Diberdayakan oleh Blogger.

Kucing Kurus, Kucing Gemuk dan Matinya Nurani


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

"Seekor kucing kurus.Menggondol ikan asin. Laukku untuk siang ini. Aku meloncat. Ku raih pisau.Biar kubacok ia. Biar mampus. Ia tak lari. Tapi Mendongak. Menatapku tajam. Mendadak lunglai tanganku. Aku melihat dirikus sendiri. Lalu kami berbagi. Kuberi ia kepalanya (batal nyawa melayang) Aku hidup. Ia hidup. Kami sama-sama Makan" (Kucing, Ikan Asin dan Aku -Wiji Thukul-)

Mungkin belum terlambat bagi kita untuk menyimak berita dua hari kebelakang, mengenai “matinya nurani” dan munculnya kembali “kelas sosial” pada bangsa ini sebagaimana dipraktikan anggota DPR, yang diulas dalam topik kompas.com. Dua artikel bersambung saya tautkan dalam tulisan ini yaitu Rombongan DPR “Terlantarkan TKI di Dubai (http://nasional.kompas.com/read/2010/11/19/08193090/Rombongan.DPR.Telantarkan.TKW.di.Dubai-7), dan Saya Dari Moskow, Tugas Negara (http://nasional.kompas.com/read/2010/11/19/08345518/Saya.dari.Moskow..Tugas.Negara-7).

 Saya tidak akan mengulasi isi tulisan dalam artikel kompas, karena semakin sering membaca semakin menyayat hati, biar masing-masing kita memaknai dengan gemuruh dihati dan air mata, betapa ‘luar biasanya’ moral anggota Dewan kita, walaupun malu kita tetap harus akui, mereka adalah anggota dewan ‘kita’.

Dua hal pokok yang harus kita akui: Pertama, bahwa masyarakat telah keliru memilih partai dan memilih anggota DPR, karena mungkin mayoritas hanyalah selebritas politik, dan bayangkan jika kita membaca seksama dua tautan berita diatas, bahwa anggota DPR yang acuh terhadap kesulitan TKW Dubai  di bandara Dubai adalah representasi partai dari komisi V DPR, yang transit di Dubai sepulang Studi Banding dari Rusia terkait RUU Rumah Susun.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, anggota rombongan studi banding rumah susun adalah Yasti Soepredjo Mokoagow dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN), Muhidin Mohamad Said (Fraksi Partai Golkar), Roestanto Wahid (Fraksi Partai Demokrat), Usmawarnie Peter (Fraksi Partai Demokrat), Sutarip Tulis Widodo (Fraksi Partai Demokrat), Zulkifli Anwar (Fraksi Partai Demokrat), Riswan Tony (Fraksi Partai Golkar), Eko Sarjono Putro (Fraksi Partai Golkar), Roem Kono (Fraksi Partai Golkar), Irvansyah (Fraksi PDI-P), Sadarestuwati (Fraksi PDI-P), Chairul Anwar (Fraksi PKS), Ahmad Bakri (Fraksi PAN), Epyardi Asda (Fraksi PPP), Imam Nahrawi (Fraksi PKB), dan Gunadi Ibrahim (Fraksi Partai Gerindra).

Tulisan ini bukan berarti men-judgement atau menggeneralisir, tapi itulah kenyataannya, dari ke-16 anggota DPR tidak satupun terusik nurani dan empatinya untukmembantu TKW yang kesulitan di bandara yang sama.  Wajar jika kita skeptis dengan partai politik manapun dan ideologi apapun. Toh walaupun terdapat partai yang berbungkus ‘ideologi agama’ sikapnya sama saja.

