Diberdayakan oleh Blogger.

TERBANGLAH DENGAN SAYAPMU


posted by rahmat rahmatullah on , , ,

2 comments

Mungkin kita bingung ketika membaca judul diatas, karena ada banyak tafsir atas satu kata apalagi atas satu klausa. Kebetulan klausa tersebut saya tulis dalam status facebook, yang ternyata sahabat-sahabat yang membaca merespon dan memaknainya berbeda. Tentunya tafsiran-tafsiran sahabat saya tidak keliru, karena setiap pribadi memiliki sudut pandang yang berbeda didasarkan pengalaman dan perasaannya.

Kebetulan kalimat diatas saya dapatkan ketika diminta mertua silaturahmi bersama istri ke rumah Bapak Tamsir untuk mengucapkan terimakasih karena telah memberikan nasihat pernikahan dan doa saat resepsi pernikahan kami sehari sebelumnya. Pak Tamsir adalah tetangga mertua yang merupakan dosen di Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) dan beberapa perguruan tinggi di Jakarta spesialiasi pengajaran agama Islam.

Dalam obrolan silaturahmi tersebut Pak Tamsir bercerita jika salah satu sepupu dari istrinya saat ini bekerja sebagai ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), beliau memberi tahu “Jika Mas liat di ada presiden SBY sedang pidato atau memberi sambutan, yang berdiri di belakangnya itu sepupu dari istri saya”. Titik tekan yang disampaikan Pak Tamsir dari potongan cerita tersebut bukan pada kebanggaan akan sepupunya yang menjadi ajudan SBY, tapi bagaimana perjuangan hidup si sepupunya itu hingga pada akhirnya menjadi ajudan orang nomor satu di Indonesia.

Pak Tamsir bercerita, mudah bagi kita membukakan kesempatan bagi saudara, teman, tetangga atau siapapun untuk membantu mencarikan pekerjaan atau hal lain ketika kita punya akses. Tapi tidak bagi ajudan SBY, karena saya lupa namanya, sebut saja Bambang. “Urusan apapun Bambang siap dan selalu bantu, tapi tidak dengan akses yang ia punya, Ia selalu tegas bilang tidak, ketika ada saudara, teman atau siapapun yang ingin diterima menjadi polisi, ingin dibukakan akses kepada SBY, dibukakan jalur bisnis, dll”. Untuk urusan ini Pak Tamsir bilang, Bambang terkenal dengan kata “tidak”, hingga semua saudaranya tahu jika ketemu Bambang jangan bicara yang macam-macam apalagi berharap sesuatu dari pekerjaannya saat ini. Diakhir obrolan, Pak Tamsir menutup dengan kalimat, “Orang seperti Bambang itu langka dan memang seherusnya begitu”, karena setiap orang mestinya berdikari, harus “Terbang dengan sayapnya sendiri”. Bambang hari ini adalah Bambang yang berhasil mewujudkan mimpinya dari hasil kerja keras, keringat, dan ujian pribadinya.

Sangat dalam bagi saya memaknai klausa Pak Tamsir “Terbanglah dengan sayapmu sendiri”, terlebih ditambah bumbu cerita tentang Bambang. Apa yang disampaikan Pak Tamsir benarlah adanya. Jangan pernah kita terbang dengan sayap orang lain, jangan pernah kita menggantungkan harap apalagi nasib kepada orang lain, jangan pernah pribadi kita dikontrol oleh orang lain, dan jangan pernah nasib kita ditentukan orang lain.

Terkadang kita sering terlena, dan tidak berjuang sungguh-sungguh dalam hidup, menjalaninya tidak dengan keseriusan, karena dalam benak kita bakal ada orang lain yang bisa bantu, padahal tidak ada kemutlakan akan orang lain diluar diri kita siap membantu kita diwaktu mendatang. Seorang anak pejabat atau pengusaha mungkin, tidak akan berjuang keras ketika kuliah atau memanfaatkan waktu dengan optimal karena ada alasan yang terbangun dalam benaknya “Tenang aja, Ayahkan pejabat”, atau “Santai, kan nanti tinggal melanjutkan usaha Ayah”, atau kalimat-kalimat lain yang menunjukkan ketergantungkan nasib hidupnya pada orang lain.

