Diberdayakan oleh Blogger.

CTM Untuk Aiman


posted by rahmat rahmatullah

3 comments



Sekitar dua pekan lalu punggung anak kami Aiman (9 bulan) terserang bintik-bintik merah. Kami anggap alergi yang biasa dialami bayi sebagai bentuk adaptasi kulit, dan cukup diobati bedak atau air gambir. Rupanya bedak dan gambir tidak cukup mengobati, bintik merah mengandung air terus menyebar ke arah pantat, walaupun Aiman tetap ceria dan raut wajahnya tidak menampakan rasa sakit atau tidak nyaman.

Kami putuskan untuk berobat ke Puskesmas, asumsinya selain dekat rumah juga biayanya murah. Istri bercerita ketika di Puskesmas yang menangani bidan, diperiksa sekejap, dinyatakan alergi, lalu dituliskan resep obat. Istri langsung menukarkan resep ke bagian pengambilan obat, tidak lama dikasih tiga jenis plastik dengan isi masing-masing bedak talk, tablet warna kuning dan satu botol antibiotik. Ketiga plastik tersebut tidak tertulis dosis pemakaian, istripun lalu beranjak menayanyan dosis dan jenis obatnya. Bagian obat (saya tidak menuliskannya apoteker) menyatakan obat diminum tiga kali karena anak Ibu demam. Istri saya kaget, karena anak saya tidak demam, melainkan alergi. Lalu bagian obat bilang “Oia maaf saya liat lagi resepnya”, kemudian menjelaskan “Ini bu yang kuning CTM biar anak Ibu gak gatal, diminum 3 kali, bedak dioleskan di bagian yang gatal, dan antibiotik dimunumkan supaya tidak infeksi”. Istri saya hanya ber “Oh, oh saja”, selain karena masih adanya antrian sekaligus kaget dengan jenis obat yang diberikan.

Sesampai di rumah, istri menelpon saya dan menceritakan kejadian di Puskesmas tadi. Dengan segala keterbatasan pengetahuan tentang obat, saya cukup kaget dengan jenis obat yang diresepkan untuk Aiman yang baru berusia 9 bulan, jika dapet bedak talk maka wajar, yang saya bingungkan bayi harus diberi CTM yang kalau tidak salah obat agar mudah tidur, dan antibiotik yang harus diminumkan tanpa putus hingga sembuh.

Akhirnya saya putuskan agar istri tidak memberikan obat-obat tersebut kepada Aiman, cukup bedak talk yang dioleskan dan jika bintik-bintik merah masih menyebar, dibawa berobat ke dokter anak. Rupanya memang bintik merah Aiman semakin menyebar, dokter bilang terkena alergi dan virusnya menyebar. Ketika istri pelihatkan obat dari Puskesmas, dokter terkaget juga dengan antibiotik dan CTM, sambil bertanya anak ibu gak demam dan gak susah tidur kan? Istri saya menjawab iya, dokter bilang “Untungnya Ibu gak konsumsikan obat ini ke anak”, dan diingatkan selama bintik merahnya masih berair jangan diberikan bedak.
Dari dokter, Aiman dibekali racikan puyer dan racikan salep, tentunya dengan biaya yang lumayan karena dokter spesialis anak. Hamdulillah selang sehari bintik merah Aiman mengering dan saat ini sudah sembuh.
Dari kejadian diatas saya hanya berharap tidak semua Puskesmas sembarangan dalam memberikan obat, terlebih bagi bayi atau anak-anak. Bagaimana nasib anak-anak kita jika obat yang diberikan jauh dari  sesuai baik jenis maupun dosisnya. Mungkin pembaca tahu bahayanya mengkonsumsi obat kimia terlebih bagi bayi, apalagi jika itu obat yang salah. Bisa jadi SDM kita rendah karena sedari dini salah dan kelebihan dosis obat. Bagi orang tua wajib rewel untuk menanyakan jenis, dosis dan kegunaan obat yang diberikan dokter, lebih baik letih mengkonfirmasi dan tidak disukai apoteker daripada salah dalam memberikan obat.

Puskesmas adalah rujukan pertama masyarakat dalam urusan kesehatan, apalagi bagi yang tidak mampu. Jika pelayanan tidak maksimal, terjadi kekeliruan dalam pemberian obat bagaiamana dengan kualitas kesehatan masyarakat, bukan sembuh bisa jadi semakin parah atau terjangkit jenis penyakit baru. Toh tidak semua masyarakat mampu berobat ke rumah sakit bonafid atau dokter spesialis. Jangan sampai berobat murah/ gratis di Puskesmas, mendaptkan kualitas layanan dan obat yang juga murahan.***

3 comments

  1. vira
  2. tiara

Leave a Reply

Sketsa