Diberdayakan oleh Blogger.

DARIPADA TERUS MERUTUKI KEGELAPAN MARI MULAI NYALAKAN LILIN


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

 Alhamdulillah sudah ada yang membaca buku kami, dan kali ini sengaja saya posting catatan dari pembaca Buku Membaca Banten Membaca Indonesia. yang ditulis oleh Fitri Suciwiati, Pengelola Rumah Buku Lentera Kalbu, Pandeglang.
***

Setelah membaca buku seri Banten Bangkit#2, MEMBACA BANTEN MEMBACA INDONESIA yang ditulis oleh empat bersaudara asal Pandeglang (Abdul Malik, Zainal Mutaqin, Abdul Hamid, Rahmatullah) yang berisi esai-esai kepemimpinan: Membangun Karakter, Menebar Pemikiran-- terbersit dalam pikiran saya : “Betapa besar sumbangan pemikiran yang mereka tulis (khususnya) untuk Pandeglang. Kenapa Pandeglang?  Karena Pandeglang sebagai bagian dari Banten Kecil telah mampu melahirkan kaum intelektual tapi (sayangnya) masih berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini yang masih sulit berkembang dan carut marut-- baik secara politik maupun infrastruktur. Apa sebab? Saya yakin salah satunya lantaran budaya literasi (baca-tulis) di Pandeglang masih rendah. Budaya baca belum masuk ke warga, aparat serta dewan. “Inget ga sama anggota dewan Pandeglang yang cuma beli 2 buku setahun di acara Pandeglang Membaca yang di gelar Forum Pandeglang Bangkit Mei lalu?” Ujar Gol A Gong, direktur Gongpublising, penerbit buku ini.

Budaya Literasi Menuju Demokrasi Berkualitas

Salah satu judul esai di atas yang ditulis oleh Abdul Hamid dalam buku ini menarik perhatian saya. Ia menunjukkan bagaimana budaya literasi memiliki dampak positif ke dimensi lain kehidupan masyarakat termasuk dunia politik. Bahwa budaya literasi tak sekadar membangun budaya membaca dan menulis saja.  Saat ini selalu muncul pertanyaan  mengapa demokrasi tidak lantas menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Mengapa uang miliaran bahkan sampai ratusan miliar dihabiskan untuk pemilukada tapi lantas melanggengkan kekuasaan kepala daerah yang kebijakannya tak pro masyarakat?

Jika ingin demokrasinya berkualitas, masyarakatnya pun harus berkualitas pula. Karena masyarakat memilih sesuai dengan ukuran-ukuran yang mereka pahami. Pengetahuan yang mereka miliki tergantung dari sumber informasi yang mereka akses. Jika masyarakatnya hanya penonton sinetron dan berbudaya sinetron dan kemudian berpotensi memilih pemimpin yang seperti bintang sinetron—masyarakat seperti ini sulit untuk kemudian diajak mengevaluasi pemimpin atau diajak mencari tahu rekam jejak calon-calon pemimpinnya. Ini tentu akan berbeda jika masyarakatnya suka baca Koran, nonton berita di tv dan gemar membaca. Masyarakat sebagai juri dalam berbagai kompetisi politik perlu akses informasi yang lebih luas guna membuat pilihan mereka lebih berkualitas.

“Kelemahan masyarakat kita adalah terseret ke dalam arus politik citra, hingga terbuai fatamorgana cover, seakan-akan semua bagus di luar, tidak ada protes dan sebagainya. Masyarakat kini tidak melihat substansi makna yang terkandung di dalam, tapi hanya melihat topeng yang terkesan bagus” kata Roky Gerung, dosen Filsafat UI.

Kebetulan Pandeglang akan menggelar pemilukada 3 Oktober nanti. Seorang sahabat menyarankan kepada saya untuk menghimbau masyarakat Pandeglang agar memilih  calon pemimpin yang punya perpustakaan pribadi di rumah, yang tidak punya jangan dipilih. Saran ini bukan tanpa alasan. Persoalan melek baca bukan hanya milik mereka yang buta huruf saja, yang sudah melek baca pun masih perlu membaca, tentunya dalam konteks yang lebih luas. Jangan sampai kita memilih pemimpin yang visi dan misinya tidak jelas.

Di tengah tingkat kepercayaan yang semakin merosot  karena selalu ada dusta pemerintah terhadap rakyat ditambah barisan orang-orang kritis yang apatis, ayo, daripada terus  merutuki kegelapan, mari mulai nyalakan lilin,,,,

(Untuk calon pemimpin Pandeglang, saya sarankan untuk baca buku ini, jangan sampai beli buku setahun cuma 2 biji, apa kata dunia?)


Salam,
Fitri Suciwiati (Pengelola Rumah Buku Lentera Kalbu)

Leave a Reply

Sketsa