Diberdayakan oleh Blogger.

Keroyok Kemiskinan


posted by rahmat rahmatullah on ,

No comments

Saya akan selalu ingat apa yang dikemukakan Ali Bin Abi Thalib, bahwa “Kebenaran yang tidak teroganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”, dan saya yakin diantara kitapun sudah mengetahui adagaium ini.

Entahlah,mungkin inilah tabiat manusia, semakin ia tahu, maka semakin cepat ia lupa bahkan berpura-pura untuk lupa. Dalam aspek keseharian, rumah tangga, bermasyarakat  hingga urusan  negara, rupanya kebatilanlah yang lebih terorganisir, makanya janganlah heran jika apa yang mengemuka di negeri ini adalah buah dari kebatilan yang terorganisir dengan rapi, dan cantik. Sungguh wajar jika korupsi telah membudaya bahkan sistemik, program pemerintah hanya rapi saat gunting pita nir partisipasi masyarakat, konflik atas nama suku, agama, ras, keyakinan, kembali mengemuka, tawuran pelajar SMP dan SMA kembali menggejala, kemiskinan yang dari zaman Sukarno jungkir balik dikurangi namun rupanya kian eksis walopun dihantam segala program pemerintah, bantuan perusahaan hingga LSM, dan banyak kebatilan lain yang mendapat rating pemberitaan tertinggi di media massa dan elektronik dibandingkan kebaikan-kebaikan yang muncul.

Titik tekan tulisan ini adalah urusan kemiskinan. Mungkin logika saya yang salah atau mungkin berbeda dari umumnya. Entah mengapa kemiskinan di negeri ini kian dikurangi, diberantas, malah justru makin eksis dan ibarat jamur kian berdiaspora. Toh bukan hari ini saja, zaman SBY saja, zaman gubernur anu, zaman bupati ini kemiskinan diperangi, sejak zaman negara ini didirikan Sukarno, kemiskinana sudah menjadi momok di negeri ini, hingga hari ini 67 tahun merdeka, tetap menjadi momok. Dalam setiap pidato kenegaraan setiap tahun yang disampaikan presiden, gubernur, bupati/ walikota, mereka selalu bilang, jika kemiskinan berhasil dikurangi sekian persen, pendapatan masyarakat meningkat seiring sekian persen. Apakah benar? Yang ada adalah orang kaya semakin kaya yang miskin tetap miskin lalu dihitung rata-rata jumlah penduduk, lalu dibagi rata, hasilnya memang kemiskinan berkurang dan pendapatan meningkat. Yang sesungguhnya meningkat bukan pendapatan orang miskin melainkan orang kaya yang kian kaya, orang miskin hanya tertutupi silhoite orang kaya.

Saya sadar jika kemiskinan saat ini dikeroyok habis-habisan, ratusan program, kegiatan  dan pendekatan dilakukan pemerintah baik langsung maupun tidak langsung. Model langsung seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), PNPM, Kelompok Usaha Bersama (Kube), Rumah Tidak Layak Huni, dll dengan segala nomenklatur dan istulah berebda. Yang tidak langsung melalui pendekatan pendidikan, teknologi informasi, perbaikan infrastruktur, dan aneka program lain yang dilakukan kementrian hingga pemerintah daerah.

Tidak hanya pemerintah, kini perusahaan/ swastapun berkontribusi, melalui pembukaan lapangan kerja bagi usia produktif, mereka yang memiliki skill maupun nir skill. Infrastruktur lingkar perusahaan juga dibangun, program tanggungjawab sosial perusahaan (CSR ) diluncurkan dengan beragam model, mulai sekedar pencitraan hingga pemberdayaan, dari sunatan masal hingga pelatihan keterampilan bagi perempuan.

LSM dan lembaga zakat juga ikut menghantam kemiskinan, mulai dari LSM level internasional, lembaga zakat multi nasional, lembaga zakat nasional hingga level lokal. Beragam inovasi program diluncurkan sebagai alternatif yang dilakukan pemerintah, seperti penguatan pendidikan, kesehatan, akses sumber air dan produksi, pelatihan bahasa, life skill, dan mungkin ratusan program lainnya.

Pihak lainnya adalah aktor-aktor individu, maupun rumah tangga yang turut memerangi kemiskinan mulai dari hal sederhana seperi sedekah, menyantuni tetangga, anak yatim, menyekolahkan, dan bentuk kepedulian lain pada level masyarakat.

