Diberdayakan oleh Blogger.

Simbol dan Sublim


posted by rahmat rahmatullah on

2 comments

Masih terngiang di kuping ini, obrolan antara saya dan adik tingkat saat di kampus dulu, ketika kebetulan bertemu dalam perjalanan kereta dari stasiun Sudirman menuju stasiun UI Depok. Sebagaimana biasanya yang namanya ketemu adik tingkat atau teman lama, obrolan tidak lepas dari ‘membicarakan orang lain’, seperti menanyakan kabar si A, si B, si C, bekerja di mana, sudah menikah atau belum. Ya… seputar  nasib sendiri dan orang lain.

Ketika saya menanyakan si C, dimana sekarang? adik ini menceritakan bahwa C bekerja di luar jawa, sedang ingin membuktikan sesuatu pada mantan orang tua pacarnya. Awal cerita itu yang membuat rasa penasaran menguat. “Memang bagaimana ceritanya?”. Adik ini menuturkan bahwa C punya pacar saat dikampus dulu, namun berbeda jurusan. Perkara bermula ketika C berkunjung ke rumah pacarnya dan bertemu orang tuanya, terjadilah obrolan antara C dan Ayah pacanya yang bertanya “Kamu kuliah di mana, jurusan apa?”, C memberitahukan nama jurusannya, kemudian Ayah si pacar ini berkomentar “Jurusan apa itu?, lebih bagus jurusan anak saya, kamu memang mampu menanggung hidup anak saya!”. Entah bagaimana selanjutnya, yang pasti sejak si C merasa direndahkan hanya karena nama jurusan, dianggap tidak mampu apa-apa, telah memacunya untuk membuktikan jika asumsi orang tua pacarnya tesebut keliru. Dan dampak bagi pacarnya, kabarnya setelah kejadian tersebut menghilang beberapa hari karena tidak menerima kata-kata ayahnya yang merendahkan sang pacar hanya persoalan nama jurusan.

Tentang si C hanyalah mula cerita, karena masih ada kisah lain. Tulisan ini mencoba membahas simbol dan pemaknaan akan simbol yang entah mengapa saat ini begitu dianggap ‘lebih penting’ di banding makna di balik simbol. Ada teman yang gagal menikah hanya karena ‘tidak tampan’ dimata orang tua perempuannya, ada teman lain yang gagal menikah karena tidak bekerja di tempat bergengsi seperti di bank atau perusahaan, ada teman perempuan yang gagal menikah karena keraguan orang tua melihat perawakan, ada teman yang gagal menikah karena belum memiliki kendaraan dan rumah, dan banyak lagi pernikahan gagal hanya karena orang tua yang terpaku pada simbol atau kesan yang muncul di awal, lalu itulah yang disimpulkan.

Pemaknaan simbol yang lain terjadi ketika kita ke tempat perbelanjaan, jika kebetulan menggunakan pakaian sederhana menanyakan harga barang ke pemilik toko atau ke SPG, tidak jarang mendapatkan jawaban yang sambil lalu, tidak memperhatikan yang bertanya, bahkan menjawab dengan ketus. Berbeda cara mereka ketika yang bertanya mengenakan kemeja atau dasi.

Begitu juga pengalaman seorang kawan, yang mengurus Surat Keterangan Catatan Kelakukan Baik (SKCK), kebetulan bareng dengan teman perempuannya yang boleh dikatakan memiliki paras cantik, semua tahapan diurus bersama mulai dari  ketua RT, desa, kecamatan. Namun ketika sampai Polsek dan Polres si perempuan lebih cepat selesai karena banyak polisi yang menawarkan bantuan ini dan itu sambil meng-akrabi, dan hasilnya berbeda, sore hari sebelum kantor Polres tutup, SKCK si perempuan sudah jadi, sedangkan SKCK si laki-laki baru jadi besok siangnya.

