Diberdayakan oleh Blogger.

Prediabetes dan Kontrol Makanan


posted by rahmatullah on

No comments


Sejak dua tahun terakhir, setelah ibu pulang dirawat karena penyakit sepuh disertai diabet, darah tinggi, dan stroke ringan, setiap pagi sebelum berangkat bekerja saya rutinkan cek gula darah dan tensi ibu, untuk meyakinkan kondisi dua hal itu terkendali. Rutinitas ini saya lakukan hampir tanpa jeda, sebagai bentuk ikhtiar agar kesehatan ibu tetap terjaga.

Namun, di tengah rutinitas itu, ada satu hal penting yang justru luput dari perhatian saya: kondisi saya sendiri.

Saya merasa aman. Usia saya baru 42 tahun, berat badan ideal, sedikit rutin berolahraga, sangat jarang jajan di luar, karena hampir selalu makan masakan rumah, selain itu tidak pernah makan malam karena dibiasakan tuntas sebelum magrib, tidur malam pun selalu sebelum jam 9. Dalam pikiran saya, semua indikator “hidup sehat” sudah terpenuhi.

Hingga suatu pagi di bulan November 2025, setelah mengecek Gula Darah Puasa (GDP) ibu, saya iseng mengecek gula darah saya sendiri, angkanya 105, keesokan hari 104, hari berikutnya 107, dan angka terendah yang saya dapatkan 103.

Awalnya saya menganggapnya sepele. Namun karena penasaran, saya konsultasikan ke ChatGPT. Jawabannya cukup menohok:

“Angka Anda berada di atas batas normal (<100). Artinya tubuh Anda mulai mengalami kesulitan mengolah gula secara efisien (resistensi insulin).”

Jujur, saya kaget. Untuk memastikan kondisi sebenarnya, pada 5 Desember 2025 saya memutuskan melakukan tes HbA1c, pemeriksaan yang menggambarkan rata-rata gula darah selama tiga bulan terakhir. Hasilnya: HbA1c saya 5,7%.

Artinya, secara klasifikasi medis saya masuk kategori prediabetes (borderline):

  • Normal: < 5,7%

  • Prediabetes: 5,7–6,4%

  • Diabetes: ≥ 6,5%

Sekali lagi, saya terkejut. Pola hidup yang selama ini saya anggap aman, ternyata belum tentu benar-benar aman. Padahal, tiga bulan sebelumnya saya sudah mulai membiasakan minum kopi dan teh pahit, serta rutin lari (treadmill) minimal 20 menit setiap sore.

Di sisi lain, ada rasa syukur. Saya diberi kesempatan untuk sadar lebih awal, sebelum semuanya terlambat. Bisa jadi ada faktor risiko keturunan (genetik), tetapi setidaknya kini saya tahu: saya harus bertindak.

Langkah berikutnya adalah konsultasi intensif dengan ChatGPT terkait apa saja yang harus saya lakukan. Salah satu hal yang cukup menguatkan saya adalah penjelasan bahwa angka GDP saya saat itu masih memiliki peluang besar untuk kembali normal, asalkan pola makan dan gaya hidup dikendalikan secara konsisten.

Saya mulai dari hal yang paling bisa saya kontrol: pola makan.

Kebiasaan baik yang sudah terbangun saya pertahankan—minuman tanpa gula, olahraga rutin, makan terakhir sebelum magrib, dan tidur lebih awal. Perubahan paling signifikan saya lakukan adalah mengendalikan karbohidrat, terutama nasi.

Makan pagi saya rutinkan dengan:

  • 3 potong ubi ungu atau singkong rebus

  • Jika tidak ada, oat instan rendah gula sebagai pengganti nasi

  • Dikombinasikan dengan 1 butir telur

  • Dan sepotong buah dengan kadar gula relatif aman seperti pir, apel, buah naga, atau lebih baik lagi alpukat

Makan siang saya buat lebih fleksibel, tetapi porsi nasi saya kurangi drastis—sekitar ¼ dari porsi normal, diperbanyak sayur, ditambah tempe/ tahu dan lauk seperti ikan atau ayam.

Awalnya, hasilnya belum terlalu menggembirakan. GDP masih sering berada di atas 100, dan Gula Darah Sewaktu (GDS) berada di kisaran 143–150. Dalam hati sempat muncul pertanyaan, “Mengapa sudah mengubah pola makan, tetapi angkanya belum banyak berubah?”

Alhamdulillah, saya tidak putus asa.

Pola yang sama terus saya jalani dengan disiplin. Sekitar satu bulan kemudian, perubahan mulai terasa. Pada Januari 2026, saat saya kembali melakukan pengecekan, rata-rata GDP saya turun ke 93–94.

Saat itulah saya benar-benar memahami satu hal penting:
pola makan memang tidak bekerja secara instan, tetapi bekerja secara nyata.

Kebiasaan lain yang saya ubah adalah menghindari gorengan. Jika benar-benar tidak kuat menahan, saya batasi hanya satu potong. Buah-buahan saya pilih yang relatif aman untuk gula darah. Buah lain tetap dikonsumsi, tetapi tidak dalam kondisi terlalu matang. Cara memasak pun saya ubah—lebih banyak dikukus, direbus, atau dipanggang.

Tulisan ini saya bagikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat bersama: kebiasaan yang kita anggap aman, belum tentu benar-benar aman bagi tubuh kita. Terkadang, kita perlu melakukan validasi agar benar-benar memahami kondisi kesehatan diri sendiri.


Diluar itu semua, ada pengalaman yang saya dapatkan. Rupanya pola konsumsi saat ini lebih murah, 1 kg ubi ungu Rp.8000,00 dan itu cukup untuk seminggu. Ada perubahan kondisi tubuh menjadi gak gampang ngantukan, tetap segar dan berat badan turun 2-3 kg.

Mudah-mudahan, dengan kesadaran ini, seiring bertambahnya usia dan meningkatnya beban hidup serta tanggung jawab, kita tetap dapat hidup sehat, mendampingi tumbuh kembang anak, dan menjaga kualitas hidup sebaik mungkin.

Karena sering kali, yang paling berbahaya bukanlah penyakitnya, melainkan rasa “merasa sehat” yang tidak pernah diperiksa.

Leave a Reply

Sketsa