Diberdayakan oleh Blogger.

TITIP RINDU BUAT PEMIMPIN BANTEN


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Untuk mengawali tulisan ini, ada sebuah kisah tentang bagaimana beratnya menanggung amanah kepemimpinan. sepenggal refleksi di masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid, semoga menjadi bekal berharga bagi calon-calon pemimpin Banten mendatang.
Pada zaman Harun Al-Rasyid, terbiasa bersenda gurau dengan seorang pemuda pandir, yang dikenal dengan nama si Bahlul. Bahkan Khalifah mau menerima nasihat dari pemuda nyeleneh itu. Bahlul menjalankan fungsi lazim bagi para raja di mana-mana, yakni menjadi penghibur. Suatu hari Bahlul nyelonong seperti biasa ke dalam istana. Tak ada siapa-siapa, lengang. Di kejauhan terlihat kursi kosong khalifah. Bahlul sempat bergumam, kemana kiranya khalifah Harun Al-Rasyid. Tapi sejurus kemudian ia langsung duduk di atas kursi itu.
Tiba-tiba dua pengawal memergoki, segera menyeret Bahlul dari kursi itu. ”Dasar anak dungu” hardik mereka sambil menghajar dengan pentungan. “Kamu memang kesayangan khalifah, tapi tingkahmu ini sudah keterlaluan!”. Bahlul melengking, tak sanggup menanggung pukulan di sekujur tubuhnya yang kecil. Jeritannya yang keras membangunkan khalifah yang sedang istirahat di kamarnya. Melihat itu, sang khalifah kaget dan menanyakan apa yang terjadi. Kedua pengawal pun berhenti memukul dan menjelaskan kisahnya.
Anehnya, meski sudah tidak di pukul oleh pengawal, Bahlul tetap berteriak kesakitan. Harun Al-Rasyid pun heran dan memintanya berhenti.”Berhentilah memekik-mekik! pusing kepalaku mendengarnya. Kenapa kamu terus menangis, pedahal pengawal sudah tidak lagi memukulimu?”. Mendengar itu, Bahlul menjawab “Hamba justru menangisi nasib Baginda” Harun Al-Rasyid heran, “Mengapa pula kau menangisi nasibku? Apa yang salah denganku?”.”Baginda, hamba duduk di kursi Baginda hanya beberapa jenak, tapi siksaan yang hamba terima begini pedihnya. Sedangkan Baginda sudah duduk di tahta itu selama tiga puluh tahun. Hamba tak sanggup membayangkan betapa pedihnya pukulan yang akan Baginda terima kelak”. Mendengar itu, khalifah Harun Al-Rasyid menangis tersedu-sedu, dan berkata, “Lalu apa yang harus aku lakuakan?”. Bahlul bangkit dan berlari-lari kecil sambil mengacung-acungkan tangannya, “keadilan, Baginda! keadilan! Keadilan!. khalifah lalu bersumpah untuk memenuhi permohonan Bahlul tersebut.
Nukilan cerita diatas hanyalah sebuah kisah masa lalu, yang InsyaAllah benar adanya, mau di makan atau di muntahkan terserah kita. Bagi para calon pemimpin Banten yang dikenal “sangat-sangat religius”, rajin mengutip ayat, hadis hingga hikayat dalam setiap safari Ramadhannya, saya yakin sudah pernah membaca kisah diatas, karena inilah bekal kepemimpinan sesungguhnya berdasarkan kepada kepemimpinan berbasis spiritual (spiritual centered leadership). Bagi yang mungkin baru membaca dan memiliki nurani, saya yakin akan semakin tergerak hatinya untuk berefleksi, merenung, bahkan mengevaluasi diri, seperti halnya yang dilakukan khalifah Harun Al-Rasyid, menangis tersedu-sedu mengkhawatirkan pedihnya masa depan di akhirat. Bisa jadi dengan gambaran kisah diatas, kita malah memutar kompas 180 derajat, yang pada awalnya berambisi mengumbar berbagai janji di seluruh pelosok wilayah dan di berbagai segmentasi masyarakat, tiba-tiba menarik diri dari percaturan perebutan kekuasaan, karena takut akan siksaan yang kelak Allah berikan, sebab kita merasa belum mampu berbuat adil.
Mudah sebetulnya bagi seseorang untuk merefleksi dirinya, apakah sudah mampu berbuat adil dalam menjalankan amanah atau belum. Ada istilah looking glass self, yakni mencoba melihat diri kita sebagaimana kita melihat cermin, dari sisi kita menilai diri kita dan diri sisi orang lain menilai kita. Apalagi bagi mereka yang sebelumnya pernah menduduki sebuah jabatan, pimpinan perusahaan, birokrat daerah, anggota parlemen atau lainnya. Kalau memang etos kerja dan karya kita baik, maka karyawan pada level terbawah, masyarakat di pelosok desa, konstituen di daerah, pengusaha, hingga tokoh-tokoh masyarakat, akan mendukung kita dengan pengorbanan sebesar apapun untuk menjadi pimpinan di tingkat yang lebih tinggi dalam hal ini adalah khalifah di Banten, tanpa harus membujuk dan merayu, mengumbar janji atau bahkan memberikan kadeudeuh, yang tidak jelas asal muasal, karena memang kepemimpinan kita selama ini betul-betul membawa keberkahan dan maslahat bagi masyarakat. Indikasinya adalah dukungan yang mengalir kepada kita, muncul dengan tulus tanpa diminta, bukan malah kita mengharap dengan penuh iba, memaksa, apalagi mengancam terlebih menyuap dengan mengeluarkan harta sebagai wujud balas jasa.
