Diberdayakan oleh Blogger.

Cara Ibu Bersedekah


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments

Hampir satu bulan ini saya kembali tinggal dirumah, kebetulan baru memulai kembali pekerjaan di kota sebelah yang terjangkau untuk pulang pergi. Ada hal menarik ketika pagi hari akan berangkat ke kantor, entah sejak kapan pedagang keliling sering berkumpul di depan rumah, sahut menyahut memanggil nama ibu, mulai dari tukang kerupuk, ayam, ikan, sayur, kue basah, sampai sapu lidi. Bahkan sebagian besar pedagang keliling menjadikan halaman rumah sebagai tempat transit sepulang mereka dari pasar, sebelum keliling menjajakan dagangan.

Tidak jarang pedagang yang merupakan tetangga, atau mantan murid ibu (ibu adalah pensiunan guru-red) datang saat siang atau sore menjajakan makanan berupa kue atau keripik. Satu hal yang membuat saya heran, mengapa pedagang betah menjajakan jualannya kepada ibu, berbeda ketika mereka menjajakan ke tetangga depan atau samping rumah. Setelah saya amati, rupanya siapapun penjual yang mendatangi rumah, ibu selalu berusaha membukakan pintu, menyambutnya dengan sapaan dan tentunya membeli satu atau dua barang yang dijajakan, ibu tidak merasa terganggu apakah saat pedagang datang memanggil, ibu sedang tidur, memasak atau sedang istirahat. Ibu berusaha membeli setiap barang yang pedagang keliling jajakan bukan karena kelebihan rizki, ibu tidak pernah menwar harga, dan selalu membayar dengan harga yang pedagang tetapkan.

Hal yang menarik, apa yang ibu beli terkadang bukan karena ibu merasa butuh, melainkan rasa iba ibu yang besar kepada pedagang. Tempe ibu beli dari pedagang A, tahu dari pedagang B, padahal kedua pedagang menjual  barang yang sama. Atau dari pedagang sayur A membeli segenggam bayam, dari pedagang B membeli segenggam kangkung. Begitupula kepada pedagang ikan, kerupuk. Ketika saya tanya “Ini makanan kalau sudah bertumpuk buat siapa bu?”, Sesederhana Ibu menjawab “Nanti juga habis kalau ada cucu datang atau kita bagi ke tetangga yang lebih butuh”. 

Beberapa kali saya ajak ibu ke mini market untuk belanja kebutuhan dapur. Lebih sering ibu menolak, dengan alasan, “Biar ibu tunggu pedagang keliling saja”, atau jika barang yang ibu butuhkan tidak ada di pedagang keliling, ibu meminta saya untuk mengantarnya ke pasar tradisional. Hal lain yang membuat kekaguman semakin tumbuh, dibelakang rumah ibu menyediakan sebuah tempat dari anyaman dari bakul, isinya adalah pilahan sampah berupa kertas, botol, kardus atau plastik. Rupanya setiap hari sabtu datang pemulung yang merupakan tetangga mengetuk pagar belakang menanyakan dan mengambil barang bekas yang sudah ibu kumpulkan, tanpa berharap diganti dengan uang.

Pernah suatu kali saya membuka obrolan dengan Ibu,”Bu kok setiap pedagang yang datang kerumah Ibu beli? Gak pernah nolak?”, pendek Ibu menjawab,” Siapa lagi yang akan beli, kalau semua tetangga sudah belanja ke supermarket”, atau ketika saya tanya “Kenapa kok gak ditawar bu?”, Ibu menjawab “Kenapa harus ibu tawar, sebesar-besar mereka ambil untung, paling Rp 500 rupiah, dan itu mereka pakai untuk menyambung hidup mereka”.

Saya coba menafsirkan apa yang ibu lakukan sebagai sebuah aktifitas sedekah dengan “Gaya Ibu”. Ibu mencoba membeli barang yang penjual keliling jajakan tanpa menawar, tanpa menolak siapapun yang datang walaupun sekedar membeli tempe sepotong, sayur segenggam atau sebungkus kerupuk. Mungkin rasa kemanusiaan ibu sebegitu tingginya, merasakan betapa sedihnya andai kita yang menjajakan dagangan kemudian ditolak. Ibu membayangkan jika tidak ada yang membeli sayur, ikan, dan makanan lain yang resikonya busuk, tentunya menjadikan pedagang rugi berlipat. Keuntungan pedagang keliling dalam sehari mungkin tidak lebih dari Rp. 50.000, jika ada yang terjual atau busuk, akanberdampak pada julan mereka esoknya. Sebesar-besar untungpedagang keliling, tdak akan membuat mereka kaya, karena pasti untuk menambal kebutuhan hari-hari mereka.

Terkadang ketika di rumah Ibu berkeluh kesah, heran melihat tetangga yang menawar harga sebegitu rendahnya, atau mendengar cerita pedagang kalau ada yang membeli sayur dengan menghutang dan hutangnnya sudah mencapai Rp. 500 ribu. Menjadi sebuah ironi, ada orang yang tega menawar bahkan menghutangi seorang tukang sayur, padahal ketika mereka belanja ke mini atau supermarket tidak pernah menawar sedikitpun, padahal keuntungan penjual di inimarket takkan bisa dibandingkan dengan seorang tukang sayur.

Memang banyak cara bersedekah, salah satu jalannya adalah dengan membeli apa yang pedagang keliling jajakan, tanpa sadar dengan membeli sudah pasti membantu mereka menyambung hidup. Tidak perlu jauh sebetulnya jika kita mau bersedekah atau memberi zakat, cukup dengan peka dan membuka mata hati dengan apa yang ada di sekitar kita. Pernah suatu pagi ketika saya sibuk mengetik membuat tulisan, Ibu datang membawa sebungkus plastik dan memberikan bungkusan itu ke saya, rupanya isinya keripik pisang. Saya tanya “Dari siapa Bu?”, Ibu menjawab “Dikasih tukang sayur”, bahkan Ibu pernah bercerita jika lebaran lalu Ibu mendaat hadiah baju daster dari seorang pedagang sayur. Saya hanya bergumam Subhanallah, inilah pertalian hati yang dalam, Ibu tulus memberi dengan cara membeli dan mereka memberikan hadiah untuk ibu sebagai bentuk rasa terimakasih karena mereka merasa dihargai. Saya yakin apa yang Ibu lakukan sama halnya dengan yang dilakukan jutaan Ibu yang lain.***

2 comments

Leave a Reply

Sketsa