Diberdayakan oleh Blogger.

LAUNCHING BUKU MEMBACA BANTEN MEMBACA INDONESIA


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Bedah Buku Perdana di Rumah Dunia

Pada akhirnya terwujud sudah salah satu mimpi membukukan kumpulan tulisan, terlebih ditengah-tengah waktu yang istimewa yaitu bulan ramadhan 1431 H. Buku yang di launchingkan tanggal 28 Agustus 2010 bertempat di Rumah Dunia, Serang merupakan naskah yang sudah dikumpulkan ramadhan setahun sebelumnya, dikarenakan tulisan-tulisan yang ada merupakan catatan dari berbagai peristiwa tentang Banten dan Indonesia sejak tahun 2007, yang secara kebetulan terpublikasikan di berbagai media, maka tidak ada salahnya jika catatan-catatan tersebut dihimpun dan diterbitkan, agar  monumen sejarah akan suatu peristiwa yang terkandung tetap bisa dijadikan sebagai referensi dan pelajaran.


Kendala tertundanya penerbitan selama satu tahun disebabkan proses panjang diskusi mengenai tulisan mana yang harus dimunculkan, layak dikonsumsi publik, tanpa harus mengkritik, konsrukstif, dengan tidak harus membuat sakit hati siapapun yang membacanya. Yang pada akhirnya dilakukanlah penyortiran sekaligus pengurangan 10 artikel.



Nomena Sebuah Buku
Teradapat dua intisari dalam buku Membaca Banten, Membaca Indonesia (Membangun Karakter Menebar Pemikiran). Intisari pertama, buku ini ibarat sebuah miniatur atau monumen, dimana ketika kita ingin tahu Indonesia, maka bisa dilihat dari kondisi kelokalannya dalam konteks ini adalah banten, karena kondisi lokal pada dasarnya mewarnai nasional, baik dari sisi politik, sosial, budaya dan pendidikan, yang tentunya dalm buku ini dikupas berdasarkan kapasitas keilmuan penulis masing-masing. Selain itu buku ini tidak melulu membahas masalah kebantenan, juga membahas masalah keindonesiaan, sebagai bentuk catatan beberapa peristiwa nasional dalam mindset lokal.
Gol A Gong beserta keempat Penulis (Rahmatullah, Abdul Hamid, Zainal Muttaqin, Abdul Malik)

Intisari kedua dalam buku ini adalah mengenai “Jiwa buku", tidak banyak sebuah buku disusun oleh 4 orang laki-laki yang merupakan saudara kandung, maka tidak aneh jika Gol A Gong melukiskannya dengan istilah ‘empat jawara seperguruan’. Yang menjadi nomena bukan pada empat bersaudaranya melainkan pada bagaiman proses membangun karakter sehingga keempat-empatnya memiliki kemampuan dan keberanian dalam mengupas, menganalisa, menuliskan dan mempublikasikannya. Hal yang jauh lebih ditekankan dibalik semua ini adalah mengantarkan pada satu pemikiran, bagaimana proses orang tua mendidik, sehingga mampu melahirkan anak-anak yang memiliki kapasitas dalam menulis dan memberikan warna serta kontribusi pada lingkungan terdekatnya. Bukan sebaliknya biasanya saudara sekandung terlebih itu laki-laki identik dengan konflik, perselisihan, iri, perebutan warisan, dan sebagainya. Pesan terbesar dalam buku ini adalah bagaimana membangun karakter dimulai dari keluarga. 


Setidaknya ada pesan dalam buku ini, bahwa jangan berharap kita merubah lingkungan, masyarakat dan negara jika belum mampu memulai perubahan tersebut pada menumbuhkan identitas, sikap pada anggota keluarga. Jangan heran jika saat ini banyak pejabat publik yang istrinya adalah sosialita yang rajin belanja, anaknya pecandu narokoba, yang pada akhirnya terpaksa membuat pejabat publik tersebut melakukan praktik korupsi karena desakan pola hidup konsumtif keluarga, padahal pejabat publik tersebut dikenal ‘religius’.

Jalannya Soft Launching

Soft Launching, sengaja dilaksanakan di Rumah Dunia milik Novelis Gol A Gong yang banyak melahirkan novelis muda Banten maupun Indonesia. Tidak disangka acara yang dimulai pukul 16.30 sampai dengan datangnya waktu berbuka, dihadiri banyak peserta, bahkan diantaranya tidak mendapatkan tempat duduk. Berbagai elemen masyarakat menghadiri launching tersebut mulai dari ketua RT dan RW setempat, tokoh banten seperti mantan direktur Bank Bukopin Bapak Muchtar Mandala, Mantan direktur PT. Krakatau Steel,  Bapak Daenulhay, wartawan banten, sastrawan, pelajar dan mahasiswa banten.

Launching sendiri dimoderatori oleh Gol A Gong, dibedah secara ringkas oleh Bapak Gandung Ismanto (Dosen Universitas Tirtayasa) dan Bapak Embay Mulya Syarif (Tokoh Banten) dan sebagai pembedah dari perwakilan penulis adalah Abdul Hamid. Menjelang sesi tanya jawab Ibu Mursinah selaku Ibu dari keempat penulis memberikan testimonial mengenai bagaimana proses membangun karakter dalam keluarga yang pada akhirnya anak-anak yang telah dilahirkan mampu mewujudkan mimpi seorang ibunda.
Ibu dari Keempat Penulis

Pada dasarnya tidak ada yang istimewa dalam buku ini, karena buku ini tidak jauh berbeda sebagaimana buku-buku lainnya, hanya hal yang menarik adalah proses mebangun karakter dan identitas penulis, dan kemampuan 'mengikat' monumentum yang terangkum, merupakan sejarah berharga akan berbagai peristiwa yang bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi masyarakat banten khususnya dan masyarakat Indonesia.  Selamat membaca… dan menciptakan sejarah baru.

Leave a Reply

Sketsa