Jauh berbeda Jika selama kita memimpin banyak yang berkomentar, bergibah, sumpah serapah, bahkan sampai fitnah mengenai pola kepemimpinan yang kita terapkan, serasa tidak ada bekasnya, atau ada tidaknya kita sama sekali tidak membawa pengaruh (wujuduhu kadamihi), lebih-lebih malah banyak memunculkan kemudaratan, untuk apa kita berambisi menjadi pemimpin pada level yang lebih luas, apalagi untuk Banten, “sangat-sangat tidak pantas”. Seorang pemimpin yang berkualitas akan berlaku adaptif, mencoba untuk membaca arah, kemampuan, serta memperkirakan sentimen orang-orang agar mampu menempatkan diri (positioning) di tengah-tengah pergaulan secara simpatik sehinga keberadaan kita di terima dengan hati terbuka (acceptable).
Kita betul-betul rindu pemimpin Banten yang berorientasi pada akhirat, maknanya adalah segala hal-hal yang berada dalam otoritas kepemimpinan kita, dijalankan dengan benar-benar menghitung, apakah ini akan berujung pada dosa dan murka Allah, atau semakin mendekatkan kita kepada-Nya. Kita rindu pemimpin Banten yang berani menunaikan hak orang yang dipimpinnya, ruang lingkup kepemimpinan dalam bentuk yang kecil ataupun besar, punya tanggung jawab besar untuk menunaikan hak-hak orang yang dipimpin. Kepemimpinan yang tidak ada penunaian hak-hak dengan baik hanya akan menjadi sumber kesengsaraan. Berkacalah pada Umar bin Khatab, yang sangat memperhatikan masalah ini, seperti nasihatnya pada penegak hukum “Cerahkanlah wajahmu dalam setiap persidangan, agar orang-orang yang terhormat tidak mendekat untuk mempengaruhi keputusanmu. Demikian juga agar orang-orang yang lemah tidak putus asa terhadap keadilan yang akan engkau putuskan. Tunjukkanlah bukti-bukti kepada orang yang menuduh serta bersumpah bagi yang mengingkarinya. Tidak ada salahnya engkau membatalkan atau memutus ulang terhadap setiap perkara yang sudah di tetapkan sebelumnya, jika engkau menyadari bahwa keputusanmu terdahulu adalah keliru. Karena kembali kepada kebenaran adalah lebih baik daripada larut dalam kebatilan dan kesalahan”.
Ada banyak kerinduan kita untuk para pemimpin. Pemimpin yang tidak rakus, yang tidak memakan harta rakyat dengan cara yang tidak sah. Pemimpin yang cerdas dan pandai dalam menghadapi berbagai masalah, bukan malah lari atau melempar masalah dan banyak kriteria lain tanpa harus kita urai di sini. Sebab pada diri para pemimpin ada ‘nasib’ kita, dalam kerangka takdir Allah tentu. Sepert sayap-sayap yang mengepak, kerinduan ini akan terus terbang mencari tambatan.
Kepemimpinan yang kita rindukan bukan secuil mimpi untuk sang calon Gubernur Banten. Nampaknya terlalu sempit menggantungkan nasib ini kepada calon Gubernur. Kerinduan ini adalah kerinduan kita kepada diri kita sendiri. Sebab tidak banyak yang bersinggungan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari, dari gegap gempita pemilihan Gubernur. Seorang Gubernur bisa mengambil banyak hak istimewa dari kita. Sementara yang kita dapatkan tidak seberapa.
Kita sangat percaya, bahwa setiap legenda tak pernah dusta pada dirinya sendiri. Orang-orang yang sepenuh hati memimpin, menebarkan kasih sayang terhadap sesama, akan ditulis seperti apa adanya. Begitu pun sebaliknya, legenda akan membuat juga daftar hitam pemimpin-pemimpin kejam. Lalu secara alami menuliskannya di lembar sejarah hati kita apa adanya. Dan bila kerinduan kita kepada pemimpin Banten yang amanah tak juga berjawab, biarlah ia menjadi untaian pengaduan kita kepada Allah yang maha kuasa. 

Leave a Reply

Sketsa