Diberdayakan oleh Blogger.

Rokok dan Pusaran Kemiskinan


posted by rahmat rahmatullah on ,

No comments


Dua hari lalu saban sore kedatangan tukang yang dulu jasanya saya pakai untuk renovasi rumah, dia bilang sedang butuh kerjaan, ditambah butuh sedikit simpanan buat istrinya melahirkan bulan depan. Segala keluhan hidup dikemukakan, telat bayar kredit motor, penumpang ojeknya berkurang, menawarkan menggadekan motornya buat persiapan lahiran, hingga sudah dua hari libur merokok karena gak ada uang.

Saya tanya “Berapa penghasilan ngojek perhari?” Ia bilang tidak menentu kadang 20 ribu, kadang 30 ribu, kadang 15 ribu. Istrinya dia kasih uang sisa, setelah dikurangi buat merokok dan simpanan buat mencicil kredit, dia bilang buat istri kalau ada sisa kadang 10 ribu, kadang 5 ribu, kadang gak ngasih sama sekali.
Dia melanjutkan ceritanya, saya kehabisan uang, karena bulan lalu ngadain syukuran 7 bulanan kehamilan istri, kondisinya terdesak, berharap mendapatkan pinjaman uang dari bapak.

Mendengar cerita tersebut tenggorokan saya tercekat, tidak mungkin saya bilang tidak ada uang karena sama saja berbohong, bagaimanapun sedang ada sedikit uang. Sayapun merasakan bagaimana ‘kalapnya’ seorang suami saat membutuhkan uang untuk persiapan kelahiran anaknya. Saking kalapnya ia menawarkan menggadaikan motor, padahal saat ini motor itulah barang produksi bagi ia dan keluarganya.

Yang tak saya habis pikir adalah kebiasaan merokoknya. Ia  bilang bukan “berhenti merokok” tapi “libur merokok”, jikapun benar ia libu merokok, terpaksa karena tidak ada uang, dan besar kemungkinan jika ada uang ia akan merokok kembali. 

Dalam gumam saya, sungguh zalim jika seorang suami memberikan nafkah pada istrinya adalah sisa setelah dikurangi untuk merokok. Sedangkan ia sudah punya anak satu dan kini istrinya sedang hamil tua. Betapa egonya seorang suami, yang menyamakan kebutuhan rokoknya dengan kebutuhan ‘makan’ keluarganya. Ia tega menyisakan uang buat istri dan anaknya 5 ribu rupiah, tanpa bertoleransi sedikitpun dengan rokoknya.
Diakhir pembicaraan, saya hanya menyemangatinya untuk sekalian berhenti merokok. Tak mau mengasih uang Cuma-Cuma karena sama saja tidak mau memberdayakan. Saya titipkan uang alakadarnya buat istrinya, sedikit bahan makanan agar dapurnya ngepul dan uang muka buat memberseihkan kebun. 

Dalam pusaran pikiran saya, tidak satu orang ini saja yang berpusar dalam kemiskinan akibat rokok, melainkan ribuan bahkan jutaan masyarakat indonesia yang terlilit miskin akibat rokok. Jika kelas menengah atas merokok, maka saya tak ambil pusing karena kebutuhan hidupnya sudah menginjak sekunder dan tersier. Sedangkan masyarakat bawah sudah jungkir balik memenuhi kebutuhan pokok, masih dikurangi juga untuk rokok. Saya yakin jika petani, nelayan, tukang ojek, buruh,  dan lainnya berhenti merokok, uang rokoknya sangat mungkin dialihkan untuk menaikan gizi keluarga, untuk menyekolahkan anaknya. Omong kosong jika perusahaan rokok melakukan CSR dalam bentuk apapun, sedangkan karenanya masyarakat miskin kian miskin, usia tua makin suram karena sakit-sakitan.

Sudahlah memang miris, petani tembakau dijadikan tameng akan kehilangan lahan pekerjaan jika perusahaan rokok ditutup, memang mungkin sekian ribu petani tembakau akan kehilangan pekerjaan dan tentunya tanah tidak hanya menumbuhkan tembakau semata tapi tak terhitung tumbuhan produktif bisa dihasilkan tanah. Toh jutaan warga indonesia jatuh miskin karena candu rokok, ribuan warga nafasnya pagi sore sebab sakit karena rokok. Semua tau jika miliuner-miliuner di negeri ini adalah pemilik perusahaan rokok, bukan petani tembakau yang jadi miliner bukan?****

Leave a Reply

Sketsa