Bisa kita katakan dengan kondisi Negara yang seperti saat ini, dimana kolegialisme, nepotisme begitu menggejala, baik di pusat maupun di daerah, upaya menggantungkan dan menitipkan nasib pada orang lain khususnya saudara begitu besar.  Telah mengakibatkan generasi-generasi muda saat ini bermental tempe, lemah, mudah menyerah, bukan petarung, terlena dan selalu berpangku tangan. Ujung-ujungnya dia tidak pernah mengasah kemampuannya, mengisi hidupnya dengan pengalaman-pengalaman berarti, yang ada adalah generasi yang hobi bermain, hura-hura, terninabobokan oleh gaya hidup. Beruntung jika nasibnya sesuai harapannya, ayahnya, saudaranya bisa bantu membukakan akses, itupun resikonya akan melahirkan generasi pekerja yang berkualitas dan bermental rendahan, ada dan tiada tidak memberikan kontribusi dan pengaruh pada tempatnya bekerja. 

Resiko berikutnya, dengan akses yang ia agung-agungkan, keluarga yang amat ia harapkan, ternyata diluar prediksi mengalami musibah kejatuhan, misalnya Ayahnya diberhentikan sebagai direktur, pamannya sebagai pejabat tinggi menjadi tersangka korupsi, maka mereka yang menggantungkan akses dalam hidupnya hanya akan menjadi generasi depresi, frustasi, karena tidak pernah membekali dirinya dalam kerja keras, karena harapannya akan sayap orang lain tidak terwujud, maka mudahlah baginya terjerat dalam penyakit masyarakat seperti kriminalitas dan narkoba.

Tafsiran berbeda, bagi Kalimat “Terbanglah dengan sayapmu”. Jika dikaitkan ketika kita memiliki istri atau pendamping hidup, saya mendapatkan masukan tersebut dari Pak Yohanes, ketika beliau merespon status saya. Ketika kita memili istri atau suami, maka kita akan terbang dalam dua kemungkinan. Terbang dengan sayap yang semakin kokoh mengepak dan tinggi, atau sebaliknya terbang dengan sayap yang rapuh lalu jatuh terhempas. Fungsi pendamping adalah penguat juga pelemah. Jika istri atau suami kita adalah patner sejati, senantiasa memberikan kekuatan, motivasi, dorongan, dan obat, maka semakin mengokohkan sayap kita dan siap menghadapi badai apapun ketika terbang. Berbeda jika ternyata pendamping hidup kita malah, melemahkan, senantiasa menjatuhkan, fatalis, malas, dan apalagi dibumbui aneka konflik dan tidak saling percaya, maka hanya akan menjadikan sayap kian rapuh dan membuat kita terjatuh.

Bolehlah kita sesekali meminjam sayap dalam artian meminta bantuan orang lain, namun jadikan itu hanya sesekali, saat kita benar-benar butuh. Karena statusnya meminjam, maka adakalalnya untuk mengembalikan. Janganlah hidup ini kita jadikan berlebihan sebagaimana memaknai sahabat sebagai segalanya dan musuh juga segalanya. Karena kata Mario Teguh “Musuh itu sementara, selama ia belum memahami maksud baik kita”, begitu juga “Sahabat itu sementara, selama ia belum memahami sisi buruk kita”. Berhubunganlah dengan orang lain, tapi jangan sampai terkungkung budi baik orang lain.

Diakhir tulisan ini saya kutip aliena yang amat menarik dari Novel Eliana; Serial Anak-anak Mamak, karangan Tere Liye, tentang nasihat Ayah kepada anaknya, tentang bagaimana selayaknya kita hidup, dan bersyukur menghargai diri kita sendiri:

” Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus membalas penghinaan dengan penghinaan bukan? Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa saja. Tidak pemarah, dan tidak perlu membalas”.***

2 comments

Leave a Reply

Sketsa