Diberdayakan oleh Blogger.

Malaikat Itu Supir Angkot


posted by rahmat rahmatullah on

4 comments


Seperti biasa jika tak ada aktivitas akhir pekan, saya bersama istri mengunjungi orang tua ataupun mertua, Kebetulan jadwal minggu ini menemui mertua di daerah Kreo-Ciledug. Sebagaimana biasa dari Serang menuju Kreo membutuhkan 3 kali naik kendaraan umum, Bis Serang-cikokol, Angkot cikokol-ciledug, dan Angkot Ciledug-Kreo.

Ketika menaiki Angkot BO2 Cikokol-Ciledug, saya dan istri sengaja memilih duduk di depan, persis di samping Pak Supir. Tak banyak pikiran karena bagi saya naik angkot dimanapun sama, yang penting sampe tujuan dengan selamat. Keheranan saya muncul ketika dua orang Ibu turun dan memberikan ongkos sambil ‘ngeloyor’ pergi, dalam waktu singkat sambil melihat uang ongkos Pak Supir memanggil si Ibu “Bu, uangnya kelebihan”. Dua ibu yang sudah ngeloyor pergi pun kembali menghampiri, “Lebih apanya Bang?”, Pak supir sambil memberikan kembalian Rp.500 rupiah, menjelaskan “Kalo dekat ongkosnya Rp 700 Bu, tadi Ibu ngasi Rp.2000, ini kembaliannya Rp.500”. Sambil tersenyum menggaruk kepala, Ibu tersebut menjawab “Makasi Bang”.

Pada awalnya saya kurang memperhatikan perilaku Pak Supir, namun sepanjang perjalanan menuju Kreo, kejadian tersebut berulang, Pak Supir memanggil penumpang-penumpang yang ongkosnya kelebihan. Bagi saya dan istri yang kebetulan berada di samping Pak Supir terheran-heran, betapa jujurnya supir ini. Karena kebiasaan supir angkutan umum yang kita kenal adalah sebaliknya: menaikan ongkos diatas tarif berlaku, tidak memberikan kembalian pada penumpang yang lupa, apalagi bagi penumpang yang belum kenal wilayah, biasanya dimanfaatkan supir. Kekesalan kita bertambah jika supir banyak ngetem.

Namun semua itu tak berlaku ketika kami naik Angkot ini, selain amat jujur, juga sama sekali tidak ada istilah ngetem. Setengah perjalanan terlewati, tertarik bagi saya membuka obrolan dengan Pak Supir, sambil berbasa-basi saya bertanya “ Syukur ya pak, BBM gak naik”?, beliau menjawab dengan jawaban yang tidak saya duga “Bagi saya naik juga gak papa Pak”, saya bali bertanya “Lho, memang kenapa pak?”. Pak Supir menjawab panjang “Masyarakat kita ini suka pura-pura Pak, sebetulnya mampu, tapi pura-pura miskin, coba Bapak perhatikan, kalau dulu satu keluarga punya motor satu, sekarang satu rumah punya lebih dari satu moto, orang punya hp lebih dari satu. Tapi pas pembagian BLT, BBM mau dinaikin semua minta jatah dan mendadak ngaku miskin”, tambah Pak Supir “Kalau BBM naik memang kenapa? Orang kan tinggal menurunkan standar hidupnya, klo gak kebeli bensin ya bisa naik angkutan umum, atau naik sepeda angin, atau jalan kaki, kenapa harus pusing”.

Dalam keheranan kejujuran Pak supir, sempat saya tanya “Bapak kok panggil penumpang yang kelebihan ongkosnya ?”. Sambil tertawa Supir tersebut menjawab ”Modal hidup saya Cuma satu pak, Jujur… klo gak jujur siapa yang akan percaya saya. Kita gak bisa ngarepin pemimpin, pemerintah atau siapapun supaya meneladani berbuat jujur, karena sekarang langka. Saya juga yakin, walo gak ngetem pasti dapat penumpang, sudah Allah atur jatah rizki seseorang. Saya gk ambil jatah kelebihan penumpang, tak lantas membuat saya miskin kok Pak”.

Bagi saya sungguh luar biasa bertemu dengan “Malaikat Kecil” dalam wujud supir angkot, seseorang yang menegakkan kejujuran tanpa harus populer atau dikenal siapapun, sosok dengan profesi yang mungkin tidak dianggap penting, namun tak tertandingi kebeningan hatinya. Selayaknya kita bercermin.

Tak henti bersyukur Allah pertemukan dengan sosok-sosok bersahaja yang mengajarkan kebaikan walaupun tidak berpeci, perpakaian koko, bertitel haji, doktor, atau profesor yang mengajarkan dalam kelas atau di dalam mesjid, melainkan hanya dalam mobil angkot. Terkadang dalam titik jenuh menyaksikan rendahnya adab pemimpin, wakil rakat, dan aparatur  di negeri ini, optimisme justru tumbuh ketika menyaksikan supir yang jujur, pemulung yang tetap menegakkan shalat, pedagang yang tidak mengurangi timbangan, guru ngaji yang tulus mengajari anak-anak kecil walau hanya diterangi temaram lampu minyak. Mereka adalah malaikat-malaikat kecil yang mungkin sedang membuat  jeda murka Tuhan.***

4 comments

  1. vtik

Leave a Reply

Sketsa