Diberdayakan oleh Blogger.

SIULAN PAK SUPIR


posted by rahmat rahmatullah on , , ,

No comments

Semenjak menikah saya memulai tradisi berakhir pekan di rumah mertua, tepatnya di Ciledug, Kreo Kota Tangerang. Setiap jumat sore, sepulang dari kantor saya langsung berangkat ke Tangerang dan setiap senin subuh berangkat menuju tempat kerja di Kota Serang. 

Subuh ini amat berkesan bagi saya, namun mungkin biasa saja atau bukan sesuatu yang istimewa bagi yang lain. Saat berangkat menuju Kota Serang selepas shalat subuh, saya diantar istri  menggunakan sepeda motor hingga ciledug, kemudian menyambung angkot B.O1 arah Ciledug-Cikokol. Saat di angkot beberapa penumpang tertidur, mungkin karena letih dan ngantuk sehabis sahur, namun ada hal yang menarik perhatian saya, kok di angkot terdengar suara siulan, setelah diperhatikan rupanya siulan itu bersumber dari Supir. Siulan hanya terhenti ketika ada orang yang berdiri di pinggir jalan dan Supir memanggil “Cikokol-Cikokol” setelah itu disambung lagi dengan siulan. Sepintas siulan yang terdengar merupakan irama dari lagu dangdut yang familiar kita dengar namun saya tidak tahu apa judulnya. Saya heran, Supir tidak henti menyuguhkan siulan sepanjang perjalanan Ciledug-Cikokol kurang lebih 30 menit perjalanan.

Sepanjang mendengar siulan pikiran saya menerawang dan bibir saya menyunggingkan senyum, ada angin apa Supir ini bersiul tidak ada henti, apalagi saat pagi menjelang. Seingat saya, siapapun baru akan bersiul ketika batinnya bahagia, jarang dan langka mereka yang bersedih atau berduka kemudian bersiul. Kecuali tukang burung yang sedih atau senang tetap bersiul, karena begitulah pekerjaannya.

Apa mungkin supir ini memenangkan undian berhadiah, tapi mana mungkin undian dimumkan menjelang subuh. Mungkin juga kupon buntutnya tepat sebagaimana tebakannya, tapi mana mungkin awal puasa sempat-sempatnya main buntut. Apa mungkin istrinya melahirkan, jikapun istrinya melahirkan pastinya supir inipun cuti. Pada akhirnya saya maknai sederhana, mungkin pak supir sedang memulai hari dengan bersyukur, mengeluarkan energi positif yang iya punya, berharap ada rizki besar yang ia dapatkan untuk  hari ini.

Jujur saya pribadi terhibur dan tersemangati ketika mendengarkan siulan supir sepanjang perjalanan. Jika Yohanes Surya mengenalkan istilah Mestakung (Semesta Mendukung), bagi saya siulan supir berdampak mestakung, semangat dan keceriaanya menyebar dan membuat saya sepanjang perjalanan tersenyum walaupun mungkin sang Supir tidak menyadari. Karena memang begitulah energi postif, selalu hadir diakala sekitar kita memancarkannya, walaupun yang memancarkan tidak menyadarinya.

Bagi saya hal yang langka seorang supir selepas subuh bersiul. Langka karena biasanya yang kita dengar dari supir adalah aneka keluhan, mulai dari penumpang yang semakin sedikit karena banyaknya sepeda motor, besarnya setoran, banyaknya pungutan liar, dan tidak jarang supir yang ugal-ugalan. Jikapun kita menyaksikan supir tersenyum dan riang, hanya ketika mereka bertemu rekan seprofesinya, mengeluhkan sedikitnya penghasilan dan saling mensugesti dalam kepahitan.

Jika kita berpikir lebih jauh, alasan apa yang membuat seorang supir bersyukur? Toh penghasilan mereka hanya cukup untuk setoran ke Bos, narik dari subuh hingga sore mungkin yang terbawa ke rumah, mungkin tak akan lebih dari Rp.100.000. Jika sudah tersetorkan ke Istri nilai uang langsung terdistribusikan, sangat sulit untuk bisa nabung. Artinya menjadi supir mungkin tidak pernah berpikir untuk menjadi kaya. Tapi luar biasa siulan Pak supir pagi ini bagi saya adalah sebentuk rasa syukur baginya, syukur masih dianugrahkan kehidupan, rizki, keluarga yang dalam benaknya bukun syukur karena bisa menabung apalagi menjadi kaya.

Dalam pandangan saya, bersyukur bukanlah domain orang kaya, orang yang banyak uang, banyak harta, atau banyak kendaraan. Bersyukur adalah domain seluruh manusia, tidak mengenal berapa harta dan apa pekerjaannya. Begitu juga berkeluh kesah, bukanlah domain orang miskin, orang yang tidak memiliki harta, dan pekerjaan tetapi domain semua manusia tidak mengenal ia kaya atau miskin. Saya memaknai bersyukur dan mengeluh ketika menjadi teman mengobrol manager di perusahaan tempat saya bekerja dulu. Diluar konteks pekerjaan beliau bercerita tentang kondisi rumah tangganya yang tidak harmonis, bahkan pernikahanya yang ketiga ini menjelelang kandas. Problem keluarga, bisnis dan lainnya mengantarkan beliau percaya dengan dunia mistik dan klenik. Setiap langkah yang beliau pustuskan dihadapkan ketidak percayaan Diri yang pada akhirnya membawa beliau mengkonsultasikannya kepada “Orang Pintar”. 

Obrolan dengan beliau membawa pikiran saya menerawang, kurang apa orang ini, gajihnya sepuluh kalilipat dari saya, secara materi lebih dari cukup. Sebagian besar sekolahnya dihabiskan di luar negeri yang ideologinya rasional, tapi kok kepercayaannya kepada dunia mistik, klenik dan “orang pintar” luar biasa. Tinggal di apartemen dan banyak harta bukan berarti membuat rumah tangganya tentram, malah pernikahan ketiganya menjelang kandas.

Rupanya memang syukur itu di hati, dan terpancarkan pada sikap. Bukan pada harta, tahta yang dimiliki. Seorang Presiden-pun terus mengeluh dan memancarkan energi negatif pada rakyatnya. Seorang manager-pun mengeluh bukan karena kurang harta, melainkan kondisi batinnya yang jauh dari tentram. Presiden, manager atau siapapun yang sepintas “kurang apa lagi”, karena segala obsesi dan prestasi telah direngkuhnya. Tapi saya yakin kebahagiaan dan rasa syukurnya kalah oleh supir yang sepanjang perjalanan bersiul. Terkadang inspirasi yang tidak pernah lekang itu hadir dan membuat haru lalu membangkitkan semangat untuk lebih bersyukur lagi, ketika kita bertemu petani, nelayan, pemulung dan profesi yang senantiasa “tidak dianggap” namun senyumnya selalu tersungging dan tutur katanya tidak henti mengungkapkan kata-kata yang bermakna mensyukuri kehidupan.

Terimakasih Pak Supir B.01 Ciledug-Cikokol yang siulannya menyemangati dan menginspirasi. Tantangan hidupnya pasti jauh lebih besar dibanding kita, rizkinya mungkin juga lebih sedikit dibanding kita. Namun rasa syukurnya menjadikan dia orang yang paling bahagia selepas subuh tadi.

Saatnya kita mensyukuri apa yang Allah anugerahkan untuk kita saat ini, hari ini dan detik ini, karena hanya dimataNya semua kita adalah istimewa:).***  

Leave a Reply

Sketsa