Diberdayakan oleh Blogger.

MENELADANI KEPEMIMPINAN LULA DASILVA


posted by rahmat rahmatullah on

122 comments


Program-program sosial berhasil mengangkat 19 juta penduduk Brasil dari jurang kemiskinan”
Hari ini saya teringat tulisan yang dimuat di harian Seputar Indonesia, sepertinya 3 tahun lalu dengan judul “Belajar dari Kirchner”, tulisan tersebut merupakan sebentuk “kecemburuan” melihat keberhasilan Argentina dalam melewati krisis Nasional dan internasional, dengan melakukan program kerakyatan yang terasakan oleh lapis bawah masyarakat. Tidak seperti negara kita selepas krisis 1998, entah program konkrit apa yang dijalankan pemerintah dalam upaya membangkitkan masyarakat lapis bawah, hal inilah yang menjadi akar “kecemburuan”, mengapa negara kita ”tidak pernah bisa” mengangkat “mereka”. Saya kutipkan sebagian paragrap pada tulisan tiga tahun lalu:
Apa yang dilakukan Kirchner dalam memakmurkan negerinya adalah dengan tidak melanjutkan apa yang pernah dilakukan pendahulunya, justru dengan melakukan strategi berbalik dengan komitmen kampanyenya “returning  to a republic of equals” (kembali ke sebuah republik yang egaliter). Langkah Kirchner di Argentina sebetulnya selaras dengan agenda reformasi di Indonesia, yaitu reformasi militer, pemberantasan KKN, dan reformasi birokrasi. Hanya bedanya, Kirchner sangat komitmen dengan tekadnya. Kirchner berhasil menjungkalkan para petinggi militer yang dalam sejarah Argentina begitu ditakuti dengan drama tanpa darah, menyingkirkan para birokrat yang jelas-jelas tidak terpuji. Karena dalam pakem manapun di muka bumi ini, tidak akan terjadi perubahan paripurna jika di dalamnya masih mempertahankan orang-orang yang korup, terlebih dalam sebuah struktur pemerintahan. Justru jika masih ada orang-orang kotor dalam pemerintahan sedikit apapun, akan menjadi sarana kursus gratis bagi orang-orang yang masih bersih untuk berubah menjadi orang kotor dalam waktu singkat.
Kirchner menjadi amat populis dimata masyarakat pinggiran, karena agenda terbesarnya bukan agenda politik, melainkan agenda sosial, dengan memberantas kemiskinan, betul-betul menjadi martir bagi kaum pinggiran. Caranya adalah menolak bantuan dari pihak-pihak kreditor seperti IMF yang memberi pinjaman hanya untuk menutupi hutang, bukan mendorong kebangkitan ekonomi domestik. Melalui pinjaman dari Venezuela, Kirchner memfokuskan pengembangan ekonomi domestik, pemberian kredit terjangkau bagi usaha kecil dan menengah. Sikap konsisten inilah yang membuahkan keberhasilan meningkatnya volume ekspor Argentina berkali lipat.
***
Setelah mengulas keberhasilan Argentina, saat ini kita bahas Brasil yang akan menghadapi Pemilu, dilaksanakan 3 oktober mendatang, tulisan ini tidak membahas mengenai Pemilu Brasil, tapi fenomena Lula da Silva yang sudah dua periode memimpin Brasil dan popularitas di akhir masa jabatannya masih mencapai 86%, hampir sama dengan Vladimir Putin dua kali menjabat presiden Rusia yang popularitas di mata rakyat rusia tetap tinggi sampai akhir masa jabatan.  Secara sosiologis masyarakat sangat mengharapkan Lula da Silva menjadi presiden Brazil sebagaimana masyarakat rusia menghendaki Putin. Hanya konstitusi yang membatasi jabatan presiden dua periode.
Oleh karena itu pembahasan yang keseharian masyarakat di Brazil saat ini, bukan pada siapa yang akan menjadi Presiden, melainkan mimpi buruk apa yang terjadi setelah Lula… begitu mendalam ketakutan masyarakat dan sebegitu mendalam kesan pemimpin di hati rakyatnya. Tidak seperti di negeri kita pemimpin belum “melakukan’ hal yang bernakna di hati rakyat, malah sudah diwacanakan, perubahan konsitusi agar presiden bisa tiga periode.
Selusur demi selusur saya terpacu untuk mencari informasi hal apa yang membuat Lula da Silva begitu populis di mata masyarakat, khususnya di masyarakat lapis bawah. Inilah beberapa jawaban yang saya dapatkan kutipannya dari beberapa media portal: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=10552:
Luiz Inacio Lula da Silva sukses memimpin Brasil menjadi salah satu negara berkembang yang disegani di dunia. Masalahnya, belum ada tokoh yang bisa menyamai ketokohan Lula sebagai presiden Brasil ke depan. Ketika seorang mantan penjual kacang dan pemimpin serikat buruh radikal yang berpendidikan rendah menjadi presiden Brasil pada 2003, banyak pihak yang meyakini raksasa Amerika Latin ini bakal tertatih-tatih.

