Diberdayakan oleh Blogger.

Hotel Abai Lokalitas


posted by rahmat rahmatullah

No comments



Apa kesan pertama kita ketika membayangkan berada dalam hotel, apalagi hotel bintang 4 atau lima. Tentunya dalam benak kita tertanam modern, ramah, lengkap,lux,  nyaman, damai, terlebih jika hotel tersebut berada di dataran tinggi dengan view gunung menjulang atau pesisir denan view pantai indah melandai.
Benar sekali apa yang kita bayangkan dan apa yang kita rasakan. Hotel adalah bisnis jasa, yang jualannya adalah kelengkapan fasilitas (sarana dan penunjang) dan pelayanan yang prima (keramahan dan kepuasan). Namun, ada hal kecil, mungkin dianggap sepele, tidak penting bagi yang lain namun teramat penting bagi saya yaitu urusan kamar mandi dan sarana shalat.

Jika diundang mengisi semeniar, menjadi peserta, mengikuti pelatihan, atau hal lain terkait urusan hotel yang saya bayangkan pertama kali adalah bagaimana kamar mandinya dan bagaimana shalatnya (sarana dan kebersihan untuk layak shalat). Sungguh modernisme yang menjadi jualan hotel yang pernah saya singgahi sangat mengabaikan lokalitas. Mari kita bayangkan pengalaman kita selama ini terkait hotel, hotel modern terkenal dengan kamar mandi kering yang didalamnya ada fasilitas kloset duduk (ada yang memiliki selang pembilas, ada yang tak berselang pembilas), bath tub untuk mandi, wastafel beserta atribusi lainnya. Bagi kita yang terbiasa dengan kloset jongkok ataupun duduk pasti sangat terbantu dengan keberadaan gayung atau selang pembilas,s edangkan sebagain besar hotel tidak menyediakan itu, yang tentunya berseiko menjadi najis terhadap badan dan pakaian. Untuk urusan mengambil air jauh lebih rumit karena memang tidak ada keran khusus dan repotnya kita harus wudu dengan selang kloset atau berwudu diatas westafel yang ujung-ujungnya harus mengangkat kaki keatas wastafel yang terntunya sangat beresiko apalagi bagi mereka yang memiliki keterbatasan kesehatan dan fisik. 

Kendala berikutnya saat akan melaksanakan shalat, sekarang memang ada kemajuan hampir semua kamar hotel menyediakan tanda kiblat, jikapun tidak ada bisa menghubungi CS untuk meminta arah walaupun belum tentu tepat akurasi arah kiblatnya. Tidak semua hotel memiliki mushala, jikapun ada terletak di basemen bersampingan dengan parkir mobil atau di lantai paling atas yang kesimpulannya sulit diakses. Jika alasannya shalat adalah urusan pribadi dan bisa dilakukan di kamar, memang benar, namun kamarpun terbatas karena tidak disediakan sajadah. Hal ini memang bisa diantisipasi dengan membawa sejadah sendiri atau saya akali setiap traveling membawa sarung yang bisa digunakan untuk alas shalat.

Mungkin diantara pembaca, saya lebay karena menulis urusan kecil lalu dibesar-besarkan.  Jika urusannya butuh gayung, sejadah, ember- kan bisa kontak CS. Memang beragam kebijakan hotel, ada yang menyediakan dan ada yang tidak menyediakan, ada juga yang menyediakan tapi dikenai cas, ada juga CS yang malah menertawakan karena hotel modern tidak menyediakan gayung, ember, dll.
Saya hanya berbicara lokalitas saja. Tidakkah sebaiknya hotel yang jualannya adalah jasa, juga turut menyediakan fasilitas yang erat dengan kultur atau kebutuhan masyarakat lokal. Sederhana saja, masyarakat Indonesia masyoritas muslim dan tentunya tidak terlalu repot jika juga bisa memenuhi kebutuhan ibadah kaum muslim. Berapa sih harganya ember dan gayung atau menambah cabang keran untuk wudlu dan selembar sajadah.

Yang saya heran memang hotel melayani siapa? Apakah orang eropa dengan kamar mandi keringnya atau wisatawan luar negeri lainnya. Silahkan bisa kita cek pada data kunjungan hotel khususnya di pulau jawa, sumatra, dan kalimantan. Sebagian besar pengunjung adalah orang indonesia juga (lokal) yang juga muslim. Memang sangat jarang yang protes, karena sebagai besar pengunjung hotel mengalah dengan alasan hanya sebentar di hotel. Namun selayaknya pihak hotel yang seharusnya lebih peka dan memberikan service excellent dengan menyediakan kebutuhan dasar pengunjungnya.

Sepanjang saya berkegiatan di hotel, baru ada satu hotel yang menyaediakan sajadah, dan hanya hotel kelas tiga dan melati yang menyediakan ember dan gayung, sisanya ketika berada di hotel bintang 4 dan 5 tidak menyediakan sajdah, gayung dan ember. Ketika menghubungi CS ada yang siap menyediakan dengan tulus, ada yang harus menambah biaya, ada yang menjawab karena alasan modern tidak mnyediakan, dan ada yang malah menertawakan karena gayung, ember ibarat kampungan tidak pantas untuk hotel berbintang.
Asumsi saya gayung, ember, sajadah sudah menjadi kelas dalam hotel. Karena sebagian besar yang menyediakan memang hotel bintang 3 kebawah, yang dalam pandangan hotel mewah tidak efisien karena terkategori kamar madni basah yang banyak membuang air. 

Bagi saya modern tidaknya hotel justru ditentukan oleh sejauhmana hotel tersebut menghormati lokalitas. Masalah efisiensi air justru salah, karena dengan menyediakan bath tub berapa liter air yang harus dibuang ketika mandi, jauh lebih sedikit jika digunakan untuk wudlu. Sebetulnya opsional, jika hotel telah menyediakan kebutuhan lokalitas masalah dipakai dan tidak kan pilihan, dibanding tidak menyediakan.
Logika sederhana, jika kita mengunjungi hotel di luar indonesia,s ebut saja eropa, amerika, asia (non negara mayoritas muslim) sangat wajar jika disediakan kamar mandi kering, karena memang begitu kulturnya. Tapi jika kita mengunjungi hotel dalam negeri dengan kultur eropa sangat janggal karena memang kebutuhannya berbeda. Apakah memang kamar mandi di hotel Indonesia disetting untuk kebutuhan orang Eropa? Anda yang tahu.  Hanya memang saya belum mengunjungi hotel yang ada syariahnya, mungkin lebih aksesible untuk kaum Muslim. Tapi begitu merepotkan jika harus mencari hotel syariah karena memang sangat langka di negeri mayoritas Muslim ini.

Bagi yang punya pengalaman unik terkait hotel atau jika memang asumsi saya salah, mangga tuliskan disini pengalamannya.***

Leave a Reply

Sketsa