Diberdayakan oleh Blogger.

LEGGING DAN LEMMINGISME


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Entah apa kaitannya antara jenis celana dan jenis binatang pengerat, yang pasti saya coba mengaitkannya walaupun sedikit memaksanya untuk terkait. Memang sedikit pusing melihat fenomena fashion zaman ini, jika dulu perempuan memakai celana jeans itu seakan tabu, menjadi bahan pergunjingan tetangga dan sarana kekhawatiran orang tua, namun sekarang sudah tidak lagi, karena dianggap biasa. Selesai urusan jeans muncul legging, jujur saya dan mungkin banyak orang lain merasa terganggu oleh fenomena ini, sampai mungkin jadi ‘kerjaan tambahan’ hingga merasa penting untuk menuliskannya. 
Sangat faham jika berpakaian adalah hak asasi seseorang, begitupula makna kebebasan berpakaian. Tidak masalah seseorang mengenakan pakaian apapun yang ia nilai nyaman. Namun yang jadi masalah adalah bagaimana dengan kenyamanan orang lain yang melihat atau berada di dekatnya. Menjadi sangat egois ketika seseorang merasakan nyaman mengenakan legging, namun begitu banyak juga orang yang terganggu.
Sedikit kita bahas. Pertama, agama manapun mengajarkan cara berpakaian harus santun, yang tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Kedua, dalam norma adat istiadat, tidak ada dalam tatanan budaya Indonesia jenis pakaian bernama legging atau jenis yang identik, begitu hebatnya budaya Indonesia, yang dulunya agak kurang santun sekarang dimodifikasi menjadi lebih santun, sebagaimana perkembangan motif kebaya saat ini. Ketiga, pakailah pakaian sesuai tempatnya, pakaian senam ya dipakai saat senam, pakaian tidur ya untuk tidur, pakaian kantor ya untuk ngantor, pakaian kuliah ya diseuaikan dengan aturan kuliah, jangan mencampur adukan semuanya. Silahkan ditambahkan alasan lainnya yang menurut anda tepat.
Jujur sangat tersiksa ketika dikampus dan ditempat umum lainnya meyaksikan mahasiswi atau perempuan yang mengenakan legging, “menyaksikan” disini maknai sebagai bentuk keterpaksaan karena populasi yang menggunakannya semakin banyak, mau menghindari pandangan ke kanan atau kiri menemukan hal yang serupa.
Entahlah, makna bebas semakin salah kaprah, jangan sampai teriak-teriak mengenai era kebebasan tapi malah menzalimi yang lain. Tulisan ini berdiri di atas tataran normatif dan pemahaman pada umumnya. Saya yakin siapapun orang tua, dan dari agama manapun pasti khawatir menyaksikan anaknya mengenakan pakaian yang ketat dan mengandung pandangan menerawang orang lain.
Sungguh ironis, berita kriminal terkait perkosaan semakin marak, tapi fenomena fashion semakin membuka peluang kearah kriminal bentuk tersebut. Bung Napi sudah jenuh mengingatkan bahwa kejahatan bukan hanya faktor niat tapi “kebetulan dan kesempatan”. Ayolah mari kita filter segala bentuk penjajahan budaya jika itu buruk. 
Pada akhirnya saya coba mencari referensi mengenai sejarah legging, (http://afiarini.wordpress.com/2010/03/27/sejarah-legging/) sebagian informasi yang saya kutip: “Legging, awalnya merupakan celana penghangat dan pelindung, dan dipakai pertama kali oleh kaum pria di Eropa sejak abad 14 sampai 16 (zaman Renaissance). Sementara di Amerika, beberapa penduduk asli menggunakan kulit rusa jantan sebagai bahan dasar legging yang mereka pakai. Kenapa? Karena kulit rusa jantan yang tebal dan halus dipercaya dapat menghangatkan di udara dingin. Hingga kini di beberapa tempat, khususnya di Negara yang beriklim dingin seperti Rusia, kaum pria tetap memakai legging sebagai penghangatkan”.  “Tahun 1940, tepatnya pada perang dunia ke II, para prajurit perang juga menggunakan legging yang berfungsi sebagai pelindung dari kotoran dan binatang berbahaya yang dapat menerobos masuk ke dalam pakaian dan sepatu mereka. Selain itu para prajurit ini menggunakan legging untuk melindungi meraka dari kecelakaan seperti cidera ankle dan lainnya”. Dan dari sini (http://peewee-indonesia.blogspot.com/2009/12/pakai-legging-dengan-tepat.html), saya kutip: “Untuk yang mengenakan busana muslim, legging dimaklumi sebagai dalaman dress panjang saja. Tidak disarankan memakai legging dengan atasan selutut karena akan mengacaukan konsep berbusana muslim yang benar. Sekali lagi, legging bukanlah celana”.
Sedikit mengenai lemming. Lemming sering ditautkan dengan kata-isme, menjadi lemmingisme, sebuah paham ikut-ikutan tanpa tau dasar untuk apa mengikuti. Mau benar atau salah ikut, mau sesat ikut, mau tidak pantas ikut. Lemming adalah sejenis binatang pengerat yang selalu bergerombol dalam satu komunitas besar, jika yang paling depan bergerak ke satu arah, maka semua mengikuti tanpa tau akan dibawa kemana, malah tidak jarang lemming identik dengan jenis hewan yang terkadang melakukan bunuh diri berjamaah karena pemimpinnya membawa pengikutnya mencebur bersama ke sungai. Fenomena legging sangat bisa kita kaitkan dengan lemming, karena sebagaian besar pemakai tidak tahu sejarah legging, apa fungsinya, kapan pakaian jenis legging dikenakan, sekedar ikut-ikutan menjadi penggembira atas tuntutan trend, dan yang terpenting mungkin agar terlihat ‘ramping’.
Ayolah menegakkan moral justru dimulai dari hal yang terkecil sebagaimana kita mengenakan berpakaian yang santun, yang dengannya tidak mengganggu siapapun. Jika semua semakin bebas...pasti hukum kausal yang akan menjawab. 

Tulisan yang sama: 
http://sosbud.kompasiana.com/2010/09/23/legging-dan-lemmingisme/

Leave a Reply

Sketsa