Diberdayakan oleh Blogger.

Olga Menteri Sosial Televisi


posted by rahmat rahmatullah on

No comments


Televisi merupakan kotak hitam ajaib. Dalam kesemrawutan negara, terkadang saya berpikir, televisi memiliki kontribusi membuat benang semakin kusut atau sebaliknya mengurai benang kusut. Televisi bisa menjadi solusi dan sebaliknya menjadi provokator terhadap suatu peristiwa.  Televisi punya kuasa dalam mengangkat suatu peristiwa biasa menjadi peristiwa nasional, bahkan jadi trandsetter pembicaraan masyarakat dalam satu negara, atau sebaliknya atas keberpihakan televisi bisa tidak memberitakan hal besar.
Dibalik itu semua, menurut saya ada satu hal menarik dari kecendrungan acara televisi beberapa saat ini. Televisi saat ini mampu mengangkat dan kemiskinan menjadi ‘barang’ menarik, bahkan menjadi bisnis baru televisi. Dalam ingatan saya setidaknya terdapat beberapa acara televisi yang menjadikan kemiskinan sebagai objeknya, sebut saja: Orang Pinggiran, Tolong…., Catatan Si Olga, Andai Aku Menjadi, Bedah Rumah, Bedah Warung, dll. 

Dalam satu kesempatan diskusi dengan aparatur pemerintah di bidang sosial, ada semacam gurauan, bahwa dengan segala sumber daya dan anggaran yang ada, Departemen Sosial belum tentu mampu mengangkat kemiskinan menjadi hal menarik dan menjadi kepedulian nasional.  Tapi seorang Olga Syahputra hanya dalam waktu 60 menit mampu mengangkat kemiskinan menjadi sebuah simpati satu negara, walaupun tentunya disertai bumbu-bumbu melodramatis.

Terkadang ketika melihat sesuatu yang baik, kebiasaan kita adalah mengkritik. Banyak mereka yang berlatar belakang sosial sinis dengan acara televisi menganggap lebay, mengekspoloitasi kemiskinan, berbisnis dalam balutan kemiskinan, karena nilai bantuan dari televisi tertutupi bahkan meraup untung dari iklan, dsb.

Seharusnya institusi atau lembaga yang menangani kemiskinan bersyukur dan berterimakasih, bahwa ada patner dalam hal ini televisi memiliki kepedulian dalam menangani kemiskinan. Jika perlu Depsos menjadi official atau sponsorship acara-acara model diatas, atau menjdikan Olga sebagai duta kepedulian sosial. Kelemahan institusi sosial adalah dalam hal branding atau pencitraan. Banyak hal yang sebetulnya sudah dilakukan institusi tersebut namun dirasakan belum berpengaruh karena tidak ada orang-orang kreatif yang mampu mengangkat penanganan kemiskinan menjadi barang seksi. Saya yakin jika Depsos misalnya bekerjasama dengan PH atau rumah produksi membuat sebuah acara TV, semacam Catatan Si Olga, Bedah Rumah, dll dengan model packaging televisi, maka masyarakat akan menilai jika institusi sosial betul-betul mampu menagangi kemiskinan dengan segala turunannya.

Zaman sudah berkembang, media informasi kian lengkap dan mudah, sedangkan setting publikasi kegiatan sosial masih kuno.  Dari zaman adanya TVRI hingga kini hadirnya belasan TV lokal, institusi sosial masih mengemas publikasi dan sosialisasi dalam bentuk diskusi yang tentunya menjenuhkan. Pemirsa televisi malas menonton sajian kaku model diskusi televisi, sekedar menyajikan angka-angka.  Dengan biaya yang sama, kemasan lebih menarik dibuat semacam realty show saya yakin apa yang sudah dilakukan Depsos menjadi sebuah prestasi yang dirasakan manfaatnya masyarakat. Setidaknya akan menjadi kebanggaan para pekerja sosial di daerah jika Depsos mampu mengangkat usaha-usaha para pekerja sosial di daerah melalui tayangan TV.  Dan, saya yakin televisi melalui Corporate Social Responsibility (CSR) tidak akan meminta banyak biaya untuk satu slot acara yang menjunjung kepedulian sosial, karena saya yakin televisi-pun memiliki tanggungjawab sosial.

Mari kita malu dan belajar dari Olga Syahputra, dalam mengmas kemiskinan menjadi produk kreatif. Dan seharusnya ada satu cabang keilmuan dalam bidang sosial yang bernama KREATIFITAS SOSIAL.***

Leave a Reply

Sketsa