Diberdayakan oleh Blogger.

Tabung Melon dan Karakter Kepemimpinan


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Konversi minyak tanah ke LPG sudah berjalan hampir tiga tahun, diawali oleh beragam pro dan kontra, penolakan, pencibiran hingga beragam demonstrasi ‘pada masanya’. Tulisan ini tidak membahas mengenai konversi dalam tataran teknis, karena memang sudah bukan momentumnya lagi. Ramai riuhnya sudah berlalu karena masyarakat yang merasakan dampak dari konversi tersebut. Tulisan ini hanya mengetengahkan bahwa ada nomena dibelakang tabung melon 3 Kg, yakni sebuah karakter pemimpin yang visioner, tahan goncangan, berani kehilangan popularitas, teguh pendirian namun tidak rapuh, dan jauh dari pencitraan demi kemajuan sebuah bangsa. Yang mana karakter ini sudah miskin dimiliki pemimpin Indonesia masa kini.
Secara teknis ada hitungan logis mengapa harus konversi, saya kutipkan dari sebuah pengantar penelitian Eko Mulyani, Mahasiswa Sosiologi Universitas Airlangga yang  menyebutkan bahwa:” Program konversi minyak tanah ke gas elpiji merupakan suatu kebijakan merubah perilaku masyarakat dari yang semula menggunakan minyak tanah beralih ke penggunanan elpiji yang dinilai pemerintah lebih memberikan penghematan baik dari sisi konsumen atau masyarakat maupun sisi pemerintah sendiri, selain untuk menyediakan bahan bakar yang ramah lingkungan, bersih dan cepat bagi masyarakat.
Program konversi minyak tanah bisa dikatakan suatu program yang logis mengingat latar belakang munculnya kebijakan dimana permasalahan yang dihadapi adalah besaran subsidi yang besar yang ditanggung pemerintah ditambah lagi dengan melonjaknya harga minyak dunia yang pada tahun 2008 sempat menyentuh harga lebih dari 100 USD per barel sehingga mengakibatkan beban APBN membengkak. Di samping besaran subsidi, latar belakang yang lain adalah aspek sumber daya alam, cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan hanya akan dapat memenuhi kebutuhan minyak nasional kurang lebih 10 tahun lagi apabila tidak dilakukan eksplorasi tambahan” ( http://alumni.unair.ac.id/kumpulanfile/673815104_abs.pdf).
Simbol ketokokohan dan pemimpin yang selalu siap pasang badan terkait dari konversi minyak tanah ke gas bukanlah SBY sebagai presiden, menteri ESDM, Menteri Ekonomi atau direktur Pertamina, melainkan Yusuf Kalla sebagai Wakil Presiden yang head to head mensosialisasikan, menghadapi media, mendengarkan dan menjawab beragam kritik, menghadapi berbagai protes masyarakat dan mencoba menjelaskan logika mengapa harus terjadi konversi. Sampai akhirnya program LPG 3 Kg berhasil dijalankan dan tetap berlanjut sampai dengan saat ini (setelah dua tahun). Yusuf Kalla tidak asal bicara tapi menampakan sisi visioner sejatinya seorang pemimpin walaupun statusnya adalah Wakil Presiden, berani melawan resiko turunnya popularitas, menghadapi hujatan, demi sebuah visi bangsa dan alasan ilmiah sebagaimana diatas.
Sederhana saja jika kita mau mengukur sebuah program berhasil atau tidak. Dalam benak sayapun dipenuhi berbagai pertanyaan tentang bagaimana tanggapan masyarakat terkait konversi, selidik punya selidik, beberapa kali saya mencoba bertanya kepada pedagang yang sudah menggunakan LPG, seperti saat di Pare, Kota Kediri, saya coba tanya penjual roti bakar. “Lebih enak pake minyak tanah atau LPG 3 kg pak?”. Jawaban yang muncul adalah “Wah, lebih enak pake LPG Mas, lebih awet bisa sampe tiga hari, gak ngotorin alat”. Ketika saya tanya, “kalau ada tabung yang meledak apa mas gak takut?”. Pedagang roti bakar yang merupakan masyarakat lapis bawah jauh lebih paham asal muasal mengapa tabung meledak, hal tersebut terbaca dari jawabannya “Kalau gas meledak, karena masangnya aja gak ngerti, gak hati-hati. Orang tetangga saya masang kompor gas, disampingnya kompor kayu, gimana gak meledak”. Pertanyaan serupa saya ulang kepada tukang baso di Depok, pedagang martabak di Kota Serang, dan pada umumnya mengungkapkan jawaban yang serupa, intinya mereka merasakan manfaat dari penggunaan LPG. Masalah gas meledak dalam pandangan mereka karena kurangnya pengetahuan dan kehati-hatian.
Memang banyak permasalahan lain terkait konversi yang mengakibatkan tabung LPG ibarat bom yang dikirmkan pemerintah ke rumah-rumah, karena dalam satu periode waktu hampir terjadi tiap hari ledakan gas yang mengakibatkan korban luka maupun jiwa, masalah tersebut muncul bukan karena kebijakan yang keliru, karena sebagian masyarakat kita memang ‘culas’. Dari struktur pemerintah keculasan muncul dari oknum yang mempermainkan tender tabung, kompor, dan selang regulator, lalu mengeruk keuntungan dengan menurunkan kualitas. Dari sisi pengusaha, rupanya hampir di setiap kabupaten terjadi praktek pengoplosan dan pemindahan isi tabung 3 kg ke tabung 12 kg, dari sisi masyarakat kurangnya sosialisi dan pengetahuan penggunaan atribusi LPG, padahal praktek penggunaan gas menggambarkan proses perubahan perilaku dan alih teknologi sederhana yang ternyata masyarakat kita sebagian besar belum mampu mengoperasionalisasikannya.
Hal yang terpenting dan menarik adalah terkait aspek kepemimpinan, sangat jarang pemimpin di negeri ini yang berani melawan badai demi sebuah keyakinan akan kebaikan masa depan masyarakatnya, sangat langka pemimpin mempertaruhkan popularitas demi program yang manfaatnya terasakan mungkin baru saat ini, sangat jarang pemimpin yang pasang badan untuk meyakinkan kebijakannya. Bagaimanapun ikon konversi migas tidak bisa dilepaskan pada Yusuf Kalla, namun ketika Pemilu 2009, yang mendapatkan popoularitas sebagai dampak keberhasilan program LPG adalah SBY yang secara formal kenegaraan sebagai ‘Pemimpin’.
Namun sayang pola tindak, dan tipikal berani melawan resiko demi kebaikan bangsa yang sudah Yusuf Kalla praktikan selama menjadi Wapres tidak dipelajari oleh SBY, yang justru setiap hari semakin menjadi sosok peragu, pencitraan yang menjalankan program bukan malah orangnya, grusa-grusu mengambil keputusan sebagaimana saat memilih calon Kapolri, yang selanjutnya pembaca bisa menambahkan.
Sederhannya saat ini Indonesia butuh pemimpin berkarakter, mengambil kebijakan atas logika-logika ilmiah, dan siap melawan badai, meski harus kehilangan popularitas. Bukan pemimpin peragu yang bisa membuat masyarakat tersesat.
Tulisan ini dibuat bukan karena saya simpatisan Yusuf Kalla, atau karena anggota sebuah partai ataupun profesi saya sebagai agem LPG. Tapi saya menaruh hati pada sosok-sosok yang kuat karakter kepemimpinannya, dan konsisten akan kata-katanya. ***

Leave a Reply

Sketsa