Diberdayakan oleh Blogger.

Kada Kawalah


posted by rahmat rahmatullah on ,

1 comment

Menjadi asisten CSR (Corporate Social Responsibility) pada sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit, mengantarkan saya kepada tugas untuk bisa dekat dengan masyarakat lokal, diterima kehadirannnya, bisa menjadi pendengar segala keluhan dan berupaya keras mewujudkan harapan masyarakat terkait hubungannya dengan perusahaan, dan tidak jarang saya harus menjadi bumper bersama Humas untuk menyelesaikan sengketa, baik itu berkaitan dengan agraria maupun hal lainnya.

Ketika kita berada pada sebuah komunitas baru, tuntutannya harus siap dengan segala perbedaan yang ada, melihat perbedaan bukanlah sebuah kekurangan, melainkan berupaya memaknainya sebagai keanekaragaman yang justru memperindah. Secara kebetulan lokasi saya bekerja bekerja berada di Kabupaten Tanah Bumbu, sebuah kabupaten baru berada paling Selatan Pulau Kalimantan, dimana mayoritas masyarakatnya beragama Islam, bersuku banjar , dan menggunakan bahasa banjar sebagai bahasa keseharian.

Sangat Menarik ketika ketika sedikit saja kita membahas Bahasa Banjar, bahasa yang logatnya tidak sulit dipelajari karena induknya berasal dari bahasa melayu, selain juga terdapat banyak serapan Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda. Namun hal yang paling unik adalah banyaknya partikel atau akhiran yang digunakan dalam setiap akhir kata atau kalimat. Karena banyaknya penggunaan partikel atau akhiran kata itulah yang menjadikan Bahasa Banjar begitu khas.

Berkaitan dengan Bahasa Banjar mengantarkan saya pada pengalaman menarik, hal tersebut terjadi ketika pekan pertama bekerja saya bekerja, sudah menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dilakukan oleh seorang asisten CSR ketika berada pada wilayah atau komunitas baru, yaitu melakukan familiarisasi atau silaturahmi, mengadakan kunjungan (assessment) ke desa-desa sekitar wilayah operasional perusahaan untuk memperkenalkan diri sekaligus juga mengenalkan profil perusahaan lebih dekat kepada masyarakat, supaya terjalin kepercayaan dan hubungan yang harmonis sebagai modal dasar izin lokal beroperasinya perusahaan.

Pada saat awal silaturahmi inilah kekurangan pengetahuan ke-lokalan menjadikan saya tidak pede dan mikir apa yang sebetulnya salah pada cara bicara saya. Sebetulnya masalahnya sederhana, berkaitan dengan bahasa banjar yang banyak menggunakan kata fungsi atau partikel –lah atau –kah sebagaimana dijelaskan diatas. Awalnya saya berpikir kenapa sih orang banjar kalau diajak ngomong sepertinya gak ikhlas, mau gak mau dalam menjawab, karena setiap mereka bertanya atau menjawab selalu dengan kata-kata yang berakhiran –lah, atau –kah. Dalam bahasa Indonesia atau bahasa keseharian kita, penggunakan akhiran –lah sepertinya menunjukkan ketidaktulusan atau jawaban semaunya seperti “ ya iyalah”, “gak usahlah”, “apa artinyalah”. Sedangkan akhiran –kah, dalam keseharian kita bermakna pertanyaan sekaligus menunjukkan keraguan seperti “karena apakah?”, “iyakah?” atau “harus begitukah?”, bertanya tapi seolah-olah kurang tulus.

Jangan salah dengan bahasa banjar, persepsi awal saya dengan cara orang banjar yang saya nilai kalau bicara sepertinya gak ikhlas atau gak sungguh-sungguh merupakan kesalahan total. Penggunaan akhiran dalam bahasa banjar merupakan pemanis kata, atau penguat untuk menunjukkan sebegitu antusiasnya mereka dalam menanggapi obrolan. Bagi masyarakat banjar berbicara tanpa akhiran –lah, - kah, atau akhiran lainnya, ibarat makan tanpa garam, “gak berasa”, karena itulah kekhasan mereka. Jangan heran jika akhiran yang sering digunakan tidak hanya –lah atau –kah. Tapi masih banyak lagi, ada –jar, -pang, -am, -ja, -ha,- gin, -aja, dan –ay.

Lumayan satu pekan gak pede dan stress juga menganggap orang banjar sepertinya gak suka, gak ikhlas, atau terpaksa dalam menanggapi pembicaraan karena banyaknya akhiran yang digunakan. Justru kebalikannya semakin banyak akhiran yang mereka gunakan, mereka semakin menunjukkan begitu antusiasnya menanggapi pembicaraan kita. Halah..

1 comment

Leave a Reply

Sketsa