Diberdayakan oleh Blogger.

Membangun Ketahanan Keluarga


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments

Pokok persoalan bangsa ini hanyalah satu yakni ‘Robohnya Keluarga’. Jika kita cermati, masifnya peredaran Narkotika dan Obat-Obat Terlarang (Narkoba), tumbuh suburnya organisasi sosial keagamaan yang merasa paling benar serta mengajarkan paham fanatisme dan narsisme, munculnya gerakan-gerakan kelompok yang ditengarai fundamental mengarah pada tindakan teror, maraknya kriminalitas, tumbuh suburnya Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang diidentikan mental pemalas diwakili oleh anak jalanan, gelandangan dan pengemis, dan yang paling kekinian adalah lahirnya generasi muda galau, semangat hidupnya ditentukan oleh mood, semua persoalan diatas diakibatkan oleh absennya keluarga.

Entahlah saat ini keluarga yang merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas ayah, ibu dan anak telah kehilangan kehangatan dan fungsi saling bergantung. Rumah kini mungkin hanya berperan sebagai ruang hinggap ibarat penginapan, sekedar tempat makan, tempat tidur, dan kembali ke pusaran aktivitas. Bukan lagi sebagai tempat perhentian  untuk membaharukan energi, perasaan dan pikiran. 

Sebetulnya aneka persoalan yang disebutkan diatas diawali ketidakberfungsian keluarga. Narkoba merajalela karena keluarga telah gagal menangkal, lahirnya pemuda galau karena keluarga gagal membentuk jatidiri anak, kian diminatinya gerakan sosial keagamaan yang mengajarkan narsisme dan fanatisme oleh anak muda hingga terlibat dalam gerakan sesat dikarenakan keluarga gagal menjadi madrasah ruhani, tumbuh subur dan kian variatifnya kenakalan remaja diakibatkan kegagalan keluarga dalam menanamkan nilai moral, dan aneka persoalan lain yang memang cikal bakalnya dikarenakan lemahnya keluarga. Keluarga yang padamulanya dicita-citakan menjadi ‘surga’ telah menjadi ‘neraka’ dikarenakan gagal memenuhi kebutuhan lahir maupun batin baik bagi ayah, ibu maupun anak-anak.

Hal yang sering kita lupakan adalah seolah-olah keluarga tidak memiliki peran terhadap kemajuan bangsa. Namun justru keberhasilan suatu bangsa merupakan akumulasi keberhasilan dari unit-unit keluarga sebagai lembaga terkecil dalam masyarakat. Jika kita cermati, sesungguhnya kemajuan peradaban bangsa ini hanya dapat diraih dengan hadirnya keluarga. Karena keluarga sejatinya menjadi tempat bernaung, mengadu, mencurakan isi hati, melepas energi negatif dan menghirup sebesar-besarnya energi positif, tempat bersandar atas segala persoalan, dan tempat belajar segala jenis ilmu (madrasah). Lalu apa yang kemudian terjadi jika lembaga keluaraga tidak memiliki ketahanan? Tentunya dengan keluarga yang terpuruk dan tidak memiliki ketangguhan hanya akan menjadi beban bagi negara, dengan tumbuh suburnya persoalan turunan. 

Pemerintah-pun memiliki kekhawatiran yang sama terkait persoalan diatas, kemudian merespon melalui gerakan “Revolusi Mental”. Revolusi mental yang bukan hanya diprioritaskan pada Aparat Sipil Negara (ASN) melainkan juga menyentuh tatanan keluarga, sehingga diharapkan keluarga kembali pada hakikatnya, ayah dan ibu bisa menjadi polisi moral bagi anak, dan anak merasakan rumah sebagai surga mereka. Akan tetapi keluarga tangguh hanya bisa dibentuk dengan dukungan semua pihak, hal yang tidak bisa ditolak adalah kemajuan teknologi informasi, jika pada masa pemerintahan lalu ketahanan keluarga dapat dijaga karena adanya sensor yang ketat terhadap penyiaran dan itupun dibatasi melalui media pemerintah yakni RRI dan TVRI. Sedangkan di era keterbukaan kini, siaran TV yang menuhankan rating memiliki andil dalam membentuk generasi-generasi galau, guyon dan membangkang. Jika pemerintah hadir, mau dan sungguh-sungguh siaran TV melalui program-programnya bisa kembali darahkan menjadi sarana memperkokoh ketahanan keluarga, bukan malah lambat laun menggerogoti.

Saya hakkul yakin peredaran narkoba, penyebaran aliran sesat, dan aneka persoalan lainnya hanya akan tertangkal ampuh oleh keluarga yang tangguh. Peradaban dan kemajuan bangsa ini-pun hakikatnya  hanya bisa diraih dengan ketahanan keluarga, lembaga terkecil yang memiliki Ayah yang berwibwa, berilmu, penuh suritauladan dan menjadi tempat dialog, Ibu yang menjadi pelindung, teduh dan selalu hadir kapanpun anak membutuhkan, dan kakak-kakak yang menjadi panutan bagi adik-adiknya.*** 

2 comments

Leave a Reply

Sketsa