Cerita lain tentang sikap merendahkan orang lain hanya karena melihat cara berpakaian. Saya angkat dari kisah seorang teman yang nasibnya selalu dianggap ‘pelayan’, hanya karena tampang dan cara berpakaiannya sederhana, padahal dimata teman-teman atau patner yang mengenalnya, ia begitu dihormati. Teman ini bercerita, entah kenapa ketika dia berkunjung ke suatu tempat selalu dianggap pelayan. Ketika dia ke toko buku dan mencari buku yang kebetuan posisi raknya dekat dengan komputer katalog, tiba-tiba ada suami istri yang dengan nada ketus memintakan teman ini mencarikan buku bagaimana caranya sampai dapat, teman ini hanya menjawab dengan senyum “Saya bukan karyawan toko ini”. Sama halnya ketika teman ini makan di sebuah kafe terkenal di bandung, kemudian datang serombongan ABG ‘berparas cantik’, duduk di meja samping teman ini, saat kebetulan berdiri teman ini di panggil ABG tersebut “Mas mana daftar menunya?”, teman ini hanya menjawab tersenyum “Maaf Mba saya bukan pelayan, saya juga pengunjung”, dan ketika akan pulang pun, ada yang bertanya “Mas mushala di sebelah mana”. Teman ini tidak menjelaskan status dirinya melainkan Menunjukan arah mushala, walaupun teman ini sadar jika yang bertanya sama saja menganggapnya ‘pelayan’. Dan terakhir dia menceritakan ketika memfotocopy beberapa berkas, sambil berdiri menunggu copyan selesai, tiba-tiba datang mahasiswi “Mas fotocopy rangkap lima ya” sambil menyodorkan kertas. Kembali teman tersenyum menjawab “Ke Mas itu aja Mba bilangnya”.

Mengapa begitu kuat pesona simbol dan pemaknaan akan tampak luar? Haruskah zaman sekarang setiap orang memanipulasi diri tampil dandy hanya untuk dihargai orang lain dan tidak dianggap sebelah mata. Padahal simbol hanyalah tanda yang sifatnya mengantarkan pada inti tetapi bukanlah sebuah inti. Menyimpulkan simbol merupakan kekeliruan fatal karena apa yang terlihat di permukaan tidak mewakili hakikat, sifat, karakter atau kepribadian asli seseorang. Memaknai simbol sama halnya ketika kita melihat buah-buahan, jika kita lihat tampang buah-buahan, lebih ganteng durian atau buah maja, tentu buah maja lebih halus permukaannya, namun esensinya bukan pada permukaan melainkan pada rasa. Sama halnya dengan buah mengkudu, ketika orang tidak tahu khasiat mengkudu yang beraroma tajam dan selalu menjadi langganan keranjang sampah, tapi ketika tahu khasiat atau substansi mengkudu, orang baru mau memungut, mengumpulkan karena tahu mengkudu memiliki nilai lebih.

Berbicara simbol sudah pasti berelasi pada tampang, jabatan, kekayaan, dan popularitas. Padahal keempat hal ini sifatnya sublim atau cepat berubah, bukan sesesuatu yang sifatnya kekal, melainkan dalam waktu dan situasi tertentu bisa berputar 180 derajat.

Berbicara masalah penampilan atau tampang, sangat mudah dijadikan sebagai alat untuk mengelabui. Sama halnya ketika kita membeli buku, terkadang melihat cover yang bagus namun terkecewakan ketika membaca isi buku yang jauh dari harapan. Sesederhana kasus Ariel Peterpan, banyak muda-mudi yang begitu terpesona oleh sisi luar Ariel namun apakah tampang bisa menjamin sisi kepribadian seseorang, dan gawatnya banyak fans perempuan Ariel yang walaupun sudah tahu siapa Ariel sebenarnya tetap tersihir oleh ganteng-nya ariel. Sisi lain pola kriminalitas via facebook yang banyak menjadikan perempuan sebagai korban, bermula dari kenalan, melihat foto yang menggambarkan penampilan si laki-laki, dari hal instan menjadi percaya bahkan terperdaya pada laki-laki yang ia kenal sesaat, lalu berani meninggalkan kedua orangtuanya.

Sama halnya dengan jabatan, begitu dihormatinya seseorang hanya pada saat dia menjabat dan ketika masa jabatannya berakhir, berakhir juga penghormatan yang diberikan. Tengok saja Almarhum Soeharto, siapa yang tidak menghormati beliau, namun setelah jabatannya ‘dijatuhkan’, usai juga penghormatan yang diberikan, dan yang merasakan dampak terdalam adalah anak-anaknya yang pada akhirnya terkucilkan oleh masyarakat. Fenomena ini bisa ditarik ke tingkat lokal, banyak pejabat yang karena kesalahan, perangai aslinya terkuak, akhirnya menjadi ternistakan.

