Diberdayakan oleh Blogger.

Yang Islam KTP-nya


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Entah apa makna bulan puasa bagi para penjarah uang rakyat. Mungkin dalam benak mereka bulan puasa atau bulan lain sama saja. Asumsi mereka kelaliman yang mereka buat bisa ditebus dengan buka bersama anak yatim dan memberi sumbangan. Bahkan mereka bisa mengemas secara sentimentil seolah-olah dan seakan akan mereka adalah orang yang suci karena selalu bersedekah dalam rangka menebus dosa atau menaikan citra di bulan puasa. Tengok saja, penguasa, pengusaha dan siapapun yang menjarah uang rakyat dan mengejar kuasa, seakan menjadi yang paling shalih pada saat ramadhan. Sungguh hebat dihadapan Tuhan pun mereka berani bersandiwara, urusan dengan Tuhan-pun bisa mereka kemas menjadi komiditas citra.
Semua orang tahu jika Nazarudin dalam penjara tetap berpuasa, tapi apa makna puasa baginya ketika ketakutannya bukan pada Tuhannya, tetapi pada kehilangan harta, takut pada penguasa dan kehilangan keluarganya. Puasanya mungkin hanya ritual menahan lapar semata, tapi kejujuran dan kebeningan hati yang seharusnya terpancar tetap tidak tampak. Dia tidak malu pada Tuhannya, dia tidak malu pada masyarakat yang dizaiminya, dia tidak malu dengan habisnya energi masyarakat yang terkuras karena memikirkannya. Sungguh telah hilang urat kemaluannya. Disisi lain dramaturgi Nazarudin tiap saat dipertontonkan dalam ruang publik, dalam kotak TV, dalam koran yang pada akhirnya telah mengalihkan pemberitaan kepedihan masyarakat di bawah, entah mereka kekeringan, entah kurangnya tangkapan laut, gagal panen dan banyak masalah arus bawah tetutupi hanya karena ruang berita nazar yang lebih luas.
Dalam sudut lain negeri ini, banyak penguasa lalim lain yang berupaya keras mempertahankan dan merebut kuasanya kembali. Hanya satu tujuannya mereka berkuasa kembali agar segala keborokannya bisa ditutupi, agar bangkai yang membusuk tak tercium baunya. Sungguh luar biasa upaya mereka dengan menghalalkan yang haram, mengemas kezaliman dalam bentuk kebaikan, membagi-bagikan uang seakan dari pribadi padahal uang dari rakyat, mengadakan acara keagamaan, kemanusiaan, padahal hanyalah kedok untuk pencitraan. Tak kalah gila ketika mereka membajak intelektual, akademisi dan ulama dengan uang guna melegitimasi kepentingan mereka. Sungguh kezaliman terorganisir terbukti mengalahkan kebaikan yang tercerai berai. Di wilayah saya saat ini sedang terjadi, saya yakin di bumi bagian lain di Indonesia juga terjadi, gurunya bisa Gayus, bisa Nazar, Anggoro, OC Kalligis dan juga bisa yang lain karena setiap saat ruang publik mempertontonkan kezalimin yang di dramatisir.
Dalam benak saya hanya satu, apa makna puasa bagi mereka? Bukankah pintu taubat Allah bukakan sangat luas saat ramadhan. Ibadah apapun Allah lipatgandakan tak terhitung guna mengurangi dosa kita yang tiada terkira. Kapan lagi bertaubat nasuha (sesunggunya) ketika ramadhanpun masih riang mereka bersandiwara.  Ketika hal sakral mereka jadikan profan, ketika Tuhan tak henti mereka ajak gurau. Ketika sumpah jabatan dan pengadilanpun mereka dustakan.
Mungkin Agama saat ini hanya bersemayam di KTP dan surat nikah, sudah meninggalkan hati, laku dan perbuatan. Sebagai muslim saya malu karena mayoritas penguasa lalim dan koruptor adalah muslim. Malu karena semangat meneladani sunah rasul tidak ada, malu karena mengejar kuasa, bukan menghindar kuasa. Benar apa yang diungkapkan Orang shalih zaman dahulu, mengenai ramalan masa depan yang terekam dalam ramalan joyoboyo pada serat katilada tiga abad lalu, tentang ciri-ciri era kalabendu:
“Banyak janji tidak ditepati, banyak orang telah berani melanggar sumpahnya sendiri,... Kejahatan dijunjung tinggi, kesucian dijauhi. Banyak manusia mengutamakan materi, lupa kemanusiaan, lupa kebajikan, lupa sanak saudara. Banyak Bapak melupakan anak, anak berani melawan Ibu dan Bapak”
“Banyak pejabat yang jahat, orang baik justru tersisih, banyak orang kerja halal justru malu, orang baik ditolak, orang jahat justru naik pangkat, yang mulia dilecehkan, yang jelek di puja-puja”
“Yang sewenang-wenang merasa senang, yang mengalah justru merasa semua salah. Ada Bupati yang tidak beriman, wakilnya bandar judi. Orang baik budi dibenci, orang jahat dan pandai menjilat diberi kedudukan.
Pemerasan marak, pencuri melakukan kejahatan sambil duduk dengan perut besar... banyak orang mabuk doa..“
Di akahir jangka-nya, joyoboyo berpesan “... perlahan namun pasti kelak kita akan memasuki zaman yang serba terbolak-balik. Dan bila jaman itu tiba, seuntung-untungnya orang yang lupa, lebih untung orang yang sadar dan waspada”.
Semoga Ramadhan kali ini Allah anugerahkan hidayah tak terkira bagi hamba-Nya. Bukakan pintu taubat kami Ya Rabbi.***

Leave a Reply

Sketsa