Diberdayakan oleh Blogger.

KEMERDEKAAN SEMU


posted by rahmat rahmatullah on

3 comments


“Mereka puas dengan angan-angan, tapi tak lulus dari ujian nyata,
mereka mengarungi lautan perjuangan,
tapi tak kunjung meraih kemenangan” (syair arab)
Tak terasa ritual kemerdekaan telah berulang hingga yang ke-65, berbagai aktivitas dilakukan, berbagai seremoni diketengahkan dalam situasi masyarakat yang serba sulit, hingga begitu banyaknya dana dianggarkan dalam memperingati 17 Agustus 1945. Jika diakumulasi di seluruh wilayah Indonesia entah berapa miliar biaya yang telah dikeluarkan baik oleh masyarakat maupun instansi pemerintah hanya untuk menggebyarkan ritual tahunan kemerdekaan.
Menarik, jika kita mengaitkan sebuah peristiwa dengan sesuatu yang di lakukan berulang-ulang secara fisik, yakni istilah “ritual”, bisanya kata tersebut dipadankan dengan kata “spiritual”. Ritual menurut Kamus Besar bahsa Indonesia (KBBI), berkenaan dengan ritus yang bersumber pada gerak, di lakukan berulang-ulang secara fisik, sedangkan spiritual adalah kejiwaan, rohani, batin, mental atau moral, secara sederhana ada nilai spirit untuk melakukan perubahan dan perbaikan di dalamnya, berkenaan aktivitas ritual. Jika kita analogikan ke dalam shalat, ada nilai yang berbeda antara shalat hanya sekedar ritual atau aktivitas gerak rutin semata yang dampaknya nyaris tidak ada, dengan shalat spiritual yang memang di landasi nilai batin (khusuk), efek setelah melakukan shalat adalah hadirnya spirit untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik. Sama halnya dengan HUT RI, yang semakin sering di peringati, ternyata semakin garing, sehingga selesai ritual sama sekali tidak ada efek peubah, tidak ada nilai refleksi yang terkristalkan, tidak ada semangat untuk melakukan perubahan menuju lebih baik, yang terjadi hanyalah histeria massa, efek sejenak, lalu lupa akan substansi perjuangan yang terefleksi melalui pengorbanan jiwa dan raga. Wajar jika masyarakat dari kota sampai desa mengartikan 17 agustus adalah lomba panjat pinang, balap karung dan lainnya yang hanya sekedar membuat gembira sejenak, karena tidak ada efek dengung pemaknaan hakikat merdeka yang seharusnya terus menerus diingatkan oleh pemerintah.
Berbagi nilai adalah sebuah kewajiban mengenai substansi kemerdekaan, secara fisik atau kedaulatan, negeri kita memang merdeka, tetapi secara substansi negeri ini sama sekali jauh dari nilai merdeka. Merdeka yang terbelenggu, karena dari dulu hingga sekarang kemerdekaan belum menjadi spirit sebagai turning point perubahan. Ukuran yang paling akurat keterbelengguan adalah keberadaan Indonesia di bawah ketiak negara adikuasa, nyaris di segala aspek kehidupan. Sadar atau tidak sadar kemerdekaan yang terjadi di Indonesia hanyalah model peralihan dari penjajahan geopolitik dengan pola ekspansi wilayah menuju geoekonomi (penjajahan tersirat) yang justru memiskinkan sekaligus menghisap keringat dan darah secara tidak terasa (Cascio.W.F.1998).
Tanpa sadar kita menjadi konsumen terlaris program hak asasi manusia (HAM), yang gemanya terdengar ke mana-mana, Negara adikuasai menggelontorkan dana tak terkira untuk membiayai operasional lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM), tujuannya tidak lain agar masyarakat memiliki keberanian dalam menentang kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat, tujuan latennya semakin mempermudah negara adikuasa dalam menggalang opini publik untuk menyudutkan pemerintah yang sedang berkuasa. Maka tak jarang begitu leluasanya negara lain mengintervensi Indonesia dengan mengatasnamakan terjadinya pelanggaran HAM (Ontario public library, 2003).
Begitu gencarnya pendidikan demokrasi diajarkan di Indonesia mulai dari sekolah dasar hingga pasca sarjana, berbagai pola adaptasi demokrasi negera maju, dipaksakan untuk diaplikasikan di Indonesia padahal banyak nilai yang justru bertabrakan. Kebebasan mengeluarkan pendapat dijadikan parameter negara adikuasa mempengaruhi opini publik setempat supaya masyarakat memiliki keberanian dalam berbeda pendapat, sehingga perbedaan pendapat berhasil terkolektifkan, tujuannya memisahkan diri dari negara induk. Kedepannya negara-negara adikuasa akan lebih mudah mendukung salah satu partisan dengan dalih memperjuangkan demokrasi.