Begitupula kekayaan, tidak ada istilah harta tujuh turunan. Sebanyak apapun harta bisa hilang dalam waktu yang relatif singkat. Yang berbahaya adalah banyak orang menjadikan harta sebagai pesona, banyak laki-laki dalam rangka merayu perempuan atau keluarga perempuan memamerkan harta berupa kendaraan atau bentuk lain, padahal sangat memungkinkan jika kendaraan yang digunakan adalah pinjaman atau milik orang tuanya. Baru setelah hidup bersama, menyesal jika selama ini telah dikelabui. Hal yang nyata adalah siapa yang menduga jika Mba Tutut selaku anak Soeharto akan mengalami pailit, hal tersebut bisa dilihat dari konflik kepemilikan TPI ke MNC Group milik Harry Tanoe.

Popularitas ibarat gincu, sekedar memulas sementara agar kelihatan indah, banyak orang yang padamulanya memiliki popularitas, dihormati, dihargai, bahkan dielu-elukan namun pada akhirnya dalam waktu yang singkat ketika orang tahu perangainya atau kegagalan dalam memimpin, popularitas yang dibangun begitu lama dan sulit, harus lenyap dalam waktu sesaat. Sebagaimana hal ini terjadi pada Aa Gym, KH. Zainudin MZ, anggota DPR Yahya Zaini, Max Moein atau Mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani, Gubernur Sumatera Utara Samsul Arifin. Bahkan SBY-pun mungkin bisa mengalami hal yang sama jika yang dilakukan semata-mata untuk meraih popularitas bukan pembuktian kualitas kinerja.

Hidup dengan kejujuran merupakan sebuah jalan damai, dimana ketika kita berbuat dan bersikap adalah alakadarnya siapa kita. Berbuat, bersolek dan berpakaian sewajarnya kemampuan kita, berkendaraan atau menggunakan gadget semampunya kantong kita tanpa harus stress mengredit Honda Jazz, ipad hingga Blackberry agar dianggap anak zaman atau supaya diterima dalam golongan sosialita, toh kondisi memaksa walaupun sesungguhnya tidak terpaksa situasi pasti menyakitkan dan meletihkan.

Cobalah renungi sosok Mbah Maridjan dan Mbah Surip, apa yang terlihat itulah mereka adanya dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaan yang takkan pernah sublim. Walaupun sekedar juru kunci Gunung Merapi, siapapun akan menghormati Mbah Maridjan bahkan namanya semakin harum hingga beliau meninggal. Mbah Maridjan tidak menjadi Orang Kaya Baru (OKB) setelah menjadi bintang iklan, tidak beralih profesi menjadi pesinetron walaupun tenar, tidak lantas merenovasi gubuknya menjadi villa karena royalty iklan yang didapatkannya, tidak merubah perangainya menjadi tinggi hati sebagaimana artis pendatang baru.

Beliau tetap kukuh dan konsisten menjaga peran sebagai juru kunci merapi, tetap rendah hati dan menghormati siapapun tamu yang datang, rumahnya selalu terbuka menjadi persinggahan siapapun pendaki yang menginap sambil menghibur dengan lelucon dirangkai nasihat tanpa menggurui. Setiap orang hafal, karena pada dasarnya tidak ada yang menarik dari ‘tampang’ Mbah Maridjan, hanya seorang sepuh yang mengenakan peci, batik dan sarung lusuh, dengan rumah limasnya sederhana. Namun kelusuhan penampilan tidak sedikitpun mengurangi wibawa Mbah Maridjan, dimana itulah jatidiri yang mewarnai sikap.

Tulisan ini sekedar berbagi, bahwa jangan sampai kita melihat manusia dari sisi terluar, jangan menyimpulkan dari apa yang terlihat, jangan mendiskriminasi seseorang hanya karena kesederhanaan, kebersahajaan dan ‘ketidakmampuan’ bergabung dengan golongan tertentu, apalagi dipandang sebelah karena keterbatasan fisik. Karena tampang, harta, jabatan, popularitas hanyalah simbol yang kapanpun bisa menyublim, sedangkan jatidiri tetap hinggap dalm jiwa dan sikap***

2 comments

Leave a Reply

Sketsa