Diberdayakan oleh Blogger.

Saatnya Qunut Nazilah...


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments


Allah sedang menguji bangsa ini dengan berbagai musibah, bisa jadi sebagai bentuk pengingatan, sebegai bentuk ujian kesabaran, ujian ketaatan, ujian ber'qurban' dan bisa jadi sebagai bentuk 'sayang Allah' dengan caraNya kepada hamba-hambaNya. Apapun itu musibah menyisakan luka, duka dan kesedihan yang tiada bertepi, dan satu kekuatan hamba ketika diuji adalah muhasabah, pasrah dan tawakal. Satu kekuatan terbesar adalalah dengan menuturkan doa dan harap tiada henti, agar Allah mengampuni dan memberikan pertolongan. Salah satu syariat dalam Islam adalah mengerjakan Qunut Nazilah, sebentuk doa yang ditunaikan Rasulullah ketika diberikan ujian, musibah dan segala ketakutan. Mari kita lakukan tuntunan rasul, bersama di rumah-rumah Allah kita ber-Qunut Nazilah, mohon kabari hamba-hamba Allah yang lain. Moga dengan qunut dimulai dari keluarga, kampung, wilayah, hingga satu negara ini menunaikan Qunut Nazilah, Allah mengabulkan pinta dan harap kita, mengampuni dan memberikan pertolongannya, disamping kita mengulurkan bantuan kemanusiaan dengan apa yang kita bisa.
InsAllah inilah hukum dan aturan melakukan Qunut Nazilah sesuai sumber (http://hasyimcbt.multiply.com/reviews/item/11):
Definisi Qunût Nâzilah
Qunût berasal dari kata qonata – yaqnutu – qunûtan (قنت يقنت قنوتا) yang berarti ta’at, merendahkan diri, patuh, berdiri dalam sholat, diam di dalam beribadah, do’a, tasbih dan khusyu’. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah do’a tertentu yang dilakukan sebelum ruku’ atau setelah ruku’
Nâzilah adalah bentuk mufrad (singular) dari nawâzil. Artinya adalah : “keadaan genting di masa yang penuh kesulitan” (lihat Kisyâful Qinâ’ : I/421).
Jadi, qunût nâzilah artinya adalah doa khusus yang dipanjatkan di saat sholat di saat kaum muslimin mengalami suatu musibah atau bencana, agar Allôh menolong dan memberikan kaum muslimin kemenangan, serta menghancurkan dan membinasakan kaum kafir yang telah berlaku aniaya kepada kaum muslimin.
Waktu dibacakannya qunût nâzilah
Qunût nâzilah disyariatkan untuk dibaca di setiap sholat lima waktu selama sebulan. Dalilnya adalah hadits-hadits nabi yang mulia ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm sebagai berikut :
Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :
قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ
“Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan berturut-turut di waktu zhuhur, ashar, maghib, isya’ dan shubuh, di akhir waktu setiap sholat setelah beliau membaca sami’allâhu liman hamidahupada rakaat terakhir untuk mendoakan keburukan bagi bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwân dan ‘Ushoyyah. Lalu makmum di belakang mengaminkannya.” (HR Imam Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh al-Albânî di dalam ShahihSunan Abî Dâwûd 1443)
Dari Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam melakukan qunût selama sebulan, beliau mengutuk bani Ri’lan, Dzakwân dan ‘Ushoyyah yang telah membangkang terhadap Allôh dan Rasul-Nya” (Muttafaq ‘Alaihi dan lafazh hadits atas adalah lafazh Muslim)
Qunût Nâzilah disyariatkan ketika ada sebab bencana
Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu menceritakan :
ثُمَّ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم تَرَكَ الدُّعَاءَ بَعْدُ فَقُلْتُ أُرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ تَرَكَ الدُّعَاءَ لَهُمْ قَالَ فَقِيلَ وَمَا تُرَاهُمْ قَدْ قَدِمُوا
“Kemudian aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan doa qunût setelah itu (setelah bencana tidak ada lagi). Lantas aku menyampaikan bahwa aku melihat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallamtelah meninggalkan do’a bagi kaum muslimin (yang teraniaya), dan ada orang bertanya, apakah Anda melihat bahwa mereka (yaitu al-Walîd dan rombongannya) telah tiba (di Madinah dengan selamat)” (HR Muslim)
Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :
إنما قنت عند النوازل للدعاء لقوم، وللدعاء على آخرين، ثم تركه لما قدم من دعا لهم، وتخلصوا من الأسر
“Sesungguhnya qunût dilaksanakan ketika tertimpa bencana untuk mendoakan (keselamatan) bagi kaum muslimin dan mendoakan (kehancuran) bagi musuh-musuh mereka. Kemudian Nabi meninggalkan doa qunût setelah kaum muslimin mendapatkan keselamatan dan terbebas dari keburukan.” (Zâdul Ma’âd : I/272)
Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :
القنوت مسنون عند النوازل، وهذا القول هو الذي عليه فقهاء أهل الحديث، وهو المأثور عن الخلفاء الراشدي
“Qunût disunnahkan ketika tertimpa bencana. Dan ini merupakan pendapatnya ahli fikih dari kalangan ahli hadits, dan qunût ini ma’tsûr (ada riwayatnya) dari al-Khulafâ` ar-Râsyidîn” (Majmû’ al-Fatâwâ 23/108).
Qunût tidak hanya dilakukan di waktu Shubuh
Qunut tidak hanya dilakukan pada watu shubuh, namun waktu yang paling sering Rasulullah melakukan qunut di dalamnya adalah di waktu shubuh.
Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :
فيشرع أن يقنت عند النوازل يدعو للمؤمنين ويدعو على الكفار في الفجر وغيرها من الصلوات، وهكذا كان عمر يقنت لما حارب النصارى بدعائه الذي فيه ( اللهم العن كفرة أهل الكتاب )
“Disyariatkan melakukan qunût nâzilah di kala tertimpa bencana, mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan keburukan bagi kaum kuffar, baik di waktu shubuh atau waktu-waktu sholat lainnya. Beginilah ‘Umar tatkala beliau memerangi kaum nasrani, beliau melakukan qunût dan berdoa : “Ya Allôh, laknatlah kaum kafir ahli kitab”. (Majmû’ al-Fatâwâ 22/270).
Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :
وأكثر قنوته ـ يعني النبي صلى الله عليه وسلم ـ كان في الفجر
“Waktu qunût yang paling sering dilakukan oleh Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam adalah pada waktu shubuh.” (Majmû’al- Fatâwâ : 22/269)
Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata :
وكان هديه صلى الله عليه وسلم القنوت في النوازل خاصة، وترْكَه عند عدمها، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر قنوته فيها
“Petunjuk Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam di dalam melakukan qunût adalah mengamalkannya ketika ditimpa bencana secara khusus dan meninggalkannya ketika bencana sudah tidak ada. Beliau tidak mengkhususkannya hanya di waktu shubuh, namun waktu yang paling sering beliau melakukan qunût adalah di waktu shubuh.” (Zâdul Ma’âd : 1/273)***
Moga Allah berkenan mengabulkan pinta dan harap kita, mohon sebarkan pada hamba Allah yang lain.

2 comments

Leave a Reply

Sketsa