Kedua, tidak bisa kita pungkiri bahwa wajah anggota DPR menunjukkan wajah sebagian masyarakat kita yang sedang mengalami “kematian nurani”, terbayang ketika sama-sama terdampar di negeri orang,yang seharusnya peka ketika melihat kesulitan orang yang ‘sedarah’ , tapi begitu hebatnya bisa acuh. Hal yang paling tabu adalah munculnya gaya baru “kelas sosial” yang dipraktekan anggota dewan, dimana mereka tidak mau tahu urusan 150 orang TKW yang kesulitan walaupun anggota dwsan tersebut mengetahuinya, disaat TKW dimaki-maki petugas bandara, terombang-ambing kepastian kepulangannya, anggota dewan menunjukkan dramaturgi lain, tertawa-tawa di sudut bandara, dan berniat menghabiskan rubel. Padahal idealnya anggota dewan adalah mengayomi, menjadi bagian, dan membantu TKW, dengan menegasikan urusan-urusan komisi, karena berbicara kemanusiaan sudah borderless, tidak lagi berbicara ini urusan komisi saya atau komisi mereka. 

Sengaja saya kutipkan puisi Wiji Tukul diatas tentang Kucing, Ikan Asin dan Aku. Selayaknya anggota dewan menjadi sosok Aku, yang walaupun ‘benci’ kucing kurus tapi harus memaknai mereka sbagaimana memaknai diri sendiri sebagaimana bait terakhir “Aku melihat dirik sendiri. Lalu kami berbagi. Kuberi ia kepalanya (batal nyawa melayang) Aku hidup. Ia hidup. Kami sama-sama makan”.

Hidup memang di dasarkan pada sikap altruis, atau istilah sederhananya mendahulukan kebahagiakan orang lain daripada kebahagiaan diri sendiri. Tapi sikap altruis adalah ‘anugerah’ yang Tuhan berikan. Kenapa anugerah, karena tidak semua manusia diberikan kepekaan, rasa solidaritas sosial, maupun ‘kekayaan hati’.

Jika berkaca pada masa lalu, kurang lebih pada hasil Pemilu 1999, muncul istilah “Kucing Kurus”, sampai-sampai ada himbauan jangan pilih “Kucing Kurus” karena kucing kurus sifatnya rakus dan kalau diberi kesempatan bisa jadi koruptor. Fenomena ini muncul karena Pemilu 1999 dimenangkan partai wong cilik dan konon anggota legislatif dan kepala daerah yang terpilih adalah dari kalangan masyarakat bawah, mulai dari tukang beca, pengusaha kecil, yang dalam praktik politik berikutnya, karena ‘kaget’ menjadi anggota dewan, dan pejabat, tanpa sadar ketika terbuka akses bukan mengabdi pada rakyat malah melakukan praktek memperkaya diri dan terjerat korupsi.

Pada akhirnya muncul istilah, kalau memilih anggota dewan atau pejabat, haruslah orang yang sudah mapan biar tidak ada korupsi, namun kenyataannya korupsi dan praktik-praktik mnyembelih nurani, tidak hanya pada kucing kurus, melainkan terjadi juga pada kucing gemuk. Karena di negeri ini siapapun orangnya, pakah dulunya miskin atau terlahir kaya, mau awalnya adalah tokoh masyarakat ataupun tokoh agama, ketika terbuka akses kekuasaan, biasnya diikuti oleh kematian akan nurani, yang dulunya miskin malah rakus korupsi, yang sudah mapan malah semakin rakus lagi memelihara kemapanannya, yang tahu norma sosial dan norma agama, juga terbutakan mata hatinya, berubah karakter seperti kehilangan nilai agama yang pernah ia pegang teguh.

Memang sikap altruis dan empati adalah anugerah Tuhan, karena tidak terbatas pada kucing kurus atau kucing gemuk, mereka yang terpanggil hatinya untuk membantu TKW di Dubai adalah masyarakat Indonesia biasa yang terpanggil hatinya. Bukan tipe orang yang menunda bahwa membantu itu kalau sudah kaya atau menjadi pejabat, karena sebagian besar ketika kita ‘sudah menjadi’ biasanya lupa. Maka berbahagialah orang yang bisa membantu siapapun yang tidak pernah terjebak waktu dan keadaan, tidak pernah berpikir jika dirinya sedang sibuk, tidak pernah berpikir jika dirinya sedang kesulitan, tidak pernah berpikir ‘siapa saya’. Menolong tetaplah menolong, karena menolong tidak kenal status sosial, status waktu dan status keadaan. Karena menolong adalah refleks jiwa yang siap disandari ‘bahu’-nya kapanpun dan dimanapun.***

Leave a Reply

Sketsa