Diberdayakan oleh Blogger.

NABI SOSIAL


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments

Hari ini teringat cerita Ibu tentang Almarhum Bapak. Sederhananya Ibu bertutur tentang bagaimana Bapak menjaga kehalalan sumber rizki. Mungkin bahasa kekiniannya, bagaimana ikhtiar Bapak dalam bekerja dan mengidupi keluarganya agar terhindar dari praktik Korupsi,Kolusi dan Nepotisme (KKN). Bapak pensiun sebagai guru Madrasah Aliyah (MA) Cihideung, sekolah yang berada di pinggiran Kota Pandeglang, Provinsi Banten. Menjadi guru adalah opsi terakhir yang sama sekali tidak pernah Bapak sesali hingga akhir hayatnya. Pada mulanya Bapak diangkat menjadi pegawai di Departemen Agama Kabupaten yang menangani urusan haji, setiap orang yang bekerja di Departemen Agama berebut untuk menjadi staf urusan haji karena memang ranah yang ‘basah’. Entah bukan rasa nyaman berkesempatan memperkaya diri, justru rasa gelisah yang terus menerus menghinggapi Bapak.

Sampai pada akhirnya Bapak mengajukan perpindahan (mutasi) ke Kabupaten Bogor, masih di Departemen yang sama dan urusan yang sama, harapannya ada situasi yang berbeda, mendapatkan rizki yang halal dan juga lingkungan yang terjaga. Namun ternyata hijrahnya Bapak berbuah kecewa karena kondsi di Bogor jauh lebih parah. Tidak sampai sebulan Bapak ’pulang  kampung’, mengadukan kepada atasannya dan menuturkan kegelisahannya. Namun jawaban yang didapat adalah jawaban yang jauh dari harapan, atasan bapak bilang “Kalau ingin rizki yang bener-bener halal dan lingkungan yang bersih, pindah saja ke pulau Popole”, sebentuk sarkasme karena maksud pimpinan adalah supaya bapak mengasingkan diri ke pulau popole (pulau kosong yang terletak dekat Ujung Kulon). Harapan ingin mendapat dukungan untuk sama-sama bekerja secara bersih dan memperbaiki sistem malah dijatuhkan. Sampai pada akhirnya Bapak memilih mutasi, mengajukan pindah kerja menjadi Guru Madrasah Aliyah di Cihideung.

Pilihan Bapak jauh dari populis, malah bersebrangan dengan arus pada umumnya, disaat guru-guru mengajukan promosi menjadi pegawai Departemen Agama, dan di dalam Departemen Agama sendiri berlomba-lomba mengajukan pindah ke urusan haji, Bapak malah memilih hijrah menjadi Umar Bakri, dengan sebuah mimpi yang sederhana, ingin rizki yang halal. Setting waktu itu adalah tahun 1980an disaat Bapak dan Ibu harus membesarkan 8 (delapan) orang anak,yang tentunya kebutuhan ekonomi, pendidikan sangat besar dan mendesak, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Padahal jika mau mudah saja Bapak tidak perlu mutasi dan tetap berada dalam tempat kerja yang ‘basah’, lalu memperkaya diri.

Satu prinsip bapak yang terus terngiang dan lekang dalam ingatan saya, “Sesusah apapun kondisi, Bapak ingin rizki yang kalian makan dari sumber yang halal, karena apa yang kalian makan, akan menjadi darah dan menjadi gerak hidup. Jika itu halal, maka apa yang dilakukan, dihasilkan akan menjadi baik dan bernilai ibadah, jika itu haram maka selamanya akan berbekas haram, selama tidak bertaubat”. Bapak hanya berharap pada darah kami mengalir rizki dan ‘kehidupan yang halal’. Sambil menghidupi  delapan orang anak, diluar mengajar Bapak menyambi menjadi nelayan, bertani, menjual hasil alam dan berternak ayam Bangkok.

Cerita diatas hanyalah sebuah ilustrasi sederhana tentang ujian ‘hasrat korupsi’ dan pendidikan karakter. Bahwa  ujian KKN tidak hanya saat ini melainkan dari zaman dahulu, hasrat korupsi tumbuh karena kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak jarang korupsi yang dilakukan seorang ayah, dikarenakan desakan istri yang konsumtif, atau kebutuhan gaya hidup anak. Seorang pekerja yang pada mulanya aktifis kampus, memiliki profil pegiat anti korupsi sejak mahasiswa, bisa jadi berubah ketika berada dalam lingkungan yang sudah memiliki kultur koruptif, juga didukung oleh istri yang konsumstif serta anak yang selalu mengikuti trend gaya hidup dan tidak diwariskan pendidikan karakter.

Disaat Almarhum Bapak mengalami kegalauannya 31 tahun yang lalu, saat ini saya mengalami kegalauan yang sama setelah melewati jenis pekerjaan berbeda, baik saat menjadi wartawan, konsultan, perusahaan swasta, dan di pemerintahan. Entahlah, sudah tiga jenis pekerjaan yang karena kondisi itu pada akhirnya saya hindari dan ‘pergi’, saat ini dipemerintahan mungkin yang terparah, karena terdapat beragam macam ‘perkecualian’. Ingin kembali pergi tapi inilah sebuah kenyataan yang harus ‘ditelan’. Tidak mungkin saya harus seperti Bapak dulu disarankan pergi ke Pulau Popole. Teringat jika tidak salah Hadist Nabi “Lebih baik berda’wah di pasar yang penuh keramaian, daripada menjadi rahib di puncak gunung”. 

Memang berat menghadapi lingkungan yang sudah tertancap kultur koruptif puluhan dan mungkin ratusan tahun, yang kini tidak bisa kita pungkiri dan rubah dengan mudah, malah beberapa pemimpin daerah di negeri ini yang memiliki good will dan kebijakan sistemik memberantas korupsi, dijebloskan ke penjara oleh pihak-pihak yang terusik karena zona nyamannya terganggu. Kembali kepada tesis Mukhtar Lubis dalam Manusia Indonesia, jika masyarakat Indonesia adalah Masyarakat yang koruptif, hipokrit dan Asal Bapak Senang (ABS), adalah karakter asli yang terbuktikan era kini dan tidak bisa dibantah!.

Pada akhirnya menghadapi kenyataan adalah sebuah opsi dimana kita harus siap menjadi peribadi terasing, terpinggirkan atau bahkan autis (memiliki dunia sendiri). Yang terpenting saat ini dengan ke-warasan yang ada, tidak perlu banyak bicara, lakasanakan tanggungjawab yang diberikan sebaik-baiknya, tolak segala ketidakbaikan dengan ‘bahasa yang santun’, lakukanlah revousi sunyi (perubahan dengan pewarisan dan menebar karakter), dan tetaplah optimis, bahwa Gusti Ora Sare (Allah tidak pernah tidur). Memang yang dibutuhkan saat ini adalah nabi-nabi sosial, mereka yang menjalankan amanah sebaik-baiknya, siap menjadi terasing dan melakukan perubahan pada lini masing-masing, yang kelak suatu saat akan terakumulasi pada zaman yang tepat. Terimakasih Bapak atas ‘warisannya’ yang kelak insAllah akan saya turunkan.***

2 comments

Leave a Reply

Sketsa