Diberdayakan oleh Blogger.

Perempuan Super


posted by rahmat rahmatullah on

No comments



Sedari dulu saya sangat mengagumi sosok perempuan, hingga saat ini rasa kagum ini semakin bertambah dan semoga akan terus bertumbuh. Namun kekaguman ini saya batasi pada sosok ibu dan istri, kekaguman dalam bentuk ikhtiram atau rasa hormat tak terkira.

Sedari kecil saya belajar di madrasah diingatkan untuk menghormati perempuan (Ibu) sebagaimana warisan hadist nabi. Saat itu dan seiring waktu berjalan pikiran saya belum mampu mencerna, mengapa menghormati ibu diucapkan 3 kali dan Bapak hanya 1 kali.

Dan kini saya sudah mendapatkan jawabannya dimulai mendampingi istri ketia hamil, melahirkan dan kini mendidik dan membesarkan anak. Saya hanya bisa berucap begitu hebat dan supernya perempuan. Perempuan adalah makhluk paling istimewa yang Allah ciptakan, energinya tak pernah habis,  stok kesabarannya tak pernah menipis, rasa sayangnya tak pernah terbilang.

Ketika meringis saat akan melahirkan dua kalimat yang istti ucapkan; teringat banyak dosa akan ibu, rasanya cukup satu anak saja. Dua kalimat itu muncul dalam bawah alam sadar saking sakitnya merasakan sesaat akan melahirkan. Rupanya rasa sakit yang terlewati terlupakan seiring tumbuh kembangnya anak setiap waktunya.

Saat kini anak kami menginjak 8 bulan, paling lama saya mengasuh 1-2 jam, dan terasa berkeringatnya, harus terus menerus berinovasi mencari permainan. Dalam benak saya rasanya tak sanggup jika harus mengasuh seharian. Keluhan itu tak terucap dari mulut istri, senyumnya terus mengembang sepenjang waktu mendampingi sang anak. 

Mudah bagi saya berucap capek sepulang kantor, lalu menanggalkan urusan pekerjaan rumah, dan begitu hebatnya istri memahami dan memaklumi kondisi suami. Namun itu tidak berlaku bagi istri, tak pernah terucap rasa capek mengasuh anak, membereskan rumah, memasak, dan tak terhitung peran lainnya. Apa jadinya jika istri meminta cuti mengasuh anak, cuti membereskan rumah dan memasak?. Terkadang para suami yang memang tidak tahu diri, mudah mengucap kecewa hanya karena masakan yang kurang garam, hanya karena lantai yang sedikit kotor, dan hal kecil lainnya. Padahal jika harus menggaji berapa yang harus dibayarkan kepada istri mungkin tidak akan terukur oleh berapapun besarnya uang.

Ikhtiram lebih besar saya haturkan untuk Ibu, perempuan istimewa yang telah membesarkan 8 anak, tanpa keluh kesah, dan saya sebagai anak ke-8 bersaksi betapa luar biasanya Ibu. Berkatnya 3 anak mengenyam pendidikan doktor dalam dan luar negeri, dan sisanya mengenyam pendidikan S2 dan S1. Dihari tua ibu, tekad saya hanyalah satu berkhidmat dan mewujudkan mimpi-mimpi Ibu. Bagi saya beliau adalah azimat satu-satunya sepeniggal Ayah.

Jika diibaratkan ukiran, tak terhitung guratan kebesaran ibu di hati anak-anaknya. Dan kini jejak itu sedang diikuti istri, belajar menjadi perempuan super demi mewujudkan generasi-generasi super. Semoga…***

Leave a Reply

Sketsa