Berbagai jenis bantuan mulai dari bantuan program hingga hibah di tebar di negara-negara berkembang, sampai akhirnya Indonesia menjadi negara terbesar yang mendapat bantuan pinjaman dari negara atau lembaga donor dunia. Jelas sekali jika Amerika Serikat secara tidak langsung memberikan doktrin ekonomi bebas dan merdeka, menganjurkan pemerintah melakukan restrukturisasi aset-aset negara, yang pada akhirnya sudah berapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di privatisasi, mayoritas sahamnya dimiliki negara lain. Dampak sebuah pinjaman adalah menciptakan tingkat dependensi suatu bangsa terhadap bangsa lain semakin tinggi. Karena modal investasi negara-negara adikuasa mendominasi pembelian dan penjualan aset-aset negara yang sedang diperjualbelikan di pasar modal. Bentuk penjajahan tidak hanya dalam bantuan ekonomi dan sosial, justru yang sekarang berkembang adalah bentuk bantuan atau kerjasama keamanan. negara adikuasa berupaya semaksimal mungkin membantu para sipil atau pemberontak yang diharapkan bisa bekerjasama dengan negara adikuasa. Oleh karena itu terdapat milisi separatis di Indonesia yang memiliki persenjataan modern dan lengkap mengalahkan persenjataan TNI, dan sangat mustahil jika tidak ada pihak yang mendanai atau mensponsori. Hal lain, pelan tapi pasti berhasil melumat substansi kemerdekaan bangsa kita adalah kerjasama pendidikan, ibarat buah simalakama, di satu sisi human invesmen adalah tuntutan zaman untuk mampu menyejajarkan dengan bangsa lain, di sisi lain ternyata bentuk kerjasama pendidikan disinyalir merupakan bentuk baru penjajahan. Apa yang terjadi sekarang, negara adikuasa memperkenalkan konsep pendidikan integral, konsep free market dan kompetisi menjadi salah satu acuan dasar bisnis. SDM negara-negara berkembang terbuai konsep “brosperity” sebagai lambang atau status keberhasilan. Secara ideologispun terjadi upaya pendegradasian value yang dimiliki Indonesia, dengan menghujamkan idiologi barat, sebagai simbolisasai kemapanan.
Dalam buku Can Asians Think? Kishore Mahbubani menguraikan betapa panjangnya perjalanan sebuah negara untuk bisa maju, berdikari dan menuju puncak kemapanan. Inggris membutuhkan waktu 58 tahun (dari tahun 1780), 47 tahun bagi Amerika (dari tahun 1839), dan  33 tahun bagi Jepang (dari tahun 1880-an). Di sisi lain butuh waktu 17 tahun bagi Indonesia, 11 tahun bagi korea selatan, dan 10 tahun bagi China. Namun yang menarik apa yang diuraikan Mahbubani mengenai Indonesia menjadi kritik tersendiri, karena sampai sekarang belum terjadi perubahan signifikan, apalagi untuk dikatakan berdikari, jauh tertinggal dari Korea selatan, pedahal mengalami siklus krisis yang sama di tahun 1997-1998. Mengapa demikian? Karena kita belum terlepas dari belenggu yang dikemas dalam bentuk ketergantungan kronis terhadap negara lain. Makanya tak heran jika di Indonesia berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Petani penggarap sawah selamanya akan tetap menjadi petani penggarap, tidak akan berubah hidupnya menjadi petani pemilik sawah, karena jumlah penghasilannya tidak akan pernah meningkat, begitupula buruh bangunan tidak akan berubah menjadi pemborong atau pemilik bangunan, supir tidak akan berubah menjadi pengusaha transportasi, nelayan tidak akan naik stratanya menjadi pemilik perahu, karena kadar penghasilan dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Perubahan hanya akan bisa terjadi di mulai dari adanya pemaknaan yang dalam akan subsatnasi kemerdekaan, dan perubahan sisitem secara radikal.
Beranjak dari kemerdekaan semu, sebetulnya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka merubah ada yang ada pada diri mereka sendiri”. Ketentuan itulah yang oleh Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis, yang diriwayatkan Abu Dawud uraikan sebagaimana kondisi kita saat ini: “Hampir seluruh umat akan mengalahkan kamu, sebagaimana makanan hampir dekat kepada piring, lalu seorang dari mereka berkata; Apakah karena sedikitnya kita ketika itu? Beliau bersabda: Bahkan pada hari itu kamu adalah golongan ummat yang banyak, akan tetapi kamu seperti buih di permukaan air, dan Allah menghilangkan rasa takut dari dalam jiwa musuhmu, dan menurunkan ketakutan dalam hatimu (wahn). Seorang berkata; wahai Rasulullah apakah wahn itu? Beliau menjawab; ialah penyakit cinta dunia dan takut mati.”
Hal inilah yang membuat Negara kita terus terperangkap dalam kondisi ‘hidup segan mati tak mau’; jiwa masyarakat semakin kerdil, hati lemah dan hampa dari akhlak yang mulia dan sifat ksatria. Bagaimanapun juga kita harus segera beranjak dari kemerdekaan semu (silhoite kemerdekaan) menuju kemerdekaaan substantif. Dari kemerdekaan yang masih dikendalikan bangsa lain, dari kungkungan budaya konsumtif kronis, dari penyakit wahn yang menghalalkan segala cara, dari kelatahan trend zaman. Semoga kedepan peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi ritual yang memubazirkan dana, tapi telah berubah disertai nilai spiritual yang menjadi titik balik perubahan yang menggetarkan dunia, mampu mengejar Malaysia, singapura, India, terlebih banyak belajar dari “The Miracle China”.

3 comments

Leave a Reply

Sketsa