Diberdayakan oleh Blogger.

PILIH KESELAMATAN MAHASISWA ATAU HUBUNGAN BAIK DENGAN WARGA


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Tulisan pada spanduk:

" Ya Allah Bukakanlah hati nurani Bapak Gumilar agar mau membuka pintu Barel. Pintu itu nafas kehidupan kami, selama ini telah kami amankan dengan penjaga dan palang pintu perlintasan, sehingga tak ada  satupun korban jiwa hingga hari ini.  FORSSAB (Forum Solidaritas Selamatkan Barel)


Mungkin diantara kita tidak mengetahui objek foto tersebut dimana, dan apa maksud dari tulisan pada spanduk tersebut. Tapi bagi mereka yang membaca informasi dari koran atau berita portal mengenai info sekitar Jabodetabek, mungkin mulai meraba lokus foto tersebut dimana.


Kebetulan pagi tadi setelah hunting-hunting objek foto pemandangan di sekitar danau UI, jalur pulang menuju Kosan di Gang Kober, saya pilih melalui Masjid UI dan melewati Fakultas Hukum (FH). Tanpa sengaja persis di sebrang FH terdapat rel kereta yang menghubungkan antara Stasiun UI dan stastiun Pondok Cina, tepat ditengahnya terdapat sebutan "Barel", yang merupakan jalan pintas menuju keluar UI tepatnya menuju jalan margonda dengan melalui jalur rel kereta api. Tepat!, jika lokus foto tersebut adalah spanduk-spanduk yang ada di Barel, dimana di tempat tersebut 'kabarnya' sering terjadi kecelakaan yang mengakibatkan lebih dari 4 (empat) mahasiswa UI meninggal dunia.


Memang menjadi dilema bagi pihak UI, antara menutup Barel, dengan resiko menjadi tidak populis di mata masyarakat setempat dikarenakan di jalur barel terdapat banyak orang yang mengais rizki, mulai dari warung foto copy, kos-kosan, warung makan, toko buku, selain juga perlintasan tersingkat mahasiswa dan masyarakat menuju UI, maupun mereka yang akan menjalankan shalat di Masjid UI.

Atau dengan opsi yang dipilih saat ini, yaitu menutup Barel demi menjaga keselamatan semua pihak, mulai dari mahasiswa maupun masyarakat. Dengan resiko ya menimbulkan riak di masyarakat yang terkait erat dengan nasib 'penghidupannya' dengan barel. Walaupun konon kabarnya dari beberapa kecelakaan yang merenggut nyawa mahasiswa, penyebabnya bukan tidak adanya palang pintu semata, namun rata-rata korban adalah mahasiswa yang ketika menyebrang rel, sedang menggunakan earphon, jadi sekeras apapun suara kereta yang akan lewat menjadi tidak terdengar.

Mungkin yang terbaik bukan pada dua pilihan tadi melainkan dimunculkan opsi ketiga, apakah dengan tetap membuka barel, lalu disediakan palang pintu atau petugas yang memberi pe"ngingatan" bagi pejalan kaki, atau Barel tetap ditutup dan UI memberikan solusi dengan membantu warga yang berusaha memfasilitasi tempat baru, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan khususnya kehilangan nafkah.


Tapi mungkin UI sudah memikirkan solusi-solusi dan pemufakatan terbaik...tapi kok ada spanduk  seperti diatas hehe...hanya UI, Masyarakat setempat dan Tuhan yang tahu:).



Leave a Reply

Sketsa