Diberdayakan oleh Blogger.

Memaafkan Atau Melupakan


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Penduduk di negeri ini mungkin teramat baik atau teramat acuh. Jika dulu orang bilang bahwa hukum sosial atau lingkungan jauh lebih perih dibanding hukum negara rupanya kini tidak berlaku. Entahlah di negeri ini pesohor begitu mendapatkan tempat di hati masyarakat, walaupun memiliki cacat moral. Namanya pesohor tak jarang sikapnya digugu dan di tiru, jika ia baik maka sikap baik itu yang ditiru masyarakat, jika lakunya buruk maka itu juga yang ditiru.

Namun yang saat ini terjadi pesohor yang memiliki cacat cenderung mendapat tempat, bahkan mendapatkan empati. Kehawatiran terbesar adalah ketika seseorang berbuat salah, lalu kesalahan tersebut dianggap biasa, bahkan diangap bukanlah merupakan kesalahan, yang kemudian suatu saat sebuah kesalahan bukan lagi dianggap salah karena mengalami pergeseran nilai.

Sebut saja A*iel , Lun* M*y*, Anj*, dan sederet artis lain sepertinya tak terhukum secara sosial, walaupun memiliki tragedi moral. Malah kian hari mendapatkan tempat, kontrak kerjanya semakin banyak, kian digandrungi anak muda. Apa yang salah, apa mungkin inilah wujud pergeseran nilai di negara permisif. Sejujurnya besar kekhawatiran ketika anak-anak zaman kini justru memuji dan memuja figur yang sesungguhnya pernah melakukan tindakan a moral lalu menganggap itu hal biasa. Alah bisa karena biasa, mungkin jika ini terjadi ketika  tindakan amoral akan menjadi hal biasa, lumrah lalu dianggap wajar.

Bagi saya sebagai orang tua, dibalik upaya memagar iman dan moral anak, tersimpan kekhawatiran mendalam, tatkala lingkungan pergaulan anak kelak yang penuh dengan tragedi moral sudah dianggap biasa, televisi dengan segala pernak-pernik sajian hiburan tetap memberikan panggung kepada mereka. Terlebih saat ini kian canggih televisi menyuguhkan tragedi moral figur sebagai melodramatis, bisa didesain bak sinetron seakan yang salah tidak bersalah atau dikurang salah-salahnya. Akibatnya anak zaman menjadi anak abu-abu, tak bisa membedakan mana hitam, dan mana putih, semua tercampur aduk menjadi samar.

Inilah yang saya bingung apakah memang bangsa ini pemaaf atau pelupa. Jika-pun pemaaf maka itu baik tapi tetap harus ada hukum sosial agar tragedi moral tak berulang. Jika itu pelupa inilah yang bahaya, karena pelupa dekat dengan abai atau acuh.***


Foto dari:  http://ciknisa89.blogspot.com/2013/02/tips-melupakan.html

Leave a Reply

Sketsa