Diberdayakan oleh Blogger.

AIMAN DAN PAPARAN GADGET


posted by rahmatullah on

2 comments



Sabtu pekan lalu saya ajak Aiman ke Puskesmas untuk periksa gigi, tidak lagi sakit sebenarnya, hanya memang hawatir dengan kondisi  gigi geraham kanan kiri yang sudah berlubang, tambah gigi depan yang keropos kian menghitam. Sebenarnya Aiman tergolong rajin menggosok gigi, sama sekali tidak suka permen, itupun jarang makan coklat dan es krim. Kami sadari sebagai orang tua kurang apik menjaga kesehatan gigi Aiman atau memang ada faktor lain yang memicu parahnya kerusakan gigi, ada juga yang bilang kadar air di tempat kami yang terlampau asam.

Oia, tapi tulisan sebenarnya bukan tentang gigi Aiman (hehe gak penting kan), melainkan upaya kami merubah kebiasaan Aiman sebagai kertas putih yang belum terkotori tinta, buram, lecek, apalagi robek. Ini tentang ‘penyakit’ anak kekinian yaitu ‘gadget’. Anak mana yang tidak kenal, dekat, bahkan terpapar gadget, apalagi sepanjang waktu melihat lingkungan terdekatnya begitu intim dengan gadget. 

Dibilang hawatir, sayapun teramat takut jikalau Aiman terpapar, bahkan tak terlepas dari gadget, terlebih HP bagi saya dan istri bukan semata-mata terkait menyambungkan sesama manusia, juga terkait hal pekerjaan. Sejak awal saya menerangkan ke Aiman jikalau saya pegang HP artinya sedang bekerja, karena memang kebetulan saya tidak suka games, tidak menginstal permainan, hanya memasukan aplikasi berita, aplikasi pesan dan pendukung pekerjaan. Dan saat saya akan pegang HP saya akan bilang “Abi mau balas sms ya, abi mau balas WA, atau abi mau baca berita”. Dengan begitu tidak sedikitapun dalam benak aiman jika saya sedang nge-game di HP.

Namun bukan berarti Aiman sama sekali tidak menggunakan gadget. Saya terapkan jam khusus bagi Aiman boleh menggunakan Ipad mini, waktunya selepas shalat subuh dan ngaji, saya bebaskan Aiman menggunakan hingga jam 6 pagi, selapas itu berlanjut dengan aktivitas lain. Memang Ipad mini saya khususkan untuk Aiman, saya install aplikasi terkait permainan kecerdasan anak, boleh juga nonton Youtube yang settingnya sudah control orang tua. 

Alhamdulillah jika jam sudah menunjukkan pukul 6, ia memberikan Ipad ke saya atau menyimpannya diatas bufet. Jikalau lupa, tanpa sepengatahuannya saya matikan modem wifi (koneksi internet), paling Aiman bilang” Sudah jam 6, internetnya gangguan Abi”, sama sekali dia tidak tampak kecewa ataupun marah. Oia saat dia menggunakan Ipad saya ada disampingnya, sayapun menggunakan HP sekedar melihat WA ataupun membaca berita sambil minum kopi mendampingi Aiman minum susu. Rupanya saya menyadari kunci agar anak patuh, respek, menaati aturan yang ditetapkan orangtua adalah komitmen, pembiasaan, dan tauladan. Sehari-hari saya tidak meletakan HP ditempat khusus, dimanapun tergeletak Aiman tidak pernah berani menggunakan ataupun membuka-buka, karena sudah ter-frame jika HP Abi adalah pekerjaan Abi. Alhamdulillah itupun menular pada adiknya Aisyah (2 tahun), jikalau ia mendapati HP saya tergeletak, dia akan bawakan dan menyerahkan sambil bilang “Bi Hape”.

Saya dan istripun termasuk pernah mengalami, upaya termudah menenangkan anak adalah dengan smartphone, obat menunggu sesuatu biar anak gak bosen atau BT paling efektif ya dengan gadget. Beberapa kesempatan jika mau antar Aiman berobat, menunggu antrian, dan pekerjaan yang ada urusannnya dengan menunggu selalu bawa Ipad. Tujuannya apa, ya biar Aiman anteng, gak menganggu situasi lingkungan. Namun saya pikir jika begitu terus ‘tidak sehat’. Dari situ saya harus menyusun cara agar bisa dirubah kebiasaan dengan aktivitas lain. Akhirnya saya pacu Aiman tanpa paksaan sedikitpun dengan menyukai membaca buku dan menulis. Caranya, tidak ada kata lain selain suritauladan, saya selalu menunjukkan membaca buku saat dirumah, dan menyediakan buku-buku yang kiranya seusia Aiman bakal suka, dengan meminta buku bekas ke saudara yang lain. Nah rupanya itu sangat efektif sehingga kini buku adalah bagian dari Aiman. Berikutnya saya salami hal ihwal apa kesukaan Aiman, rupanya dia suka dunia mobil, maka saya carikan buku tentang mobil bahkan sengaja saya beli tabloid Otomotif, tujuannya biar dia semakin antusias membaca. Dampak positif lainnya adalah tanpa disadari diapun tertarik untuk menulis. Untuk mengapresiasi itu terkadang saya support Aiman dengan membawa kertas bekas yang belakangnya kosong untuk dia menggambar dan menulis apapun, membelikan white board, menyediakan buku tulis, dan dukungan lain agar dia menyenangi dunia membaca dan menulis. Maka tidak aneh jika pulpen pilot dua hari sudah habis, buku tulis seminggu sudah penuh. 

Walupun memang tidak saya pungkiri dalam situasi khusus, diluar subuh membolehkan Aiman menggunakan HP, misalnya saat terjebak macet, menunggu yang terlalu lama, itupun tetap disertai aturan main dengan membatasi waktu.

Alhamdulillah dengan pembiasaan diatas menginjak usia 5 tahun Aiman sudah lancar membaca huruf latin, lancar menulis dan tak lupa yang wajib dia lancar juga membaca Al-Quran. Semua tidak terjadi dengan tiba-tiba, tidak ujug-ujug, tapi sebuah proses menyelami, memprogram dan melakukannya dengan kebersamaan dan suasana riang.

Nah kembali ke paragraf awal, cerita tentang Aiman dibawa ke Puskesmas untuk berobat gigi. Sebetulnya saya sedang mengetes Aiman, apakah dia mau sambil menunggu antrian periksa dokter, untuk membawa buku tulis. Saya pancing “Aiman nantikan di Dokter lama, gimana kalau Aiman bawa buku tulis dan pulpen biar gak bosen”. Tanggapan Aiman “Iya Abi, Aiman mau sambil lanjutin gambar mobil sama bikin soal buat abi”, saya tanggapi lagi “ Oke, nanti abi tulis pertanyaan yang banyak terus Aiman jawab ya”. Memang tiga minggu ini Aiman lagi suka nulis tanya jawab soal apapun di buku tulisnya, gantian saya bikin pertanyaan dia jawab, Aiman bikin pertanyaan saya jawab.

Alhamdulillah saat di Puskesmas, ketika yang lain baik anak maupun orang tua mengalihkan waktu menunggu periksa beraktivitas dengan smartphone-nya, Aiman malah sibuk dengan buku tulisnya, walupun Aiman kikuk karena kok mata pengunjung pasien tertuju pada Aktivitas tulis menulis Aiman. Entahlah Aiman yang aneh atau zaman yang aneh hehe…. ***

2 comments

Leave a Reply

Sketsa