Diberdayakan oleh Blogger.

MEMBACA BANTEN, MEMBACA INDONESIA


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments



EMPAT JAWARA SEDARAH DAN SEPERGURUAN DARI PANDEGLANG MENULIS BUKU “BANTEN BANGKIT #2: MEMBACA BANTEN, MEMBACA INDONESIA” SEBAGAI KADO OTAK UNTUK SEPULUH TAHUN BANTEN
Setelah menjadi Provinsi, Banten mengalami dinamika di berbagai bidang. Di bidang politik, terdapat pemusatan kekuasaan yang kemudian bertransfomasi menjadi klan politik. Kemasan dari kepemimpinan yang bersumber dari klan ini bisa jadi adalah kepemipinan kaum muda. Mitos lama yang dikemas demi kepentingan politik sebuah kelompok. Hal ini tumbuh diikuti kegagalan partai-partai politik di tingkat lokal dalam menjalankan fungsi dan peranannya.
Di bidang sosial terdapat banyak dinamika: tumbuhnya media massa lokal, disparitas kaum sejahtera dan kaum papa, serta kurang berhasilnya peran kaum swasta (bayak sekali indistri di banten) dalam menjalankan tanggungjawab sosialnya (baca: Corporate Social Responsibility). Padahal Banten memiliki semua syarat untuk menjadi salah satu daerah terkaya di Indonesia. Aspek lain yang harusnya menjalankan peran utama adalah pendidikan. Namun dunia pendidikan tak putus dirundung persoalan. Problematika sertifikasi guru, link and match, politisasi dunia pendidikan sampai kegagalan peran sosial perguruan tinggi menjadi dinamika serius dalam dunia pendidikan.
Ketiga hal diatas: politik, sosial, dan pendidikan yang menjadi sorotan Abdul Malik, Zainal Mutaqin, Abdul Hamid, dan Rahmatullah di buku seri “Banten Bangkit #2: Membaca Banten, Membaca Indonesia” (Gong Publishing, Agustus 2010).  Keempat jawara sedarah dan seperguruan asal Pandeglang ini mencoba mengedepankan otaknya untuk  mengembalikan kejayaan Banten masa lalu lewat tulisan. Setelah pensiun sebagai Redpel dan Litbang Radar Banten, kini Abdul Malik menjbat ketua Prodi Ilmu komunikasi Unsera. Adiknya,  Zainal Mutaqin kini PNS di Bappeda Pandeglang. Disela karir birokrasinya, Zainal masih  mengajar di Untirta, STIA Banten dan STIE Banten, disamping menjadi pembicara pada beberapa diskusi dan seminar di Banten.  Pada September 2010 ini Zaenal akan kembali meninggalkan tanah air melanjutkan studi PhD-nya pada Development Policy Study, IDEC Hiroshima berkat beasiswa dari Bappenas dan JICA. Jawara berikutna, Abdul Hamid, mengajar di Jurusan Ilmu Politik FISIP UI dan Prodi Administrasi Negara Untirta setelah pencalonannya sebagai Calon Anggota DPD RI kandas pada tahun 2004. Jawara termuda, Rahmatullah, saat ini masih belajar CSR, CD dan Kemiskinan pada Program Pascasarjana Ilmu Kesejaheraan Sosial FISIP UI, bermodalkan beasiswa Building Professional Social Worker (BPSW) New York. Tulisan terkait masalah sosial, kemiskinan, CSR, Microfinance, dll, yang terpublikasikan di berbagai media, terangkum dalam blog : www.pekerja-sosial.blogspot.com.
Ketika ditanya tujuan penulisan buku ini, Hamid melontarkan kekesalannya seperti saat diskusi po “Politik Dinasti“ di Rumah Dunia, akhir Desember 2009. “Kami sudah bosan takut!“ Alasan itulah yang membuat mereka berkumpul kembali di kampung halaman, berikhtiar memajukan perguruan Banten ke arah lebih baik. Buku ini sebagai kado mereka untuk sepuluh tahun Banten. Suatu saat, impian mereka akan terwujud! Banten pasti bangkit!
 Selama ini keempat jawara malang-melintang di rimba pertulisan lokal dan nasional. “Saya merasa tersanjung bisa menerbitkan buku empat jawara sedarah dan seperguruan ini,” aku Gol A Gong, Direktur Gong Publishing. “Mereka calon penimpin Banten masa depan, yang akan mengedepankan otak, ketimbang otot. Gagasan-gagasan kelokalan mereka bernas. Asli lokal, tapi mengglobal!”
Buku seri “Banten Bangkit #2: Membaca Banten, Membaca Indonesia” ini akan diluncurkan pada acara “Nyenyore ala Rumah Dunia”, Sabtu 28 Agustus 2010, pukul 16.00 – 17.30 WIB. Diskusi sambil buka puasa. Gratis. Silahkan Gabung. Gong juga menginformasikan, bahwa setelah lebaran seri buku “Banten Bangkit #3: Membangun Peradaban Baru”, yang ditulis 25 wong Banten akan terbit.
*** 
APA KATA MEREKA TENTANG
KEEMPAT JAWARA PENA
DARI PERGURUAN PANDEGLANG

Ibarat makanan, buku ini enak sekaligus menyehatkan. Isinya yg membahas isu-isu sosial dan politik, termasuk pendidikan niscaya membuat buku ini sangat bermanfaat utk memahami situasi sosial politik akhir2 ini. Dengan bahasa dan gaya penyampaian yg mudah dipahami, membuat buku ini enak dibaca. Yg tak kalah penting pula adalah keempat aktivis cum intelektual yang muda dan bersemangat selaku penulis... ternyata adalah kakak beradik seayah dan seibu (Ibnu Hamad, Profesor bidang Ilmu Komunikasi FISIP UI)
”Buku ini merupakan bukti nyata ikhtiar mereka untuk melakukan perubahan di lingkungan masing-masing. Semuanya dapat menjadi karya yang dapat berumur sejarah, yang dapat melampau umur biologis mereka.  Hidup seseorang bisa berhenti kapan pun, buku sebagai karya seseorang akan abadi. Saya yakin, kumpulan esai ini akan melecut mereka agar lebih giat lagi untuk mencetak karya-karya berikutnya, setidaknya bagi keluarga mereka. (Ahmad Mukhlis Yusuf, Direktur LKBN Antara)
”Ini langkah awal untuk melakukan hal yang jauh lebih strategis dan bermanfaat dari sekadar menerbitkan buku. Lima atau sepuluh tahun ke depan mereka akan mampu mewarnai Banten, atau bahkan Indonesia.” (Ir. Agus Tauchid, S. MSi Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi  Banten)
Agenda:
Launching “Banten Bangkit #2: Membaca Banten, Membaca Indonesia” akan diluncurkan pada acara “Nyenyore ala Rumah Dunia”, Sabtu 28 Agustus 2010, pukul 16.00 – 17.30 WIB. Diskusi sambil buka puasa. Gratis.
copywrite: Gol A Gong

2 comments

Leave a Reply

Sketsa