Diberdayakan oleh Blogger.

Petani dan Sekawanan Burung


posted by rahmat rahmatullah on

No comments

Beberapa hari ini, selepas shalat subuh terdengar suara kaleng dibentur-benturkan diikuti teriakan “Hoaaa” di sekitar rumah. Pada awalnya saya kira tukang rongsokan atau ada kegaduhan di rumah tetangga, rupanya suara bersumber dari sawah depan rumah. Saya kebetulan tinggal di rumah ‘mewah’ (mepet sawah), berada di perumahan yang developernya bangkrut, satu keuntungan belum banyak rumah terbangun, masih ada lapangan sepak bola mini dan juga sawah terhampar. Bagi saya masih melihat hamparan sawah dan sepoy-sepoy angin segar di tengah panasnya Kota Serang adalah rileksasi tersendiri.

Suara kaleng dan teriakan “Hoaaa” rupanya salah satu upaya petani untuk mengusir kawanan burung dikala padi mulai menguning. Terkadang sambil menyeruput kopi dan sarapan pagi, saya sengaja menyaksikan petani yang sedang mengusir kawanan burung, sambil mereka berkeliling sedari subuh hingga petang.

Bagi petani, membunyikan kaleng dan berteriak mengusir burung adalah salah satu ujian yang meraka alami dalam siklus bertani, dari banyak ujian lainnya. Jika berpikir nasib, seorang petani mungkin tidak akan memilih profesinya menjadi petani, karena tidak ada hal yang menjanjikan akan perbaikan nasib mereka. Hanya mungkin sudah menjadi garis nasib, dan tidak ada pilihan lain yang menjadikan mereka tetap bertahan.

Ketika akan menanam, petani mulai berpikir keras kapan ‘waktu baik’ menanam, atas pertimbangan kapan musim hujan dan musim kemarau. Ibarat bermain judi cuaca saat ini tidak bisa diprediksi sebagaimana masa dulu, bisa jadi saat menanam diiringi penghujan dan tidak taunya selepas itu kemarau panjang, atau sebaliknya kemarau panjang tidak ada tanda-tanda akan musim hujan. Menanam padi ibarat berspekulasi tiada akhir, tidak bisa diprediksi apakah padi akan tumbuh normal atau puso. Jikapun normal mereka akan berhitung berapa biaya pupuk, biaya solar untuk pompa menaikan air dari sungai, dan aneka perhitungan lainnya.

Selepas padi ditanam dan tumbuh dengan baik, bukan berarti berhenti  persoalan, karena akan bermunculan masalah-masalah baru, harga pupuk yang mahal karena mata rantai distribusi yang panjang atau terjadi kelangkaan. Selepas pupuk datang berbagai hama, mulai dari pengerat hingga serangga. Hal yang juga tidak bisa diprediksi adalah cuaca, karena hujan dan kemarau menentukan nasib padi. JIka tidak ada hujan, mengakibatkan sawah mengering, jika terlalu banyak hujan, batang padi membusuk. Tidak jarang antar petani berselisih hingga mengakat parang saat kemarau untuk memperebutkan jalur air.

Mengusir sekawanan burung adalah masalah diakhir siklus menanam padi. Padi yang menguning hanyalah sisa dari padi-padi yang bertahan tumbuh setelah berhasil melewati banyak ujian. Jika dulu tidak terlalu banyak kawanan burung yang mencuri padi, karena masih luasnya hamparan padi. Yang jadi masalah, ketika hanya sebagian padi yang menguning dan terhindar dari puso, maka kawanan burung dengan jumlah ratusan akan berlomba mencuri padi pada satu titik tanam.

Ujian petani tidak otomatis berhenti saat panen. Selepas itu petani dihadapkan pada penjualan. Tidak jarang tengkulak mendatangi petani ketika padi menguning, harga ditawar serendah-rendahnya. Para  petani hanya berpikir sederhana, padi mereka jual ke tengkulak, yang penting bisa kembali modal tanam, daripada mengeluarkan ongkos sekian besar untuk menggiling dan menjual ke pasar dengan hitungan biaya yang tidak jauh beda dengan menjual ke tengkulak. Bagi mereka tertutup utang untuk membayar pupuk sudahlah cukup, mereka tidak memikirkan jerih payah, keringat dan segala kesakitan mereka terbayar. Ibarat kita kaum pekerja di kantor setiap tenaga kita dibayar dengan uang, yang masuk dalam akumulasi gaji bulanan. Semakin banyak proyek yang kita kerjakan ada harapan terkumpulnya pundi-pundi uang di akhir bulan. Tapi tidak  berlaku bagi petani, tenaga mereka yang terhempas menanam, mencangkul, mengatur jalur air selama siklus menanam padi tidak pernah terbayar.

Mereka memilih mengikuti garis nasib, karena tidak ada pilihan lain kecuali menjadi petani. Jika terdesak, sawah kesayangan mereka jual, karena cuaca tidak mendukung kapan harus menanam. Setiap petani tidak pernah berharap anaknya menjadi petani, karena bertani tidak membuat nasib mereka membaik, tidak membuat mereka naik kelas, apalagi membual menjadi orang kaya.

Terlebih pemerintah dalam segenap kebijakannya tidak mendukung dan mendudukan petani pada posisi yang bermartabat, petani identik dengan kemiskinan, petani identik dengan kaum marjinal yang tidak pernah bisa naik kelas. Kelak, tidak akan lahir generasi petani, karena anak-anak muda kini tidak melihat bertani sebagai profesi yang menggiurkan.

Sekawanan burung hanyalah salah satu bagian ujian dari runtutan ujian yang mereka harus hadapi dengan tabah, moga kelak petani bisa naik kelas, jika tidak, maka akan hilang generasi petani, swa sembada beras tinggal sejarah, dan Indonesia akan menjadi importir beras terbesar di dunia.***

Leave a Reply

Sketsa