Diberdayakan oleh Blogger.

Bukan Martabak Biasa


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Saya tidak bisa melupakan peristiwa sebulan lalu, sebuah pembelajaran keikhlasan dari seorang pedagang Martabak.  Kebetulan saya ditugaskan kantor untuk mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) selama dua pekan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Tiga hari Sebelum berangkat ke Lembang saya sempatkan untuk menemui Ibu di Pandeglang memberitahukan sekaligus pamit ditugaskan kantor.

Hari itu sepulang kantor di Serang, saya langsung menuju Pandeglang, kurang lebih 30 menit perjalanan.  Saya berupaya membiasakan membawa buah tangan jika bertamu apalagi menemui ibu. Ketika sampai di pandeglang, mampir sejenak untuk membeli martabak. Setelah pesanan selesai, saya tanyakan berapa harganya. Mamang Martabak bilang “martabak 3 telor, Rp.19.000 Pak”. Di kantong terdapat uang pecahan Rp.16.000 dan Rp.100.000. Saya serahkan uang yang  Rp.100.000. Mamang tersebut bilang “Maaf Pak, baru buka, belum ada kembalian”. Saya bilang lagi “Cari aja dulu Mang kembaliannya, di saya recehnya Cuma ada Rp.16.000”. Mamang tersebut menjawab “ Saya tadi sudah keliling cari tukaran pembeli sebelum Bapak, tapi disekitar sini gak ada. Sudah pak saya terima uang Bapak yang Rp.16.000, saya ikhlas”.

Saya memaksa agar si Mamang martabak menerima uang yang 100 ribu dan berusaha saya yang mencari kembalian. Entah kenapa, Mamang martabak memegang dan menahan tangan saya dan bilang “Biar pak saya terima yang Rp.16000 saya ikhlas”, tidak tampak wajah ketus apalagi keberatan, melainkan senyum tulus. Saya tanggapi “Bapak bukan untung tapi rugi”, beliau menjawab “Bukan untung rugi pak, saya ikhlas”. 

Pada akhirnya saya terima martabak dan serahkan uang Rp.16.000, dan saya bilang “Haturnuhun Mang, saya punya hutang ke Bapak 3 ribu, insAllah kalau kebetulan lewat atau kesini lagi saya ganti”. Tidak berhenti melepas senyum, Beliau menjawab “Gak usah dipikirkan pak, sungguh saya ikhlas”. Akhirnya saya lanjutkan perjalanan pulang, dalam benak saya termenung, apa memang ini hikmah puasa hari kamis? Karena kebetulan hari itu saya menunaikan puasa. Entahlah terkadang saya terharu menyaksikan ketulusan seseorang, apalagi pedagang kecil yang untung dari berjualan mungkin tidak seberapa. Bagi pedagang kecil uang tiga ribu, lumayan besar, karena uang itulah keuntungan sesungguhnya bagi pedagang.

Sesampai di rumah kebetulan menjelang magrib, rupanya Ibu juga sedang menunaikan pusa kamis, saya ceritakan kejadian di tukang martabak tadi, sederhana tanggapan ibu “Keberkahan puasa kita, diantaranya mengalir ke Mamang Martabak, beliau selain berdagang juga ingin mendapat pahala”. Dalam pikiran saya mungkin mamang martabak dianugerahkan ketajaman hati, dalam keterbatasan uang kembalian, beliau ingin memuliakan orang yang sedang puasa, walau secara lahir tidak ada yang tau jika saya dan ibu sedang puasa.
Dua hari lalu saya kembali membeli martabak di Mamang yang sama, hamdulillah saya lebihkan uang bayaran martabak. Si mamang bertanya sambil tersenyum “Uangnya   lebih pak”. Saya jawab “Gak papa mang, rizki mamang”. Mamang martabak terlihat bingung, saya langsung pulang menemui Ibu.

Mungkin cerita ini remeh temeh, kejadian biasa atau terlalu sederhana, namun bagi saya di zaman miskin akhlak, zaman penuh kecurangam, transaksional. Rupanya masih ada “manusia-manusia kecil” yang masih ikhlas tulus dan berakhlak mulia. Ketika di sisi lain ada pedagang yang mengurangi timbangan, ada yang membohongi pelanggan, menjual dengan harga tidak pantas, atau menyertakan bahan beracun. Rupanya masih terserak pedagang yang tidak sekedar berdagang, tapi sesungguhnya berniaga dengan Allah, meneladani pola dagang Nabi Muhammad. Jika ada orang kaya bersedekah maka wajar, jika ada pedagang kecil yang bersedekah itu yang disebut luar biasa. Sya sering menyebut mereka sebagai ‘Malaikat Kecil’, yang karena kemuliaannya mungkin menunda azab dan bencana di zaman kezaliman yang luar biasa. Sampai detik ini masih terngiang di telinga “Saya Ikhlas Pak…”. Semoga Allah senantiasa memuliakan beliau.***

Leave a Reply

Sketsa