Diberdayakan oleh Blogger.

CERITA TETANGGA TENTANG KORUPSI


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Ada satu kebiasaan ibu yang sampai saat ini menjadi ritual ketika saya pulang ke rumah, yaitu bercerita akan peristiwa yang ibu alami selama saya tidak ada di rumah. Ibu seperti alat perekam nomor wahid karena keakuratannya dalam menuturkan berbagai kisah beserta runtutan waktu saat bercerita. Jika saya meninggalkan rumah seminggu, maka ibu akan berkisah tentang peristiwa selama seminggu, begitu pula jika sebulan, dan pernah saya terheran-heran ketika selama setahun meninggalkan rumah karena bekerja di Kalimantan, saat pulang untuk cuti, secara runtut ibu bercerita tentang peristiwa yang beliau alami untuk kurun waktu setahun kebelakang.
Terakhir saya pulang, ada satu cerita ibu yang membuat jidat saya berkerut dan pada akhirnya pikiran terus berpusar sampai sekarang. Oia, sebagai catatan, ketika bercerita, Ibu selalu berhati-hati dan berusaha menghindari fitnah, karena tujuan akhir ibu bercerita adalah untuk meminta pendapat apakah benar sikap yang ibu lakukan ketika merespon suatu kejadian, dan berharap pandangan dari anaknya.
Kembali ke cerita ibu yang membuat jidat berkerut tadi dan sengaja saya tuliskan, semoga apa yang ibu ceritakan menjadi renungan dan pelajaran buat kita. Pada suatu hari ibu didatangi seorang tetangga, yang tiba-tiba menangis dan meminta bantuan ibu, tetangga itu berharap agar ibu memberikan pinjaman karena dililit hutang yang jumlahnya puluhan juta rupiah. Tetangga itu mulai bercerita bahwa setiap hari datang orang ke rumahnya untuk menagih utang (debt collector) tidak mengenal waktu terkadang pagi siang, malam, bahkan subuh. Ibupun sebetulnya tidak menyangka jika akan diminta tolong oleh tetangga yang setahu ibu terlihat lebih dari berkecukupan, suaminya adalah PNS yang bekerja pada satu departemen identik dengan pembangunan infrastruktur, yang saban bulan berganti-ganti jenis mobil, anak-anaknya berpola hidup mewah dan selalu menggunakan gadget terbaru, rumah keluarga itu tak hentinya direnovasi, sang istri berpakaian ibarat etalase toko emas berjalan, dan banyak indikator lain yang membuat ibu dan tetangga lainnya menganggap tetangga tersebut berkecukupan atau boleh dikatakan hidup mewah.

Pada akhirnya ibu mencoba bertanya karena dirundung rasa tidak percaya, kok diminta tolong oleh tetangga yang ‘kaya raya’. Pada akhirnya si tetangga sambil meneteskan air mata mulai bertutur bahwa awal mula ia dililit utang sejak suaminya terlibat banyak proyek pembangunan jalan dan infrastruktur lain di tempat ia bekerja yang tentunya banyak menghasilkan uang, memang si isteri jarang bahkan tidak pernah menanyakan dari mana sumber rizqi suami selain gaji dan dengan cara apa didapatkannya. Karena merasa sang suami banyak uang walaupun tidak tahu asal muasalnya, menjadikan pola hidup keluarga tersebut berubah drastis. Dua mobil dan tiga motor baru mulai menghiasi garasi rumah, rumah yang tadinya satu lantai kini megah menjadi dua lantai, aneka perhiasan dibeli mulai dari cincin gelang kalung, dan giwang. Membeli tanah di berbagai tempat, anak-anaknya senantiasa bergonta-ganti hand phone, laptop dan boleh dikatakan keluarga tersebut menjadi konsumtif. Si tetangga tidak pernah menyangka awal petaka terjadi ketika kepala daerah berganti dan sang suami tidak dilibatkan dalam proyek-proyek baru, bahkan penegak hukum mencurigai jika uang yang sebelumnya didapat adalah dari korupsi. Maka yang terjadi berikutnya adalah sisa uang yang ada digunakan untuk menyuap aparat hukum agar kasususnya tidak diperkarakan.

Tentunya kondisi manis sejenak berubah drastis, berbagai barang yang dibeli rata-rata kredit dan hasil pinjaman dari bank dan pihak lain, karena memiliki asumsi bahwa walaupun banyak pinjaman akan segera tertutup, karena banyak masukan dari proyek. Rupanya roda nasib berputar dan pola hidup konsumtif keluarga, gejala sosialita sang istri malah menjebak suami melakukan praktik korupsi pada proyek-proyek yang dipegangnya.

Kondisi memperihatinkan sebagai bentuk hukum alam terjadi, dimana orang menagih hutang tidak pernah putus ke rumah tersebut, mulai dari yang menagih pembayaran kendaraan, pembayaran renovasi rumah, cicilan tanah, biaya telpon dan lain-lain, sampai pada akhirnya emas yang diapakai sang istri tandas, semua kendaraan disita, tanah digadaikan. Disisi lain anak-anaknya menjadi broken home karena selama ini diajarkan hidup konsumtif sebab sebelumnya ingin punya apapun di kabulkan, kaget dengan perubahan situasi dan berupaya menafikan ‘kejatuhan’ yang terjadi.

