Diberdayakan oleh Blogger.

MASIH ADA AYAH AHMAD


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Sebagaimana biasa, malam jumat adalah jadwal saya mengajar mata kuliah Perencanaan Pembangunan Daerah (PPD), kebetulan dua pekan ini saya minta mahasiswa untuk presentasi kelompok, menganalisis Rencana Strategis (Renstra) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Satu harapan saya, agar kelak ketika mereka lulus mengemban sarjana Administrasi Negara, setidaknya bisa membuat dokumen-dokumen perencanaan, baik itu Renstra, Renja (Rencana Kerja), Tapkin (Pemantapan Kinerja), dan lain-lain. Bukan sekedar menjadi mahasiswa yang tau teori tapi miskin aplikasi ketika menjadi birokrat.

Semalam ada kesan mendalam ketika satu kelompok mempresentasikan Rencana Strategis Sekretariat DPRD Kota X. sebagai Dosen saya kagum ketika menyaksikan mahasiswa kelas malam yang sebagian besar paginya  bekerja sebagai tenaga kontrak, karyawan swasta,  atau wiraswasta, dengan segala keterbatasan waktunya mampu menganalisis kurang dan lebihnya sebuah Renstra. Ketika presentasi dan termin tanya jawab usai, tiba waktunya saya untuk menanggapi dan mengambil intisari dari presentasi kelompok tersebut. Saya urai  mengenai beberapa kekurangan Renstra yang dalam Misi-nya lebih menekankan pada kinerja dan kesejahteraan aparatur, tidak memberikan prioritas dalam memfasilitasi dan membuka akses masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Sampai pada satu titik penjelasan saya membahas bahwa DPRD adalah miniatur dari DPR, yang lebih memprioritaskan hal artifisial seperti kenyamanan kantor, ruang kerja, gedung, fasilitas, studi banding, daripada memperjuangkan aspirasi masyarakat di daerah pemilihannya.

Diluar konteks Renstra Sekretariat DPRD Kota X tang mahasiswa bahas, saya ulas tentang mentalitas anggota dewan yang  memprihatinkan, seperti menjadi broker, korupsi, amoral dan fenomena Kucing Kurus. Saya bahas mendalam tentang fenomena kucing kurus, yakni anggota dewan yang mengalami shock kultur, dari latar belakang ekonomi lemah, kemudian karena dampak reformasi tahun 1998, dimana pada Pemilu 1999 terpilih menjadi anggota dewan, mengalami kekagetan, yang pada akhirnya mirip kucing kurus melahap segala makanan dan melakukan praktik korupsi, atas dasar mumpung jadi anggota dewan.

Ketika saya menjelaskan fenomena kucing kurus tersebut, salah satu mahasiswa saya yang kebetulan presentasi, terlihat menangis dan mencucurkan air mata. Saya agak heran, karena saya kira mahasiswa tersebut sakit karena tiba-tiba menangis. Rupanya ketika sedikit agak tenang, mahasiswa tersebut menceritakan dihadapan saya dan mahasiswa lainnya, jika Ayahnya adalah anggota dewan, sebut saja mahasiswa tersebut Ahmad. Ahmad menuturkan bahwa “Saya jadi inget  Ayah saya Pak, beliau anggota Dewan, pendidikannya hanyalah sampai SMP, partai Ayah saya partai wong cilik. Saya merasa bangga dan haru dengan perjuangan beliau Pak, karena Ayah saya menjadi anggota dewan bukan kehendaknya, tapi diminta masyarakat dan didukung Partai pusat, setelah mengabdi dan memperjuangkan partai lebih dari 15 tahun”. 

Dalam benak saya, respon Ahmad mungkin karena ucapan saya menyinggung perasaannya. Lalu Ahmad menuturkan kembali “Saya sedih bukan karena apa yang Bapak sampaikan, saya haru karena begitu banyaknya pengorbanan yang ayah saya lakukan sebagai anggota Dewan, rumah ayah saya terbuka bagi warga pagi, siang dan malam. Ayah saya memfasilitasi perbaikan jalan, pembangunan Posyandu, MCK, sumur bor, dan berbagai keluhan masyarakat di daerah pemilihannya nyaris tanpa sempat istirahat”.

Hening terasa dalam ruang kelas, ketika mendengarkan apa yang Ahmad tuturkan tentang perjuangan Ayahnya. Terakhir Ahmad bilang “Jika sebelumnya banyak orang yang iri terhadap ayahnya karena terpilih menjadi anggota dewan, memfitnah dan menyakiti dengan berbagai cara, tapi sekarang mereka datang ke rumah dan meminta tolong ayah...Dan ayah membantu mereka dengan tulus, tanpa mengingat sedikitpun rasa sakit hati yang pernah Ayah Rasakan”.

Saya tidak menyangka jika malam ini perkuliahan menjadi mengharu biru. Sebelum penutup kuliah saya sampaikan permohonan maaf kepada Ahmad jika apa yang saya sampaikan menyinggung dan menyakiti hatinya. Saya malah ungkapkan kebahagiaan karena bersykur masih ada sosok  seperti Ayahnya  Ahmad yang tidak berubah dari sebelum maupun setelah menajdi anggota DPRD, tetap low profile, dan membuka luas-luas pintu rumahnya melayani masyarakat untuk menyampaikan kesusahan dan harapan, berupaya memperjuangkan pembangunan Daerah pemilihannya. 

Dan satu hal yang saya tekankan dari apa yang kebetulan Ahmad tuturkan tentang Ayahnya, yaitu Akhlaknya, akhlak tidak memandang dia dari partai mana, melainkan kebeningan hati, yaitu melawan segala keburukan yang orang lain lakukan, melawannya dengan kebaikan. Ayah ahmad mengamalkan sunah Rasul yakni ‘Idfa Billati Hiya Ahsan”, melawan keburukan dengan kebaikan. 

Malam ini, dibawah keredupan harapan akan negara, muncul sepercik cahaya optimis, ternyata tanpa sadar masih ada anggota DPRD seperti Ayah Ahmad yang dengan segala kerja keras dan keringatnya tetap memperjuangkan masyarakatnya. Bisa jadi dunia yang sudah renta ini urung goncang karena masih ada sosok-sosok seperti Ahmad.***

Leave a Reply

Sketsa