Diberdayakan oleh Blogger.

Jangan Asal Bersedekah


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Sering kita terenyuh menyaksikan anak usia sekolah, bahkan balita mengamen di jalanan atau lansia dengan memperlihatkan kesakitan atau kekurangan fisiknya mengemis di lampu merah, dan tak jarang tanpa berpikir panjang kita memberi receh atau ribuan untuk disedekahkan sebagai bentuk kasian atau simpati.

Bersedekah atau membantu orang yang kurang mampu, memang merupakan salah satu kewajiban dalam agama, apalagi ditegaskan dalam Surat Al-Maun ayat 1-3: tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin.

Namun demikian terkadang saat ini niat baik belum tentu berbuah baik. Rupanya sedekah tulus yang kita berikan malah membuat sebagian orang semakin betah di jalan dan mengganggu ketertiban. Cerita seorang rekan, dalam satu razia ketertiban rupanya menemukan pengemis yang penuh drama, bagian kaki yang terlihat sakit, bahkan berjalan tertatih tatih rupanya balutan perban dengan sabut kelapa yang dilumuri obat merah. Ada juga yang mengikat kaki ke belakang, agar hanya terlihat lututnya seolah-olah hasil amputasi.

Sedekah di jalanan rupanya menyuburkan lahirnya orang-orang pemalas dan profesi baru sebagai pengemis. Ada anak yang mengawalinya dengan coba-coba, rupanya karena banyak yang memberi sedekah, lalu putus sekolah dan merasa nyaman di jalan. Ada juga yang memang atas dasar keterdesakan ekonomi yang memaksa seorang anak menjadi anak jalanan.

Pernah dalam satu kesempatan sebuah institusi sosial melakukan pelatihan perbengkelan dan steam motor, yang kemudian distimulasi dengan bantuan alat bengkel dan steam. Seminggu berselang alat perbengkelan dan steam motor tersebut dijual dan mereka kembali ke jalan. Ketika ditanya alasannya, mereka bilang. Kalau nyuci atau ngebengkel lama nunggu pelanggan, uang yang terkumpul sedikit. Kalau di jalan tinggal nyanyi seperempat lagu atau tengadah tangan,setengah hari bisa dapat 30 ribu. Institusi sosial tidak mudah memang merubah mindset dan kebiasaan mereka yang suka mencari nafkah di jalan. Namun akibat sedekah masyarakat pada umumnya yang salah menjadikan mereka malas dan tidak mau bekerja keras.

Dalam satu kesempatan pergi ke wilayah transmigran di Kalimantan Selatan. Saya menemukan fenomena, rupanya transmigran yang gagal adalah mereka yang dulunya terkena operasi kamtibmas lalu diberangkatkan transmigrasi. Sebagian besar transmigran tersebut gagal total dan melarikan diri  kembali ke Kota-kota besar dan kembali menjadi pengemis atau gelandangan, karena selain tidak memiliki skill juga terbiasa instan mendapatkan uang dengan tangan di bawah.

Lebih baik tidak bersedekah di jalan apalagi memberinya kepada anak kecil dan mereka yang berusia masih produktif, karena mudharatnya jauh lebih besar, bisa jadi niat baik kita malah berbalik menjadi dosa, ketika malah berimplikasi pada perubahan sifat seseorang menjadi pemalas, mengganggu ketertiban, dan menjadi benih kriminalitas. Lebih celaka lagi jika sedekah yang kita beri digunakan untuk konsumsi rokok, ngelem, membeli minuman keras, bahkan narkoba.

Sedekah dan membantu kaum berkekurangan memang keuatamaan, namun selayaknya kita berikan pada tempat yang tepat, kepada tetangga yang yatim, piatu atau yatim piatu. Kepada saudara yang kekurangan ekonomi, kepada pesantren atau panti asuhan dan tentunya banyak lagi tempat yang layak. Bisa jadi saat ini sedekah yang tepat penerimanya jauh lebih banyak dibanding kita sedekah kepada tempat yang tepat, yang bisa memberdayakan dan merubah nasib seseorang. 

Tidak rumit jika ingin jalanan, lampu merah atau suatu kawasan menjadi tertib dan berkurangnya angka kriminalitas, tanpa harus merutuki pemerintah yang memang lamban. Ikhtiar mudah bisa kita awali dengan tidak menjadi ‘tangan diatas’ di jalanan dan melakukan sedekah pada tempat yang tepat. Ayo kita sempurnakan premis: niat baik, ditempat yang tidak tepat maka tidak akan berbuah yang baik. Menjadi, niat berbuat baik, ditempat yang tepat, maka akan berbuah baik.***

Leave a Reply

Sketsa