Diberdayakan oleh Blogger.

Semangat Merawat


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Terkadang saya terenyuh ketika melihat bangunan yang dibuat oleh pemerintah dalam kondisi ‘mangkrak’. Kita tengok tempat sampah sepanjang jalan yang terbuat dari besi atau fiber glass hanya menyisakan tutup atau besi penyangganya. Selokan yang dibangun untuk menanggulangi banjir terisi sampah atau digenangi air lindi. Trotoar yang dibangun untuk pejalan kaki jika tidak ditumbuhi ilalang, dipancang aneka tiang atau menjadi tempat usaha pedagang. WC umum mungkin hanya dibandara saja yang senantiasa bersih dan wangi, di terminal bis, WC Kolektif di pemukiman padat atau pun desa hanya menyisakan kekumuhan dan sarang berbagai sumber penyakit. Jika kita telisik mungkin bangunan yang saat ini mangkrak usianya kurang dari satu tahun,padahal daya guna bangunan lebih dari satu tahun.


Berbagai kemungkinan kenapa sebuah bangunan menjadi mangkrak. Pertama, nilai realisasi bangunan tidak sesuai dengan nilai yang dianggarkan. Banyak sekolah roboh, jembatan runtuh, bendungan jebol  bukan karena sudah tua, melainkan oleh kualitas bahan bangunan yang disusutkan oleh pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan. Kedua, Apa yang dibangun tidak sesuai kebutuhan atau kemampuan masyarakat. Pemerintah menyediakan perahu penyebrangan, tapi kenyataanya tidak digunakan masyarakat bukan karena masyarakat tidak butuh, tapi bentuk perahu yang disediakan tidak sesuai karakteristik ombak, atau mesin yang tidak bertenaga. Ada di sebuah pulau yang belum memiliki listrik, pemerintah setempat menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Solar, satu dua bulan berjalan namun bulan berikutnya kampung tersebut gelap gulita, karena ketidakmampuan masyarakat membeli solar. 


Ketiga, Rendahnya kesadaran merawat.  Pada dasarnya inilah masalah terbesar masyarakat Indonesia. Kesenangan kita adalah membangun bukan menjaga apa yang sudah ada. Anggaran negara baik APBN, APBD, hingga APBDes habis terkuras untuk membangun apa yang sebelumnya sudah dibangun, bukan untuk memelihara.  Padahal biaya memelihara jauh berlipat lebih murah dibanding membangun. Kita adalah masyarakat konsumtif yang hanya pandai menggunakan tanpa pandai memelihara. Selokan di depan rumah kita jdikan tempat sampah dan abai untuk dibersihkan, WC Umum yang dibangun pemerintah hanya kita pakai tanpa mau kita bersihkan, seolah semua aspek adalah tanggungjawab pemerintah. Jalan yang ada, sudah kualitasnya rendah kita perparah dengan tonase (bobot) kendaraan yang berlebih. Irigasi yang retak dibiarkan jebol yang pada akhirnya mengakibatkan sawah kering tak terairi. Dan banyak hal lain yang menunjukkan betapa abainya kita. Padahal sumber-sumber pembangunan berasal dari uang kita, dari berbagai pajak, retribusi, ptongan gaji. Padahal abai samahalnya kita tidak menghargai peluh keringat kita.


Ketika saya melakukan penelitian di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Banyak masyarakat mengeluh dengan air tanah yang berasa asin tidak layak untuk diminum, lalu menyalahkan pemerintah yang mereka anggap tidak peduli. Namun yang saya heran di depan setiap rumah penduduk terdapat torn penampungan  air yang dibangun pemerintah dan ADB dalam kondisi mangkrak. Ketika saya tanyakan mengapa tidak digunakan, jawaban warga sederhana “pipanya rusak dan tidak ada pasokan air”. Padahal jika mau sedikit berkorban, masyarakat mampu mengganti pipa tanpa harus ini itu minta dibantu pemerintah. Sama halnya ketika mengunjungi pantai tanjung lesung, pada satu sisi pantai terdapat satu menara pemantauan air laut yang fungsinya untuk peringatan jika terjadi Tsunami, namun pos tersebut berbalut karat dan menunggu roboh disapu ombak, padahal pada dinding tertulis bangunan tersebut didirikan pada tahun 2010.


Apa makna pembangunan jika tanpa diiringi semangat memelihara. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, maka pembangunan tidak akan berubah menjadi pengembangan. Karena yang ada hanyalah melakukan rutinitas pembangunan yang sama dan pada titik yang sama. Membangun tanpa mau merawat sama dengan tidak mensyukuri. Banjir tidak akan pernah surut jika sungai tetap menjadi tempat sampah kolektif, selokan kita biarkan mampat, bantaran sungai dijadikan pemukiman. Upaya membangun kanal-kanal di Jakarta tidak akan berhasil menanggulangi banjir jika tidak ada partisipasi warganya dalam memelihara saluran-saliran air.


Ketertinggalan kita dari negara-negara asia seperti malaysia, thailand, singapura dan juga korea yang pada 1998 lalu dihinggapi krisis yang sama namun saat ini kemajuannya berbeda, hanyalah karena masyarakat kita tidak memiliki semangat merawat. Semua negara sama membangun, tapi tidak semua negara pandai merawat hasil pembangunan. Negara lain sudah beralih pembangunannya pada sektor lain, sedang negara kita berkutat pada sektor yang sama. Negara singapura dan Jepang tumbuh dan menjadi besar karena karakter warga negaranya. Mereka disiplin, berpartsipasi dan memelihara apa yang sudah negara mereka bangun sebagai bentuk rasa cintanya terhadap tanah air. Sedangkan cinta tanah air di negeri ini bukan di hati dan perilaku warganya, melainkan hanya tertera di spanduk dan baligho.


Jika ingin berpartisipasi dalam pembangunan mudah saja, kita jaga apa yang dekat dan tampak, bisa memulai dengan membersihkan selokan depan rumah, tidak sembarang membuang sampah, dan tentunya banyak lagi.***

Leave a Reply

Sketsa