Diberdayakan oleh Blogger.

BELAJAR DARI KIRCHNER


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Apa yang mau dikata ketika para pemimpin di negeri ini tidak memiliki komitmen dalam menangani kemiskinan. Jika dalam pidato tahunan, siapapun presiden yang menjabat begitu bangga mengungkapkan angka-angka stastistik mengenai turunnya margin kemiskinan. Namun perubahan apa yang kita rasakan dari sebuah kondisi yang tidak pernah beranjak. Mudah saja mengukur indikator kemiskinan; berapa banyak jumlah urbanisasi dengan motif ekonomi, seberapa tingginya grafik kriminalitas sebagai ciri masyarakat yang frustasi, dan melonjaknya angka pemburu kerja terdidik tiap tahunnya
Jika dulu banyak media dan buku yang mengulas profil Malaysia yang berhasil keluar dari hantaman krisis dan melaju dengan kemakmurannnya karena percaya diri dengan kemampuan bangsa sendiri dengan tidak mau terjerat oleh IMF. Sekarang ini media banyak mengulas mengenai keberhasilan Argentina dalam mengangkat hidup rakyat banyak. Dalam lima tahun menjabat sebagai Presiden Argentina, Nestor Kirchner berhasil mengangkat sekitar 11 juta warga Argentina dari kemiskinan sebagai dampak petumbuhan ekonomi yang mencapai 50 persen.
Apa yang dilakukan Kirchner dalam memakmurkan negerinya adalah dengan tidak melanjutkan apa yang pernah dilakukan pendahulunya, justru dengan melakukan strategi berbalik dengan komitmen kampanyenya “returning  to a republic of equals” (kembali ke sebuah republik yang egaliter). Langkah Kirchner di Argentina sebetulnya selaras dengan agenda reformasi di Indonesia, yaitu reformasi militer, pemberantasan KKN, dan reformasi birokrasi. Hanya bedanya, Kirchner sangat komitmen dengan tekadnya. Kirchner berhasil menjungkalkan para petinggi militer yang dalam sejarah Argentina begitu ditakuti dengan drama tanpa darah, menyingkirkan para birokrat yang jelas-jelas tidak terpuji. Karena dalam pakem manapun di muka bumi ini, tidak akan terjadi perubahan paripurna jika di dalamnya masih mempertahankan orang-orang yang korup, terlebih dalam sebuah struktur pemerintahan. Justru jika masih ada orang-orang kotor dalam pemerintahan sedikit apapun, akan menjadi sarana kursus gratis bagi orang-orang yang masih bersih untuk berubah menjadi orang kotor dalam waktu singkat.
Kirchner menjadi amat populis dimata masyarakat pinggiran, karena agenda terbesarnya bukan agenda politik, melainkan agenda sosial, dengan memberantas kemiskinan, betul-betul menjadi martir bagi kaum pinggiran. Caranya adalah menolak bantuan dari pihak-pihak kreditor seperti IMF yang memberi pinjaman hanya untuk menutupi hutang, bukan mendorong kebangkitan ekonomi domestik. Melalui pinjaman dari Venezuela, Kirchner memfokuskan pengembangan ekonomi domestik, pemberian kredit terjangkau bagi usaha kecil dan menengah. Sikap konsisten inilah yang membuahkan keberhasilan meningkatnya volume ekspor Argentina berkali lipat.
Keberhasilan Argentina bukan karena Kirchner semata, melainkan sinergi antara Kirchner yang konsisten akan agendanya, dengan rakyat yang memang percaya terhadap pemerintah. Berbeda dengan masyarakat kita yang kian waktu justru semakin memuncak skeptismenya terhadap pemerintah. Sebetulnya banyak contoh bagi kita dan pemimpin bangsa kita untuk beranjak dari kemiskinan menuju kemakmuran. Syaratnya hanyalah jangan pernah merasa malu untuk belajar kepada keberhasilan siapapun, dan jangan pernah mengingkari janji dengan rakyat.

Leave a Reply

Sketsa