Pertanyaan kemudian keroyokan kemiskinan itu apakah berbuah hasil, menghasilkan manusia-manusia berdikari yang setelah program ditunaikan  betul menjadi naik derajat menjadi tidak miskin? Jikapun berhasil lalu berapa signifikansinya, berapa persen berkurangnya, jika harus menyebut orang siapa sajakah itu dan dimana alamatnya.

Saya yakin jikapun kemiskinan dikeroyok, dihantam dari segala arah, dengan beragam cara tidak akan berbuah hasil, jika memang tidak terorganisir, tidak ada sinergi berjalan masing-masing, satu ke hulu lainnya ke hilir. Tidak ada leader dalam penanganan kemiskinan, disatu tempat bertumpuk program bahkan sama jenis yang mengadakan berbeda, lain tempat sama sekali tidak tergarap program apapun. 

Ada juga penanggulangan kemiskinan hanya sekedar menunaikan kewajiban, asal menyerap anggaran,a sal ada dokumentasi sudah dikerjakan, tanpa sedkitpun menganalisis kebutuhan melainkan hanya menunaikan keinginan-keinginan masyarakat ataupun siempunya program. Maka wajar jika banyak dibangun MCK tapi masyarakat tetap senang buang air besar di kebun atau disungai, sedangkan MCK yang ada menjadi kandang ayam. Karena program tidak turut merubah perilaku dan kebiasaaan masyarakat apalagi melibatkan masyarakat, maka infrastruktur yang ada hanyalah menjadi fosil.

Lain lagi dengan mereka yang menjadikan kemiskinan sebagai proyek untuk meraup pundi-pundi kekayaan. Jangan heran ada manusia-manusia yang bisa berpenghasilan dari kemiskiinan yang diderita masyarakat. Jika tidak ada proyek kemiskinan maka tidak bisa menghidupi keluarga, jika kemiskinan berhasil dikurangi maka tidak ada nafkah baginya, karena profesinya adalah makelar kemiskinan.

Proyektor-proyektor kemiskinan ini beraneka ragam, mulai dari aparatur pemerintah hingga pengelola zakat. Yang terparah adalah LSM menjadikan kemiskinan sebagai proposal untuk mendapatkan donor internasional. Makanya ada yang sedang dan ada yang sedih jika kemiskinan berhasil dikurangi. Sungguh sakit hati ini ketika ada kawan bercerita jika kambing-kambing yang ia jual saat idul qurban keamrin ditawar sebegitu rendahnya oleh lembaga zakat lalu dilambungkan harganya hingga setengahnya dalam brosur-brosur lembaga zakat, yang disebarkan kepada para pekurban. Inilah sialnya ketika agama menjadi alat penghimpun uang, mereka sudah tidak takut lagi karena sudah biasa. Jikapun anda pendonor LSM, atau lembaga zakat, muzakki cek betul kemana donasi anda mengalir, berapa persen dikurangi operasional lembaga. Jangan sampai niat baik kita berzakat, bersedekah, dan aneka derma lain malah dimakan dan memperkaya pengurus lembaga.

Kenapa kemiskinan gagal, karena yang dijual adalah citra bukan substansi. Mulai dari pemerintah, perusahaan hingga LSM, hanya menjual citra dan kecap bukan substansi. Pandai menggunakan istilah menarik, ciamik demi mempercantik program, namun substansinya nihil, orang-orang lapangannya tidak paham pemberdayaan, tidak tahu bagaimana mendampingi masyarakat. Yang ada hanyalah mereka pakar-pakar manajemen yang memutar balikan brand saja.

Inilah negara kita, idealnya dengan dikeroyok, dikepung dikerjakan bareng-barang berbuah hasil, rupanya tidak berbuah karena memang tidak terorganisir. Niat baik yang tidak dilakukan dengan baik, tidak atas dasar ketulusan melainkan penuh pretensi. Masyarakat kecil hanyalah subjek ditmbah objek coba-coba dan penderita yang tidak beranjak. Mau sampai kapan, seharusnya pemerintah menjadi leader, menajdi pengarah, menajdi pemimpoin yang mengorganisir penanggulangan kemiskinan. Bukan malah memporak-porandakan nilai yang dianut masyarakat.***

Leave a Reply

Sketsa