Diberdayakan oleh Blogger.

Muhammad Aiman Dhiaurrahman


posted by rahmat rahmatullah on

1 comment


Nama itu akhirnya kami lekatkan pada anak kami. Nama yang kelak akan ia bawa, sandang, menempuh hidup hingga akhir hayat. Bagi kami nama adalah doa, kekuatan, martabat dan tantangan untuk mewujudukan sebuah pengharapan akan kebajikan.

Muhammad adalah nama kanjeng rasul junjungan, teladan tiada banding, titik tertinggi makhluk yang bernama manusia dengan segala sisi kemanusiaannya. Aiman, arti secara harfiah adalah kanan, golongan kebenaran atau shaleh. Jika dirunut dari sejarah sahabat atau orang-orang dekat Nabi Muhammad, terdapat nama  Ummu Aiman yaitu pengasuh Nabi Muhammad mulai dari Siti Aminah wafat hingga nabi dewasa. Ummu Aiman menikah dengan ’Ubaid bin Al-Harits, dari  pernikahannya lahirlah Aiman. Aiman ikut hijrah dan berjihad bersama Muhammad dan gugur sebagai syahid dalam Perang Hunain.

Nabi sangat menghormati Ummu Aiman. Beliau pernah berkata, ”Wanita ini adalah anggota keluargaku yang masih tersisa.” Pada kesempatan lain beliau juga pernah berkata, ”Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku (wafat)”. Ummu Aiman mengasuh Muhammad kecil dengan penuh kelembutan. Setelah Muhammad diangkat menjadi rasul, beliau pernah berkata, ”Barang siapa yang ingin menikah dengan wanita ahli surga, maka hendaklah ia menikahi Ummu Aiman.” Mendengar sabda beliau, Zaid bin Haritsah segera menikahinya. Dari pernikahannya dengan Zaid, lahirlah Usamah bin Zaid, lelaki kesayangan Muhammad yang dalam sejarah kemiliteran menjadi Jenderal termuda di dunia.

Sedangkan Dhiaurrahman artinya Cahaya Allah yang Maha Pengasih, besar harapan kami anak ini kelak memiliki akhlak mulia, mengasihi sesama, ringan membantu dan memberikan kemanfaatan.

Nama itu kami titipkan nak…menjadi doa kami tiada berujung. Kami yakin ananda mampu mewujudkan cita-cita ayah bunda

Kelahiran Aiman merupakan kado terindah dari Allah. Terlahir hari Selasa, 3 Juli 2012, pukul 19.05 WIB di RS. Sari Asih Ciledug, persis saat masjid-masjid sekitar mengumandangkan azan isya.  Dalam kalender hijriah Aiman terlahir memasuki tanggal 14 Syaban 1433 H, persis tanggal pernikahan kami setahun lalu.

Tidak lepas kalimat syukur kami panjatkan, karena begitu berlimpah anugerah kemudahan yang Allah berikan. Aiman lahir sesuai Hari Perkiraan Lahir (HPL) yaitu 3 april. Ibundanya mulai merasakan kontraksi sejak jam 3 dini hari, jam 13 bersama kedua mertua dirujuk ke RS. Sari Asih dan dinyatakan masuk pembukaan 1-2. Menjelang Ashar saya tiba di RS dan suster sudah menyatakan pembukaan 6, azan magrib tiba masuk pembukaan 9. Dan puncaknya Azan isya lahirlah Aiman dan dalam kesyukuran saya ikut mendampingi, memotivasi istri, hingga mengadzani Aiman.

Tak terasa bulir air mata keluar saat mengazani, hanya bisa terpekur dan bersyukur diamanahkan Allah amanahkan saya menjadi ayah, menjadi wali, menjadi imam sesungguhnya….Saat kata dan laku menjadi tontonan dan tuntunan anak.

Untaian terimakasih kami tuturkan kepada dr. Dedi Nurdiansyah Spog, yang begitu ramah membantu proses lahirnya Aiman, juga kepada para perawat/ suster yang penuh kesabaran memotivasi istri, sigap menolong proses lahiran, hingga merawat penuh kehangatan Aiman dan Bundanya selama di RS. Kami yakin Allah memuliakan segala kebaikan yang telah tertunaikan.

Segala bantuan dan doa yang tertutur hanya bisa kami balas dengan ucapan terimakasih, kami yakin Allah yang mengembalikan kemuliaan kepada orangtua, mertua, saudara, sahabat dan seluruh rekan. Semoga kami mampu menjadi “Ayah dan Bunda” seutuhnya, yang mampu menjaga dan merawat ‘Anak Zaman”. Karena kami yakin, bahwa anak adalah amanah terbesar dari Allah.***

1 comment

Leave a Reply

Sketsa