Diberdayakan oleh Blogger.

DARI KELUARGA KORUPSI BERMULA


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Kebetulan saat ini saya mengampu dua mata kuliah pada Jurusan Administrasi Negara, yaitu Kepemimpinan Sektor Publik dan Perencanaan Pembangunan Daerah. Bagi saya beban tersendiri ketika diberikan amanah mengampu dua mata kuliah tersebut, karena terkait dengan bagaimana menumbuhkan karakter kepemimpinan dan bagaimana mahasiswa pada saatnya ketika duduk di pemerintahan bisa merencanakan pembangunan dengan benar, tidak merencanakan negara atau daerah gagal sebagaimana terjadi saat ini.

Sepintas, mengajar merupakan rutinitas biasa, yang jika kita ingin output dan outcome dan impac-nya biasa, maka kita hanya sekedar menunaikan kewajiban, menyampaikan runtutan materi yang bersumber dari berbagai literatur, namun miskin pemaknaan, penghayatan, pencerminan dan tidak akan kekal dalam ingatan mahasiswa, apalagi berharap diterapkan dalam keseharian aktivitas.

Saya mencoba dan berusaha memberikan pemaknaan lebih kepada mahasiswa, agar proses pembelajaran tidak bersifat semu, ibarat rasa sambal, terasa pedas namun sesaat. Saya kaitkan materi kepemimpinan dengan fenomena kekinian, fenomena kepemimpinan lokal yang bersifat kolegial, kelambanan pemimpin negara dalam merespon masalah dasar bangsa, kepemimpinan tanpa melayani tapi murni mengejar kuasa, fenomena korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah menjadi budaya baru bangsa. Setitik harapan saya, agar kelak ketika saatnya mereka jadi pemimpin tidak mengulang cacat  yang sama. Jangan sampai hari ini kita mencela, mencerca dan menertawakan seorang koruptor misalnya, malah pada saatnya kita diperlakukan sama oleh orang lain.

Dalam perencanaan daerah saya kemukakan bahwa kegagalan sebuah daerah dimulai dari kegagalan dalam perencanaan, ketidaksinkronan antar dokumen perencanaan secara berjenjang, yang pada akhirnya perencanaan tidak pernah terpadu, tidak menjawab akar kebutuhan masyarakat. Ibarat dokter yang salah mendiagnosa penyakit yang pada akhirnya salah mengamputasi. Kronisnya kegagalan perencanaan ditambah dengan kepemimpinan yang korup, pada akhirnya menjadikan daerah yang tidak pernah beranjak walau usianya sudah lebih dari 50 tahun.

Ada mahasiswa yang bertanya “Pak bagaimana upaya yang paling sederhana dalam menanggulangi korupsi?”.  Saya coba menjawab sederhana, menjaga dari korupsi itu dimulai dari keluarga, jika kita sebagai anak, jangan pernah meminta sesuatu yang tidak sepadan dengan penghasilan orang tua kita, begitu juga dengan Ibu di rumah, jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang, hasrat konsumsi yang banyak tidaks epadan dengan penghasilan suami, maka bersyukurlah dengan kesederhanaan.

Seorang Ayah yang korup, padamulanya dikarenakan banyaknya tuntutan yang berasal dari keluarga, anak yang selalu bergaya hidup mewah, menggunakan pakaian dan gadget terbaru, memiliki hobi atas dasar gengsi pergaulan, jika tidak diturutkan akan mengancam. Selain juga Ibu yang konsumtif, terpengaruh oleh pola hidup lingkungan sekitar, gaya hidup komunitas seperti arisan, gosip antar tetangga, yang pada akhirnya memaksakan diri membeli perhiasan, kendaraan, mengkredit ini dan itu, yang pada akhirnya terancam tuntutan gaya hidup mengantarkan suamiuntuk korupsi. 

Pada dasarnya keluarga adalah pilar yang bisa menjaga terjadinya korupsi dan juga sebaliknya, langkah awal menjerumuskan seorang Ayah atau suami untuk melakukan korupsi, lalu menjadikannya sebuah kebiasaan. 

Idealnya seoarang anak maupun istri memulai budaya bertanya kepada Ayah atau Suami, jika ada hal yang mencurigkan diluar pengetahuan kita mengenai penghasilan Ayah atau suami, misalnya mendapatkan kendaraan, membeli tanah, rekening tabungan yang bertambah tiba-tiba, membeli perhiasan, gonta-ganti gadget yang secara matematis tidak terjangkau untuk dibeli, dan lainnya. Pastikan sumber uangnya  darimana, siapa yang memberi, lewat jalan mana.  Jangan pernah ragu untuk betanya dan mengingatkan, karena jika kita bertoleransi lalu tidak mencurigai, maka korupsi akan menjadi budaya, bukan berupaya memberantas, malah menyuburkan dan membiarkan terus berkembang. Bayangkan jika satu keluarga membiarkan korupsi kecil, keluarga, tetangga dan rekan kerja mentoleransinya, menganggap bukan perbuatan tabu, maka ibarat virus akan menyebar dengan mudah pada keluarga lainnya. Jika itu kolektif, bisa jadi seluruh warga negara melakukan hal yang sama atas dasar kebiasaan dan pembiasaan, tidak ada lagi rasa malu.

Bekal itu yang selalu saya ulang saat tatap muka dengan mahasiswa, agar tumbuh karakter kepemimpinan mereka, agar punya rasa malu, jujur, dan bersih. Jangan sampai rengekan mereka untuk mendapatkan Blackberry, laptop, pakaian, kendaraan, dan lainnya, malah menstimulasi langkah awal Ayah mereka untuk melakukan korupsi.***

Leave a Reply

Sketsa