Tujuh tahun berlalu, Lula sukses menempatkan dirinya di puncak bersama negara-negara berkembang pesat lain, seperti Rusia, China, dan India. Pekan depan, Lula akan berada di Rusia dalam pertemuan dengan emerging powers, menegaskan posisinya sebagai penyelamat ekonomi Brasil dan perannya di level global.

Di dalam negeri, kebijakan-kebijakan ekonomi dan program-program sosial berhasil mengangkat 19 juta penduduk Brasil dari jurang kemiskinan. Karena itu, tidak heran jika Lula memperoleh dukungan lebih dari 80 persen dari rakyatnya.

Pertumbuhan pesat ekonomi Brasil selama lima tahun belakangan ditopang oleh ekspor berbagai komoditas, diplomasi apik, dan kharisma Lula yang ditunjukkan di berbagai pertemuan tingkat internasional.

Selama berkuasa, Lula tidak segan-segan mengunjungi negara-negara yang belum pernah dikunjungi pemimpin Brasil sejak abad ke-19. Tujuan dari diplomasi aktif Lula adalah mencari kesempatan bisnis bagi Brasil.  Tidak seperti negara-negara berkembang pesat lain yang tergabung dalam BRIC( Brasil, Rusia, India, dan China),  Brasil tidak terpengaruh oleh isu keamanan. Lula, 63 tahun, memperluas peran Brasil tanpa menciptakan musuh.

Pada 2002, pakar ekonomi memprediksi Lula akan menyebabkan bencana bagi perekonomian Brasil. Sementara lawan-lawan politik di dalam negeri menyoroti soal pendidikan dan kemampuan bahasa Inggris Lula yang rendah bisa berakibat buruk dalam pergaulan internasional.

Pertanyaan besarnya adalah apakah Brasil akan bernasib sama seperti Argentina, yang jatuh ke dalam krisis ekonomi karena terlilit utang. Pada 2006, Brasil mampu melunasi utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) lebih awal. Bahkan Brasil siap memberi pinjaman sebesar 10 miliar dollar AS kepada IMF.

Lula memberlakukan kebijakan luar negeri yang sangat aktif. Dia telah mengunjungi 75 negara dan membuka 33 kedutaan besar baru. Empat belas kedutaan besar baru di buka di Afrika, sebagai bagian dari agenda kerja sama  selatan-selatan antara Amerika Selatan dan Afrika.

Lula menjadi ujung tombak bagi negara-negara berkembang yang mendesak negara-negara kaya supaya menghapus subsidi pertanian, berperan lebih dalam perundingan perubahan iklim, dan memimpin dalam penanggulangan krisis keuangan global.

Lula mampu menjaga popularitasnya tetap tinggi dengan rajin mengunjungi permukiman-permukiman kumuh, membuka proyek-proyek publik, dan siaran di radio sekali dalam sepekan. Kharisma dan kemampuannya memobilisasi kaum miskin luar biasa, ujar Kenneth Maxwell, direktur Program Kajian Brasil di Harvard University.

Maxwell mengatakan Lula dan kabinetnya berkuasa dengan persiapan penuh dalam menghadapi krisis keuangan di Brasil dengan membatalkan sejumlah megaproyek untuk menghemat cadangan mata uang asing. Hal ini membuat Brasil bisa bertahan di tengah krisis global yang terjadi mulai tahun lalu.

