Diberdayakan oleh Blogger.

Republik Minus


posted by rahmat rahmatullah on , ,

No comments


Dalam kajian teori pembangunan, terdapat dua kutub teori besar, yaitu teori modernisasi dan teori struktural. Kedua teori ini membahas mengenai faktor-faktor penghambat dan pendukung pembangunan suatu negara. Ibarat sebuah tubuh, teori modernisasi membahas faktor-faktor bawaan atau penyebab dari dalam yang mempengarhi pembangunan suatu negara. Begitu sebaliknya, teori struktural membahas faktor-faktor luar yang mempengaruhi maju mundurnya pembangunan suatu negara.
Mencari sebab mengapa sebuah negara bisa maju atau terbelakang, bisa diibaratkan pada tubuh yang terkena penyakit. Sesorang yang sakit karena faktor bawaan, ketidaksempurnaan gen, motivasi yang rendah, diibaratkan sebagaimana teori modernisasi. Sedangkan sesorang yang sakit akibat sumber-sumber dari luar, seperti terpapar virus, tertular, terinfeksi akibat perubahan cuaca dan sebagainya, diibaratkan sebagai teori struktural.
Jangan berkerut jidat, tulisan ini tidaklah berat sebagaimana kita memandang sebuah teori. Hanya sekedar mengantarkan pemahaman apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini. Tulisan ini coba membatasi pada teori modernisasi. Dalam teori modernisasi terdapat dua pandangan mengenai nilai sebuah spirit, semangat, etos, kerja keras, dan moral yang mengantarkan beberapa negara di eropa, USA dan Asia menjadi negara besar.  
Pertama, Max Webber yang lebih dikenal dengan pandangan Etika Protestan, menyebutkan bahwa keberhasilan Eropa dan AS karena lahirnya agama Protestan (Calvin) yang antara lain beranggapan bahwa keberhasilan di dunia menentukan keberhasilannya di akhirat. Konsep yang amat sederhana, dan sebenarnya diajarkan dalam agama manupun, yakni mengenai konsep berbuat baik. Rupanya pada zamannya konsep berbuat baik ini menjadi spirit masyarakat eropa dan amerika untuk melakukan hal terbaik bagi bangsanya, demi mencapai imbalan kebahagiaan di akherat. Kejujuran, keikhlasan, dan kerja keras menjadi dasar masyarakat yang ternyata berakumulasi pada kemajuan bangsa-bangsa eropa dan amerika.
Spirit etika protestan ini rupanya menular pada bangsa jepang dengan aliran Tokugawa, sama percis nilai yang tertanam adalah semangat memperbaharui diri, bekerja keras, bertanggungjawab, disiplin dan menjaga ketaraturan menjadi dasar berbuat warga negara yang terakumulasi pada kemajuan bangsa jepang.
Baik etika protestan maupun tokugawa, menanamkan nilai-nilai moral, sehingga menjauhkan warga negara dari sifat licik, acuh, korupsi, kolusi, nepotisme, Asal Bapak Senang (ABS), munafik dan segala nilai tercela lainnya yang bisa merugikan negaranya.
Kedua, MC Lelland yang lebih dikenal dengan pandangan Need Of Achievement (N’ach) menyebutkan bahwa seorang yang berhasil itu karena punya dorongan besar untuk mencapai keinginannya, bukan karena ia mendapat imbalan tetapi karena ia mendapat kepuasan batin, sebagai pengaruh dari paradigma yang ia miliki. Dalam pandangan ini terang sudah bahwa motivasi dan ketulusan adalah ruh kemajuan suatu bangsa. Tanpa motivasi yang kuat dan ketulusan sebuah negara tidak akan maju. Bagi masyarakat yang menganut konsep ini berkeyakinan bahwa motivasi tertanam dalam lubuk hati masyarakat, bukan pada mulut motivator atau siapapun. Karena jika motivasi datang dari mulut motivator hanya berdampak sesaat, dan mudah lupa. Oleh karena itu profesi motivator tidak laku di negara-negara yang menganut konsep N’ach.
Jika kita tengok pada apa yang terjadi di negeri kita, nampak seperti republik minus… Kita minus semangar berbuat baik, bertanggungjawab, disiplin, bekerja keras, berbuat ikhlas. Yang nampak adalah kecacatan moral dan tumbuh berkembang segala sifat licik acuh, korupsi, kolusi, nepotisme, Asal Bapak Senang (ABS), munafik dan segala nilai tercela lainnya yang bisa merugikan negaranya.
Media membeberkan segala macam kecacatan moral bangsa ini, dan sepertinya bukan efek jera yang didapat dari segala tontonan, malah telah berubah menjadi tuntunan untuk di-copy paste diterapkan dibagian negeri yang lain. Mengapa profesi motivator bergitu mendapatkan tempat, karena masyarakat kita memang sakit, tidak percaya diri. Padahal efek motivasi yang bersumber dari luar ibarat sambal yang pedasnya sesaat, selepas itu orang-orang kembali pada habitat atau kebiasaannya seperi semula. Berapa ribu orang lulus ESQ dan segala pelatihan lainnya yang dampaknya tidak lama. Masalahnya motivasi dan ketulusan bukan berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Inilah kita sedang menjadi republik minus… Jawabannya hanya dua, menjalankan agama dengan baik dan senantiasa berbuat baik, sebagaimana konsep etika protestan, dan kedua memiliki motivasi dan ketulusan dalam berbuat. JS Mill bilang keberhasilan suatu bangsa dikarenakan akumulasi keberhasilan warga negaranya, dan sebaliknya kegagalan suatu bangsa adalah akibat akumulasi kegagalan warga negaranya. Bagaimana dengan kita?***

Leave a Reply

Sketsa