Diberdayakan oleh Blogger.

Kapan Berhenti Membebani Orang Tua?


posted by rahmat rahmatullah on

13 comments

“Kalau bisa, jangan dulu menikah ya… untuk setahun pertama, gaji lebih baik diberikan pada Orang tua”. Itulah wejangan pertamakali dari atasan, ketika saya diterima bekerja di kantor baru.  Beliau mengira jika saya anak yang baru lulus kuliah dan baru mendapatkan pekerjaan. Saya coba mendengarkan lanjutan nasihat beliau yang intinya menceritakan bentuk penyesalan beliau karena sejak lulus kuliah langsung menikah, terepotkan urusan rumah tangga, yang pada akhirnya sampai orang tuanya meninggal merasa belum mampu memberikan kebahagiaan pada orang tuanya.
Pada mulanya saya merasa kurang nyaman dinasihati hal demikian, apalagi urusan menikah adalah hal pribadi, mengapa nunggu setahun. Sayapun bekerja sudah berkali-kali pindah kantor dalam tiga tahun terakahir. Namun setelah saya renungkan banyak benarnya apa yang beliau sampaikan, ada alasan yang kuat menasihati saya agar jagan cepat-cepat menikah, lebih baik membahagiakan orang tua dahulu daripada nantinya menyesal belum banyak berbuat. Beliau ingin agar saya tidak seperti dirnya yang lebih banyak merepotkan orang tua daripada membahagiakannya yang pada akhirnya tidak sempat.
Tidak ada orang tua manapun yang berharap balasan kebaikan dari anaknya. Mereka mencintai anak-anaknya tanpa syarat. Terkadang kita yang memang tidak perhatian pada mereka, kadang mengabaikan, dan egois dengan keinginan.
Ketika kuliah ada beberapa teman yang menikah muda, kuliah belum tuntas, dan belum memiliki pekerjaan yang jelas. Memang niatnya amat baik ingin menjaga pergaulan, menghalalkan yang dilarang. Toh untuk menebus keinginan menikah bagaimanapun harus merogoh uang orang tua, tidak jarang kuliah putus ditengah jalan karena sudah punya beban tanggungan. Padahal orang tua mengkuliahkan anaknya agar bisa mendapatkan gelar sarjana, mimpi mereka sederhana ingin melihat anaknya wisuda.
Banyak juga yang lulus kuliah langsung menikah, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Bagi seorang laki-laki yang berperan menanggung ekonomi keluarga, sudah pasti uang hasil bekerja diberikan kepada istrinya untuk membiayai keluarga, dan tidak jarang terlupakan memberi orang tua sebagai bentuk kecil terimakasih pada mereka. Bagi perempuan yang menikah memang sudah langsung menjadi tanggungan suami, hidup dan tinggal dengan suami, dan tentunya sudah tidak ada waktu berbuat untuk orang tua.
Kebahagiaan apa yang orang tua dapatkan dari hasil kerja keras membesarkan anaknya? Kita terkadang lebih sayang kepada orang lain yang sudah berubah status menjadi suami atau istri dan melupakan mereka. Apakah pernah gaji pertama kita berikan pada ayah atau ibu kita, atau mengistimewakan mereka dalam rekreasi dari gaji kita, memasak untuk mereka, membantu membiayai adik, atau membantu membayar angsuran rumah yang orang tua dan kita tempati.
Orang tua manapu memang tidak pernah minta, tapi yakinlah mereka akan amat terharu ketika kita memprioritskana mereka terlebih dahulu ketika pertama kali kita mendapatkan rizki dari bekerja. Kebiasaan buruk seorang anak adalah tergesa-gesa menikah walaupun belum berkemampuan rizki, uang pernikahan sebagian besar dari orang tua, ketika menikah belum memiliki rizki tetap, pada akhirnya membebani kembali orang tua untuk membiayai rumah tangga. Ketika memiliki anak lalu menitipkan untuk diurus orang tua. Seorang anak memang tidak pernah jeda membebani orang tua, walaupun sepenuhnya mereka ikhlas. Kapan orang tua bisa rileks bernafas tanpa dibebani anak-anaknya? Jarang kita memikirkan mereka, karena kita memang egois.
Selagi orang tua ada, jikapun kita belum menikah maka maksimalkan membahagiakan dan memprioritskan mereka, jikapun kita sudah berkeluarga jangan pernah melupakan mereka, kunjungi, berikan apapun yang terbaik bagi mereka. Selagi ada, selagi bisa berbuat disaat mereka masih bisa merasakan dan menyaksikan. Akan beda rasanya jika mereka sudah tidak ada***

13 comments

  1. Anonim
  2. Anonim
  3. Anonim

Leave a Reply

Sketsa