Sederet keberhasilan Lula menjadi pertanyaan apakah Brasil mampu mempertahankannya di kemudian hari. Pasalnya, Lula tidak bisa maju lagi untuk periode ketiga pada pemilihan presiden pada Oktober 2010. Di samping itu, tidak ada tokoh penerus yang dipandang dapat menyaingi kemampuan Lula.
Dalam dua periode kepemimpinan (2002-2006 dan 2006-2010), Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, 64 tahun, berhasil mengangkat derajat Brasil dari negara miskin menjadi salah satu negara terkaya dunia.
Di bawah kepemimpinannya, puluhan juta rakyat Brasil lepas dari belenggu kemiskinan dan berhasil menjadi orang-orang kaya baru. Berdasarkan konstitusi, Lula tak diperbolehkan menjabat untuk periode ketiga..
Lula, yang akan resmi menyerahkan kekuasaannya ke presiden baru pada 1 Januari 2011, telah menjadi simbol transformasi Brasil dari yang tadinya negara keranjang utang ke negara kaya baru. Meskipun demikian, bukan berarti mantan tukang semir miskin dan pandai besi itu tak pernah gagal.
Brasil, yang luas daratan dan jumlah penduduknya terbesar di Amerika Selatan, telah menunjukkan pengaruh politik yang luar biasa, bukan saja di kawasan ini tetapi juga di tingkatan global.
Dengan dua periode kekuasaan di tangannya, Lula Da Silva telah memantapkan posisi Brazil sebagai kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan di dunia, bahkan data IMF mencatat, bahwa negeri  ini akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia pada 2020 mendatang.
Tak heran, bila kepresidenan Lula paling dikenang rakyatnya. Lihat saja Cremilda Maria da Silva, seorang  warga miskin berusia 35 tahun yang mengelu-elukan Lula, karena gajinya kini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Ini pemerintahan terbaik Brasil. Sebelum Lula, kami seperti tak memiliki pemerintahan," ujar Cremilda senang.
Senada dengan Cremilda, Evandra juga berkata yang sama. Aktivis perempuan di Olinda ini juga merasakan kenaikan standar hidup. "Saya bisa membeli obat sekarang. Bahkan juga komputer dan mesin cuci," katanya.
Meski berasala dari kalangan sayap kiri yang konservatif, Lula tidak sekolot para pemimpin Kuba atau Presiden Hugo Chavez dari Venezuela. Lula dinilai sangat demokratis, bertanggung jawab dan modern.
Sedangkan yang perlu dipelajari dari kebijakan luar negeri Lula, terutama dalam masa jabatan kedua, adalah sikap dinamis dan multipolaritas-nya yang tidak mudah patuh pada skenario penguasa tunggal dunia, AS.
Selain itu, Presiden Lula juga memainkan peranan sangat penting dalam mendorong integrasi regional di Amerika Latin dan kerjasama di antara mereka, sesuatu yang sangat tidak dikehendaki Washington.
Menurut ekonom senior Rizal Ramli, Presiden SBY sebaiknya belajar dari keberhasilan pemimpin Brasil, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, 64 tahun, dalam membangun pertanian dan perekonomian rakyatnya, bukan semata membangun pasar modal dan sektor nontradable yang jelas tidak menguntungkan rakyat.
Dalam dua periode kepemimpinan (2002-2006 dan 2006-2010), Lula berhasil mengangkat derajat Brasil dari negara miskin menjadi salah satu negara terkaya dunia.
Di bawah kepemimpinan Lula, ungkap mantan Menteri Perekonomian itu, puluhan juta rakyat Brasil lepas dari belenggu kemiskinan dan berhasil menjadi orang-orang kaya baru. Prestasi Lula diakui bukan sebatas di bidang ekonomi. Ia juga dilihat sebagai simbol keberhasilan warga kebanyakan, dari kelas pekerja, dalam mencapai posisi puncak politik dan memajukan bangsanya. Rakyat Brasil bebas dari kemiskinan, sebagian besar kaum taninya sejahtera dan bebas dari keterbelakangan. Pembangunan pro-rakyat, pro-poor dan pro-job di sektor pertanian.
Selama delapan tahun memimpin, Lula berhasil mengubah jutaan rakyat miskin Brasil menjadi kelas menengah yang leluasa membelanjakan uang. Lula juga berjasa dalam mengubah Brasil menjadi satu pemimpin ekonomi dan diplomasi serta raksasa ekonomi Amerika Latin.
***
Satu hal yang ada dalam pikiran saya, bahwa mata air tauladan keberhasilan memimpin sebuah negara masih ada, ada Kirchner, ada Lula da Silva, kedua nya di Amerika Selatan yang kondisi sosial ekonominya tidak jauh berbeda dari Indonesa, andai-pun ada studi banding eksekutif maupun legislatif seharusnya ke Amerika Selatan, bukan malah ke Eropa atau ke Amerika Serikat yang realitasnya jauh. Point terpenting dalam tulisan ini adalah, popularitas dan keberhasilan lula adalah karena kebijakan politik nyata dalam mengangkat “kelas lapis bawah”: Petani, nelayan dan pekerja kasar.
Jangan berpikir harus dari kalangan mana yang memimpin negeri ini. Mau dari kalangan nasional, kerakyatan, agama, yang terpenting adalah niat baik memperbaikikondisi bangsa. Sebagaiman Lula dari rakyat pekerja yang identik dengan ‘komunis’ juga bisa mensejahterakan warganya. Yang terjadi di negeri kita adalah pencitraan dulu baru berbuat, bukan malah berbuat baik dahulu baru citra secara alami mengikuti. Satu hal lagi sebaiknya pemimpin bangsa ini bercermin pada Presiden Filipina Noy-noy Aquino , yang komitmen dengan kampeanye politiknya, dimana ia akan menghapus pencitraan yang tidak perlu, dia buktikan ketika akan meninggalkan negerinya akan sebuah tugas negara, dia kaget dengan banyaknya wajahnya di bandara dan termasuk di kartu imigrasi. Secara tegas Noy-noy katakana, “hapus semua wajah  saya, termasuk di kartu imigrasi, semua itu tidak perlu”
Bagaimana dengan negeri kita? Seakan yang menjalankan program kerja bukan manusianya, melainkan spanduk, baligho, dan semua iklan…biarlah Indonesia menciptakan fatsoen politik baru…Citra dulu baru kerja.

- Rahmatullah-
Peneliti Pada Banten Institute

122 comments

Leave a Reply

Sketsa