Teguh
  2. Anonim

Leave a Reply

Sketsa