Diberdayakan oleh Blogger.

Hidup Tanpa Ruh


posted by rahmat rahmatullah on

1 comment



Entahlah jika dalam suatu pelatihan atau pendidikan aparatur negara yang memakan waktu beberapa hari, saya terkadang mengamati hal-hal kecil yang berdampak besar. Terkadang jika dalam satu forum formal setiap orang beradu argumen, berdebat mengenai konsepsi perbaikan negara, pembangunan kesejahteraan sosial, penanganan fakir miskin, dan berdebat dengan segala konsep hingga berbusa-busa.

Namun terkadang ironi kecil saya rasakan saat sesi makan bersama, hampir sebagian piring menyisakan nasi atau lauk, sampai dengan santai keluar  perkataan makanannya tidak enak. Padahal apa yang di makan dan diminum dibiayai oleh negara, diambil dari pajak masyarakat. Disisi lain orang-orang tersebut garang dalam debat soal penanganan fakir miskin padahal sikap dan perilakunya jauh dari empati bagi si fakir dan si miskin.

Semangat aparatur negara sebagai pelayan masyarakat berubah total malah ingin dilayani masyarakat. Hal yang menjadi kewajibannya kini dipatok tarif, urusan administratif tidak akan lancar jika masyarakat tidak melayaninya dengan uang. Hal tersebut amat besar pengaruhnya terhadap gaya hidup aparatur negara yang glamor, mengedepankan gengsi yang pada akhirnya semakin jauh berjarak dengan masyarakat. Padahal ruang lingkup pekerjaannya terkait pelayanan masyarakat kecil.

Hal yang memprihatinkan kepatuhan aparat kepada atasan jauh lebih besar dibanding pada Tuhannya. Dan memang memperihatinkan komitmen aparatur negara kepada Tuhannya saat ini. Dalam satu diklat, yang menunaikan shalat subuh di masjid, dari sekian puluh orang tidak lebih dari tiga orang, walaupun mungkin yang lain menunaikan di kamar masing-masing. Begitupula keterpanggilan pada shalat zuhur, hanya sebagian yang bergegas menunaikan shalat. Entahlah terlalu jauh bagi saya mencampuri urusan seseorang dengan Tuhannya, namun hal tersebut setidaknya akan menjadi warna kepribadian dan perilaku sesorang. Jika pada Tuhannya sudah abai, bagaimana dengan hal kecil.

Mungkin memang manusia-manusia kini, hidup namun tidak dengan ruhnya. Antara kata dan laku amat tak bersesuai. Jika aparatur negara kini bergerak dan berbuat tanpa ruh, maka mereka akan menganggap hal-hal yang tak wajar menjadi wajar, dan hal wajar dianggapnya tidak wajar. Dalam satu titik pemberontakan saya berilustrasi, orang gila dulu adalah orang-orang yang berperilaku tidak wajar, bertentangan dengan kaidah etika. Maka orang gila sekarang adalah sebaliknya orang yang berlaku wajar dan menjaga kaidah etika, karena orang-orang tersebut ada namun menjadi minoritas dalam satu gelombang besar.

1 comment

Leave a Reply

Sketsa