Sampai akhirnya sang tetangga tersebut bercerita bahwa saat ini untuk makan pun berhutang ke warung. Di akhir kisahnya si tetangga memohon ke Ibu untuk memininjamkan uang sekian juta karena sore nanti akan ada orang yang menagih, jika tidak dibayar, maka rumah yang ditinggalinya akan disita. Ibu pun bingung karena dirumah tidak punya apa-apa selain uang untuk makan sehari-hari, karena sebagai mantan PNS Guru, uang pensiun ibu pun tidak seberapa. Ibu dengan amat sangat memohon maaf ke tetagga karena hanya mampu membantu sekedar menambah uang untuk makan. Akhirnya si tetangga bergegas pulang ke rumahnya dengan hanya membawa uang untuk makan dari ibu. Esok harinya saat ibu berkunjung ke rumah tetangga ternyata rumah tersebut sudah kosong, tetangga lain pun tidak mengetahui keberadaan keluarga si ibu itu, yang mereka tahu adalah orang-orang asing yang tidak putusnya menagih hutang hingga tengah malam.

Memang nasib orang berputar, namun terkadang apa yang terjadi adalah “proses sengaja”. Hal yang membuat jidat saya berkerut tak karuan adalah, justifikasi akan sebuah kejadian bahwa praktik korupsi konon asal muasalnya dari keluarga. Saya menyimpulkan bahwa proses ini adalah sebuah rangkaian panjang dimulai dari seseorang menemukan jodoh atau pendamping hidupnya…

Tidak jarang seorang laki-laki atau perempuan amat pragmatis berharap jodohnya adalah laki-laki atau perempuan yang mapan (kaya), tidak memikirkan hartanya bersumber dari mana dan dengan cara apa, tidak pernah berpikir bagaimana akhlak calon istri atau suaminya, yang penting kaya plus rupawan.

Sangat jarang saat ini seorang istri ketika diberikan rizqi dari suami menanyakan  sumbernya dari mana, cara mendapatkannya seperti apa, padahal kedua pertanyaan tersebut adalah muara ketentraman hidup sebuah keluarga. Sangat langka seorang anak ketika dibelikan barang apapun oleh orang tuanya menanyakan asal usul sumber uangnya. Malah yang terjadi adalah dengan penghasilan suami yang alakadarnya sang istri ‘menteror’ suami untuk membeli ini dan itu, mencicil ini dan itu, yang diikuti anak-anaknya untuk dibelikan barang-barang mewah. Iya, tanpa sadar asal pangkal korupsi adalah keluarga.

Terkait mentalitas anak muda memang mengerikan akhir-akhir ini… sebagai anak zaman dulu, saya tidak pernah meminta dibelikan HP atau laptop kepada orang tua dikarenakan amat maklum dengan pendapatan mereka sebagai guru yang pas-pasan, bahkan untuk kuliah S1 dan saat ini S2 saya jatuh bangun mencari beasiswa. Sampai saat ini saya masih ingat jika HP yang saya miliki adalah honor saya dari penelitian ketika di Kalimantan Barat, Laptop yang saat ini saya pakai adalah hasil jerih payah melakukan penelitian dengan Lembaga Internasional di pedalaman Sukabumi, modem yang saya punya adalah honor dari menulis berbagai artikel di media, dan banyak perlengkapan yang saya punya hasil dari sebuah kerja keras yang insyAllah halal. Artinya barang yang saya miliki memiliki nilai sejarah dan kebanggaan tersendiri, dan rasa sayang terhadap barang tersebut amat sangat dikarenakan untuk mendapatkannya harus banting tulang peras keringat terlebih dahulu, bukan dari hasil memaksa kepada orang tua.

Bagaimana dengan anak zaman sekarang? Apapun yang diinginkan tinggal merengek pada orang tua, mau Honda jazz, blackberry, net book, dll, adalah hasil rengekan dan ‘ancaman’ terhadap orang tua, bahkan tanpa sadar anak-anak zaman sekarang telah “mengntimidasi” orang tuanya untuk melakukan korupsi, karena tuntutan gengsi dan gaya hidup.

Jika dulu kita melanjutkan studi ke perguruan tinggi memiliki kegigihan berjuan untuk bisa lulus SPMB atau SNMPTN, selain karena bangga bisa masuk perguruan tinggi negeri, membuat orang tua menangis bahagia akan perjuangan anaknya, karena kuliah dengan bayaran SPP yang jauh lebih murah. Bahkan tidak jarang banyak teman-teman memutuskan ikut SPMB tahun berikutnya jika gagal tahun sebelumnya, karena ingin membahagiakan dan tidak membebani orang tuanya.

Jauh berbeda dengan anak zaman sekarang, tidak punya ‘greget’ untuk bisa lulus dari jalur SNMPTN, karena merasa banyak jalur ujian lokal di PTN, padahal biaya yang harus dikeluarkan puluhan, bahkan ratusan juta. Memang ‘mental tempe’ telah menghiasi anak muda zaman sekarang, anak muda yang hanya bisa merengek dan memamerkan kekayaan orang tuanya, dan bahkan sekali lagi, bisa jadi pola hidup anak telah menjadi stimulan bagi orang tua untuk melakukan praktek korupsi dalam rangka memenuhi hasrat dan sang anak.

Tulisan ini hanyalah sebuah kegusaran berawal dari cerita ibu tentang tetangga, tapi memang membuka mata saya dan kita bahwa bicara korupsi jangan dulu jauh-jauh, ibarat semut ditepian terlihat dan gajah dipelupuk mata malah kita hiraukan. Ternyata asal muasal korupsi kecil maupun besar akarnya adalah ‘keluarga’, hasrat gaya hidup, tuntutan hidup mewah, dan intimidasi tanpa sadar yang dilakukan isteri atau anak. Cobalah budayakan dari sekarang untuk selalu bertanya “Pak rizqi ini sumbernya dari mana, cara mendapatkannya seperti apa”, atau “Ayah…selama ini membelikan ananda barang, uangnya dari mana, apakah dari sumber yang halal?”. Pertanyaan yang sederhana namun panjang dampaknya.

Leave a Reply

Sketsa